tadarrusan-ala-rasulullah

Ruang Tanya JawabCategory: Questionstadarrusan-ala-rasulullah
Rizki asked 2 months ago

ASSALAMUALAIKUM WRWB. APAKAH DI ZAMAN RASULULLAH SAW DAN SAHABAT ADA KEGIATAN TADARRUSAN SEPERTI YANG DILAKUKAN OLEH KAUM MUSLIMIN SEKARANG INI? MOHON PENJELASAN USTAZ?

1 Answers
Fahrurrozi Dahlan Staff answered 2 months ago

JAWAB:
Perlu kita pahami bersama bahwa Tadarrus itu memiliki makna sebagai berikut:
Tadarrus diambil dari kata Darasa: berarti belajar, kemudian ditambahkan hurufnya lagi menjadi Tadarrasa-yang bermakna banyak belajar dan akhirnya bisa. Jadi Tadarrus al-Qur’an artinya, membaca dan mempelajari al-Quran dengan penuh keseriusan dan kesungguhan, sehingga al-Qur’an bukan saja dibaca tapi dipelajari dengan maksimal. Itu makna yang terkandung dalam kata Tadarrus.
Bisa juga kita pahami kata tadarrus itu bermakna Tadarasa-Yatadarasu-Tadarusan: dengan arti saling mempelajari satu dengan yang lain. artinya, di saat kita tadarrus al-Qur’an, pembaca saling menyimak bacaan dengan yang lain, sehingga tadarrus itu menjadi ajang saling memberikan pelajaran kepada satu dengan yang lain.
Kembali ke persoalan, tadarrus terjadi pada diri Rasulullah, dimana rasul sendiri menyetor hafalan al-Qur’annya kepada Malaikat Jibril setiap kali Ramadhan. Ini artinya bahwa rasul juga melaksanakan tadarrus secara rutin baik secar individual maupun secara berkelompon dengan para sahabat Nabi. Nabi sendiri mempertegas bahwa Aktivitas ibadah yang banyak dilakukan Nabi Muhammad selama Ramadan adalah memperbanyak membaca Alquran. Beliau bersabda: “Orang-orang yang berkumpul di masjid dan membaca Alquran, maka kepada mereka Allah akan menurunkan ketenangan batin dan limpahan rahmat” (HR Muslim). Syukurlah, aktivitas tadarrus ini masih banyak dilakukan umat Islam saat ini. Tetapi, sebagian orang mengartikan tadarrus dengan membaca Alquran secara ëpatunganí (secara bergiliran). Yang seperti itu pun ada manfaatnya. Seperti disebutkan dalam hadis: “Barangsiapa membaca satu huruf Alquran, maka pahala untuknya sepuluh kali lipat kebaikan” (HR Tirmidzi).
Namun, membaca dalam konteks hadis di atas, tidak perlu diartikan secara harfiah. Ketenangan batin dan limpahan rahmat akan mungkin lebih bisa dicapai bila tadarrusan diartikan dengan mempelajari, menelaah, dan menikmati Alquran. Sudah saatnya kita tidak lagi membaca Alquran tanpa mengetahui maknanya. Karena bagi kita sudah saatnya untuk mendapatkan arti limpahan rahmat tersebut dari menelaah kandungan isi Alquran.
Sekalipun demikian, memang benar, untuk lapisan masyarakat tertentu, suasana yang dipantulkan oleh malam Ramadan dengan tarawih dan tadarusannya, amat dirasakan sekali manfaatnya dalam menciptakan ketenangan batin. Selain tadarrusan, selama Ramadan, Nabi Muhammad juga memperbanyak sedekah. Seperti dijelaskan dalam hadis: Sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramadan.” (HR Tirmidzi). Bersedekah bukan hanya memberi uang. Tetapi, termasuk di dalamnya memberi pertolongan, mengajak berbuka puasa kepada fakir miskin, memberi perhatian, bahkan memberi seulas senyum pun sudah termasuk suatu sedekah.
Dapat dibayangkan jika konsep “memberi” (secara luas) ini diterapkan secara maksimal, selama Ramadan. Akan luar biasa pengaruhnya pada pribadi kita. Sikap kikir menyingkir, sikap ketergantungan menghilang. Dengan memberi sedekah, setahap demi setahap, harga diri akan meningkat. Sebab, sesungguhnya ketika kita memberi, seseorang akan memperoleh. Dengan demikian, dalam konsep memberi terkandung esensi cinta-kasih.
Al-hasil, bahwa Tadarrus yang dilakukan oleh masyarakat sekarang ini secara substantif mengacu kepada aktivitas Nabi selama bulan Ramadhan, tapi yang perlu dikritisi adalah cara masyarakat yang bertadarrusan, di mana menggunakan pengeras suara sampai tengah malam, yang tidak mera’i masyarakat yang sedang istirahat. Semestinya ada batasan waktu untuk menggunakan pengeras suara sehingga masyarakat tidak terganggu waktu istirahatnya. Mengisi waktu malam dengan tadarrusan itu penting tapi juga harus dijaga bahwa masyarakat kita sangat majemuk sehingga perlu dikedepankan semangat toleransi dan semangat saling menghargai, demi citra Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi semua (rahmatan lilalamin). Waallu a’lam bi al-shawab.