TUJUH KARAKTER ORANG YANG DISEBUT ASSHALIHIN- AL-MUTTAQIN ( الصالحين-المتقين)

TUJUH KARAKTER ORANG YANG DISEBUT ASSHALIHIN- AL-MUTTAQIN ( الصالحين-المتقين)

Tadarrus ayat 113-115 Surat Âli Imrân.

بسم الله الرحمن الرحيم
ليسوا سواء من أهل الكتاب أمة قائمة يتلون آيات الله آنآء اليل وهم يسجدون (١١٣) يؤمنون بالله واليوم الآخر ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر ويسارعون فى الخيرات وأولئك من الصالحين (١١٤) وما يفعلوا من خير فلن يكفروه والله عليم بالمتقين (١١٥)

Dalam ayat ini Allah menyebut empat kelompok utama sekaligus yang menjadi petanda identitas masing-masing:
Pertama: Ahli Kitab, Posisi sangat terhormat pada era sebelum Islam hadir, ahli kitab yang teguh pendiriannya dalam mengamalkan ajaran-ajaran yang diwariskan oleh Nabi Musa-Nabi Isa yang ajarannya termaktub dalam kitab Taurat dan kitab Injil. Ahli kitab sebagai posisi yang punya otoritas menerjemahkan ajaran-ajaran kenabian masa lalu terus selalu mendapatkan tantangan dalam komitmentnya mempertahankan keyakinan mereka sehingga tibanya Islam sebagai Agama Penutup.
Kedua: Ummatun Qoimatun, ummat yang berdiri tegak, ummat yang setia setiap saat, sekelompok komunitas yang tercerahkan, sekelompok generasi yang selalu berbagi kebaikan dalam setiap ruang dan waktu.
Ketiga: Assholihun-orang yang selalu cocok dalam setiap saat dan waktu.Assholihun-orang yang selalu pantas dalam posisi apapun. Assholihun’-orang yang selalu dinamis dalam melihat situasi dan kondisi. Assholihun-orang yang seirama antara perkataan dan perbuatannya. Asshalihun-Generasi yang selalu up to date dengan realitas sosial kehidupan.
Keempat: Al-Muttaqin, orang yang terjaga integritasnya, orang yang terjaga moralitasnya, orang yang terjaga kharismatiknya, orang yang selalu dalam pengawasan Allah agar tak tergelincir dalam kesesatan dan kemaksiatan. Orang yang terpelihara hati dan pikirannya dari hal yang mengganggu orang lain. Orang yang selalu menebar kebaikan dalam setiap waktu.
Kategori empat kelompok itu terpatri pada mereka minimal tujuh karakter dan identitas khas.
Ciri pertama: تالين آيات الله
Pembaca Ayat-ayat Allah, baik ayat yang tersurat, tertulis, termaktub, terdokumentasi dalam lembaran-lembaran suci yang kemudian dibaca dan ditelaah setiap huruf dari kalam suci itu yang kemudian disebut Al-Quran. Pembaca Al-Quran adalah pembaca ayat-ayat Allah dalam setiap derap langkah dan gerakan denyut kehidupannya. Begitu juga pembaca ayat-ayat yang tak tertulis, ayat ayat terbentang luas dalam bentuk alam semesta ini. Pembaca Alam semesta adalah pembaca ayat-ayat Allah. Justru pembaca alam semesta yang terbentang luas ini pahalanya tak bisa mengejar pahala pembaca ayat-ayat yang tertulis, al-Quran, Sebab ayat-ayat al-Quran melebihi seluruh dimensi alam semesta. Allah memberikan penjelasan akan keluasan makna ayat-ayat Allah dalam al-quran, Sekiranya lautan seluas langit dan bumi untuk menjadi tinta penjelas ayat ayat Allah niscaya tak akan pernah bisa tuntas dan usai. Ini artinya ayat al-Quran tak akan pernah habis dikaji dan ditelaah, itu juga sebabnya al-Quran itu mukjizat yang kekal sepanjang masa agar alam semesta ini harus terus dibimbing oleh Al-Quran dalam menggelo alam ini (هدى للناس).
Ciri kedua: وهم يسجدون:
Mereka sujud. Kenapa sujud yang disebut sebagai penanda asshalihin. Gerakan sujud adalah gerakan kehambaan totalitas. Tak ada kata sombong dan angkuh bagi hamba Allah jika sudah sujud. Kewibawaan orang terletak pada wajah dan kepalanya. Kehormatan seseorang terletak pada wajah dan kepalanya. Kecerdasan seseorang terletak pada otak dan kepalanya. Kecantikan dan kegagahan seseorang terfokus pada wajah dan mukanya. Namun manakala mereka sujud, di mana letak kepala dan wajah yang menjadi simbol kemuliaan, kehormatan,kecantikan,kegagahan itu? Ternyata dia tersungkur merunduk mencium tanah yang menjadi asal muasalnya diciptakan. Menjadi pengingat diri akan hakikat awal penciptaannya. Menjadi penyadar diri bahwa manusia itu hina dan lemah, kepala yang diagungkan ternyata lebih rendah posisi dari Pantat yang selalu berada dibawah, diduduki,dikentuti,diberaki, berada pada posisi lebih tinggi dengan wajah dan mukanya. Lantas kenapa harus sombong kepada Allah, manusia tak ubahnya seperti “binatang” yang saat dia makan kepalanya lebih rendah dari pantatnya, lihat cara makanya sapi, ayam, kambing dan lain-lainnya. Ini hanya gambaran akan eksistensi sujud itu adalah simbol kehambaan totalitas. Tak ada ungkapan yang paling mulia manakala seseorang sujud dalam shalatnya, terucap
