TRIPLE DEGREE /TIGA TINGKATAN GELAR AKADEMIK SEKALIGUS KEHORMATAN DALAM TILIKAN SURAT AL-BAQARAH AYAT 1-5

TRIPLE DEGREE /TIGA TINGKATAN GELAR AKADEMIK SEKALIGUS KEHORMATAN DALAM TILIKAN SURAT AL-BAQARAH AYAT 1-5


(UPAYA MERAIH TIGA GELAR MUTTAQUN, MUHTADUN DAN MUFLIHUN)
:Tadarrus Surat al-Baqarah Ayat: 1-5.

بسم الله الرحمن الرحيم
الم ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون والذين يؤمنون بما أنزل اليك وما انزل من قبلك وبالأخرة هم يوقنون أولئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون.
Saudaraku!
Al-Faqir ingin mengajak Saudara untuk lebih Sistematika mengkaji ayat demi ayat dari awal surat al-baqarah ini. Kali ini mari kita kaji dari sisi kebutuhan akademik semua manusia.

Yang al-Faqier maksud dengan Gelar akademik disini adalah gelar yang diperoleh berdasarkan jenjang strata melalui usaha serius di bangku kuliah secara formal namun tidak menutup kemungkinan gelar akademik juga dapat diperoleh melalui penghargaan atas prestasi kinerja yang fungsional di tengah-tengah masyarakat (hounoris causa).
Nah-coba kita lihat spirit akademik yang tertuang dalam surat al-baqarah ini sebagai berikut:

Pertama:Gelar Strata Pertama Al-Muttaqun
Gelar al-muttaqun menjadi starting point bagi gelar-gelar berikutnya di mana kurikulum-kurikulum akademiknya ditata dan disusun secara sistematis oleh Allah Swt dengan tertib dan komprehensif.
A. Mukminuuna bil ghaib (مؤمنون بالغيب)
Keyakinan terhadap yang ghaib menjadi tantangan terberat bagi orang yang mau menjadi taqwa, karena disinilah letak penolakan yang sekeras-kerasnya yang dilakukan oleh orang-orang yang mengingkari akan hari akhir sebagai salah satu yang ghaib yang abstrak yang menurut mereka tak masuk logika. Justru karena paling berat persyaratan taqwa ini, Allah sebutkan paling awal agar hati dan pikiran manusia yang ingin bertaqwa agar lebih siap menerimanya. Disinilah diuji Knowledge (Pengetahuan-nalar logika) – afeksi dan psikomotorik bahkan kinestetik seseorang yang ingin menuju Taqwa.
B. Muqimunaa lisshalat (مقيمون للصلاة)

Level kedua dari kurikulum ketaqwaan itu adalah media pembelajaran yang mengacu pada praktek ibadah. Praktek ibadah yang paling tinggi dalam segala hal adalah shalat. Shalat sebagai media interaksi sufistik transendental antara Hamba sebagai komunikan dengan Allah sebagai komunikee, terjadi proses dialogis intrapersonal bahkan antarpribadi antara Hamba dengan Allah yang maha berbeda dari Makhluknya dalam segala hal. Maka keimanan yang ghaib itu harus diperkuat dengan banyak berinteraksi dan berdialog dengan sang Punyusun Kurikulum ketaqwaan yaitu Allah swt melalui media Shalat.
C. Munfiquuna minarrizqi (منفقون من الرزق)
Level ketiga dari kurikulum ketaqwaan itu adalah kesetiaan dan kesediaan untuk menafkahkan sebagian rizki yang Allah titipkan kepada mereka untuk orang-orang yang sangat membutuhkan uluran tangan.
Level ini adalah lebih tepat ditinjau dari aspek
Afeksi-Afektif sebuah sikap receiving, responding, valuing, organizing, characterization yang tertuang dalam sikap empati, sikap mau berbagi, sikap responsif, sikap memberikan nilai kebajikan dan karakter baik. Maka Zakat, infaq, Sadaqah menjadi prasyarat utama untuk memompa jiwa afeksi calon-calon penerima gelar al-muttaqun itu.

D. Mu’minuuna bil kutub al-munazzalah
(مؤمنون بالكتب المنزلة)
Level keempat ini adalah level penguatan atas penjelasan-penjelasan keimanan dan ketaqwaan secara tertulis dan terdokumentasi. Semua ajaran keimanan, ketaqwaan, kefilantropian, ke-puasa-an tertera rapi tertulis rapi dalam al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya bagi penganut agama sebelum kita umat muslimin. Jadi urgensinya adalah sejauh mana kemampuan calon al-muttaqun itu dapat mengembangkan nalar kognitifnya terhadap Al-Quran sebagai sumber bacaan dan referensi hidayah kesuksesan yang harus mampu Remember, understand, Apply, analyze, evaluate & create. Yang inti kesemuanya itu ada pada titik kemampuan nalar untuk memahami, mengaplikasikan,menganalisa, mengevaluasi dan membuat perubahan pada diri calon penerima gelar al-muttaqun itu.
E. Muuqinuu bil akhirah (موقنون بالآخرة)
Level kelima dari kurikulum ketaqwaan ini adalah terpatrinya sikap psikomotor calon penerima gelar al-muttaqun terhadap dimensi hari akhir. Sebuah keterampilan reflektif untuk mempersiapkan bekal dan modal yang penuh untuk siap menghadapi kehidupan akademik yang lebih berat di luar sana. Kehidupan yang jauh lebih menantang ketimbang dunia akademik ketaqwaan. Sebab di hari akhirlah konsep evaluasi keberhasilan totalitas akan ditentukan.

Kedua:Gelar Stara Kedua Al-Muhtadun

Gelar kedua adalah: أولئك على هدى من ربهم
Gelar al-Muhtadun adalah gelar kelanjutan dari gelar al-muttaqun sebab secara hirarki harus berjenjang dari Strata satu menuju strata dua. Al-muhtadun adalah gelar yang secara konsep telah melekat pengetahuan factual knowledge, conceptual knowledge, procedural knowledge, dan metacognitive Knowledge.
Al-Muhtadun sebagai gelar bagi orang yang telah tercerahkan secara:,
هداية العقل,هداية الحواس, هداية النفس, هداية الدين
Sehingga gelar al-muhtadun tidak bisa tiba-tiba diberikan disematkan tanpa proses al-muttaqun di atas.

Ketiga: Gelar Strata Ketiga Al-Muflihun
وأولئك هم المفلحون
Level ketiga dari proses akademik ketaqwaan itu adalah Al-Muflihun. Sebuah puncak gelar yang selalu didambakan oleh semua insan almuttaqun dan insan almuhtadun. Sebab secara akademik banyak dimiliki oleh orang, cuma apakah mereka sukses dalam menjalankan kehidupan setelahnya itu?
Di sinilah esensi al-falah, yang tertuang dalam ranah Saadah (السعادة ) kebahagian dan ranah al-hasanatain (الحسنتين) kehasanahan duniawi dan kehasanahan ukhrawi. Puncak kemuflihunan seseorang adalah mendapatkan penghormatan dan penghargaan dari Allah yang diwisuda di dalam syurga sembari berjumpa dengan Allah di alam syurgawi
وللحسنى (الجنة) والزيادة (لقاء الله فى الجنة)
Semoga kita meraih al-Husna wa al-ziyadah itu sebagai puncak tertinggi dari segala kebahagiaan. Amin.
Selamat membaca: Jumat 15 Ramadhan 1441 H. 8-5- 2020 M

Share this post