سبحان ربى الأعلى وبحمده
Maha suci Tuhanku yang maha Tinggi dan Maha mulia.
Sujud adalah refleksi kesadaran totalitas hamba.
Ciri ketiga: يؤمنون بالله
Mereka percaya kepada Allah. Keyakinan akan hakikat Allah pada dirinya menjadi penentu keselamatan dirinya dari segala kemaksiatan dan dosa. Komitment ideologi nya menjadi pondasi utama dalam menyikapi dinamika gelombang kehidupan. Keyakinan kepada Allah menjadi penghantar kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Pantaslah kemudian iman kepada Allah menjadi pokok paling dasar dari segala keimanan yang ada. Sebab semua muara keimanan yang enam itu, iman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab-kitab suci, hari kiamat, qada qadar. Kesemuanya itu muaranya ke yang satu, Allah swt. Sekiranya rukun iman itu disatukan, cukup terkumpul semuanya pada keimanan kepada Allah sebab jika sudah kuat keimanan kepada Allah akan secara otomatis merembah kepada keimanan-keimanan pokok yang lain.
Ciri keempat: يؤمنون باليوم الآخر
Percaya dengan hari akhir. Kenapa dalam banyak ayat dalam al-Quran itu keimanan kepada Allah selalu berbarengan sebutannya dengan keimanan kepada hari akhirat? Jawabanya minimal dapat dilihat dari dua sudut pandang. 1. Segala sesuatunya pasti ada batasnya. Kehidupan itu ada akhirnya, sehingga orang yang percaya akan adanya hari akhir kehidupan pasti mempersiapkan dirinya untuk menghadapinya. 2. Orang yang percaya terhadap hari akhir pasti tak akan pernah berbuat semena-mena di muka bumi ini, karena ada hari kematian yang akan membawanya menuju perkumpulan di alam akhirat. Hari akhir adalah hari penentuan keselamatan kehidupan bagi seluruh alam semesta. Sehingga keimanan akan hari akhir adalah keimanan akan hakikat agama, keimanan akan keberagamaan yang hakiki, itulah makanya hari akhirat disebut dengan yaumiddin (يوم الدين) hari keteguhan terhadap agama Allah. Tak akan selamat di hari akhir nanti jika tak kuat pada agama Allah swt.
Ciri kelima: يأمرون بالمعروف
Orang yang shaleh itu adalah orang yang selalu berinteraksi dengan kebaikan. Orang yang Sholihin itu adalah orang yang selalu menyebar benih peradaban:
المعروف- المعرفى- المعرفة
العرفان-العلوم
Orang yang saleh itu
adalah orang yang selalu berdialektik dengan tradisi yang berkembang di masyarakatnya ( المعروف-العرف-العادة)
Orang yang shaleh itu adalah orang yang dikenal karena kegigihannya dalam membela kebenaran dan kebaikan (المعروف-الخير)
Orang yang shaleh itu adalah orang yang selalu diketahui dan dikenal (رجل معروف) karena kepekaannya terhadap kondisi sosial yang terjadi. Itulah rahasia kenapa Allah menggunakan redaksi- يأمرون بالمعروف
Kenapa tidak menggunakan redaksi lain yang senada dan semakna semisal يأمرون بالخير بالحسنة بالصدق بالصلاح
Karena memang al-makruf adalah ungkapan interaktif global untuk kemanusiaan dan keuniversalan (المعروف-لتعارفوا-التعارف)
Ciri keenam: وينهون عن المنكر
Orang yang shaleh itu adalah orang yang tidak tinggal diam membiarkan kebohongan,kemunafikan,kezhaliman yang semuanya adalah kemunkaran.
Al-munkar-adalah keingkaran terhadap kehendak Allah dan kehendak alam. Allah menghendaki kebaikan tapi dia ingkari maka jadilah kemungkaran. Alam menghendaki kebaikan namun dirusak alam ini oleh oknum yang tak bertanggung jawab jadilah kemungkaran. Al-Munkar adalah muaranya kemurkaan Allah karena ketidak taatan manusia akan khittah Allah swt yang seharusnya ditaati dan dijalankan. Orang yang shaleh tak akan pernah berhenti memberikan pencegahan dan tindakan preventif agar manusia tidak melakukan kejahatan dan kemaksiatan.
Ciri ketujuh:
ويسارعون فى الخيرات
Orang yang shaleh adalah orang yang gemar kepada kebaikan.
Orang yang shaleh adalah orang yang selalu terdepan menjalankan kebaikan demi kebaikan.
Orang yang shaleh itu menjadi pelopor kemajuan karena memiliki sikap yang responsif dan cepat tanggap (السرعة).
Orang yang shaleh itu orang yang selalu berbagi kebaikan, baik kebaikan yang material maupun immaterial.
Orang yang shaleh itu adalah orang yang selalu bersiap siaga dengan penuh keikhlasan dan komitmen untuk memajukan peradaban kemanusiaan menuju keadilan sosial bagi seluruh alam semesta.
Itulah makna al-khairaat itu.
Ketujuh ciri itulah yang kemudian Allah menyebutnya وأولئك من الصالحين

Semoga kita menjadi Hamba Allah yang shaleh. Amin.
Abu Roziqi-

Share this post