TIGA KRITERIA UJIAN GLOBAL – DUA STRATEGI MENEMPUHNYA-TIGA REWARD & DUA PREDIKAT GELAR

TIGA KRITERIA UJIAN GLOBAL – DUA STRATEGI MENEMPUHNYA-TIGA REWARD & DUA PREDIKAT GELAR


Tadarrus Surat al-Baqarah Ayat 153-157.

بسم الله الرحمن الرحيم
ياأيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين (١٥٣) ولا تقولوا لمن يقتل فى سبيل الله أموات بل أحيآء ولكن لا تشعرون (١٥٤) ولنبلونكم بشيء من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين (١٥٥) ألذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون (١٥٦) أولئك عليهم صلوات من ربهم ورحمة وأولئك هم المهتدون (١٥٧)

Saudaraku!
Ayat ini berbicara tentang Ujian Kehidupan. Maka izinkan saya memulai tulisan ini dengan serangkaian pertanyaan yang kemudian nantinya dijawab sesuai urutan pertanyaan itu.
Pertanyaan pertama: Secara Etimologi, terminologi, dan Filosofis, Apa Makna dari Al-Bala’? Ibtila’? Musibah? Imtihan? Ikhtibar? Apa memang berbeda atau memang sama?
Kedua: Kenapa Allah Menggunakan kata “بشيء” dalam konteks memberikan ujian kepada Manusia? Apakah ujian itu sekaligus atau bertahap ataukah ujian itu berat atau ringan? Ataukah ujian itu banyak atau sedikit?
Ketiga: Apa Makna dari tiga ujian global itu, Al-Khauf, al-Juu’ dan al-Naqsu ( الخوف والجوع والنقص) ?
Keempat: Kenapa harus mengucapkan: إنا لله وإنا إليه راجعون dalam setiap mendapatkan mushibah? Atau bolehkah menggunakan redak si lain selain kalimat istirja’ itu?
Kelima: bagaimana strategi mengatasinya?
Keenam: Apa makna tiga balasan utama berupa:(الصلوات والرحمة والاهتداء)
Ketujuh: Kenapa Dua gelar itu penting disematkan kepada orang yang sukses menempuh ujian kehidupan?.
Nah demikianlah kira-kira soal yang akan dijawab oleh para peserta ujian kehidupan. Di mana nantinya peserta ujian banyak tipologinya: Ada yang tak membawa alat-alat penunjang ujian, ada juga yang tidak memahami soal ujian, ada juga menjawab soal asal-asalan yang penting dijawab, ada juga yang teliti menjawab soal, ada juga yang terlambat jawab soal sehingga hasil ujiannya tentu beragam sesuai tipologi peserta ujian itu.

Mari saya coba mengajak Anda memahami soal-demi soal di atas secara berurutan dan tentu dengan jawaban yang singkat jelas dan padat guna tak melelahkan penguji membaca jawaban itu.

Soal Pertama: Ungkapan Bala’ dalam ayat itu menerangkan sesuatu hal menyangkut keberlangsungan kehidupan manusia. Proses kematengan dalam kehidupan manusia itu melalui Cobaan dan ujian. Cobaan itu sendiri namanya (Bala’) Seperti COVID -19. Kenapa disebut Bala’ karena bisa mengakibatkan kehancuran baik fisik raga maupun psikis. Juga dapat merusak semua tatanan kehidupan alam semesta. Justru itu disebut (baliyyah-بلية-بلوى-بلاء) Sedangkan proses menerima, menempuh, menghadapi balak itu namanya ibtila’ (ابتلاء). Bala’ tidak selamanya negatif, balak juga berdimensi positif, justru itu Allah menggunakan redaksi Walanabluwannakum. Sedangkan segala sesuatu yang membuat orang yang beriman tidak merasa nyaman dan tenang disebut (مصيبة). Sesuai hadis nabi:
روى عكرمة إن مصباح رسول الله صلى الله عليه وسلم إنطفأ ذات ليلة فقال إنا لله وإنا إليه راجعون فقيل أ مصيبة يا رسول الله؟قال نعم كل ما آذى المؤمن فهو مصيبة.
Semua apa yang menyakitkan tak menyenangkan, tidak menggembirakan bagi setiap orang yang beriman disebut Mushibah.
Berdasarkan hadis diatas bisa dipertegas bahwa Bala’ bisa dirasakan oleh semua manusia, sementara Mushibah itu diterima dan dirasakan oleh orang yang beriman.
Sebab juga mushibah itu selalu berorientasi pada hal yang baik (صواب) dan juga dapat mengantarkan si penerima ujian itu meraih kedudukan mulia (منصب) sebagai ekses dari mushibah itu. Mushibah juga terkadang bisa berbentuk hal yang negatif, musibah akibat fitnah dan sejenisnya namun ending akhirnya bermuara pada hikmah kebenaran atas ketetapan Allah berupa musibah itu sendiri.
Ada juga redaksi yang lain, berupa kata imtihan (امتحان) semakna dengan ujian yang diberikan kepada orang yang secara spesifik mendapatkan ujian psikologis. Ujian Rasa dan perasaan, ujian psikotes sebagai akibat dari akan mendapatkan mihnah-mihan محنة-محن beasiswa akibat prestasi yang telah ditempuhnya.

SOAL UJIAN KEDUA: Bagaimana Pola soal ujian kehidupan itu?
Ternyata pola yang diberikan oleh Allah dalam proses meraih kemuliaan dan kesuksesan hidup itu dengan pola بشيء. Pola Gradual dan bertahap sesuai tingkatan kelas dan stratum manusia.
Makna شيء menunjukkan bahwa ujian itu tidak sekaligus, ujian itu dicicil sedikit demi sedikit oleh Allah. Ujian itu ternyata tidak berat namun sangat ringan yang disesuaikan dengan penjenjangan stratum kehidupan kemanusiaan itu.
Kata Syai’ memberikan makna bahwa musibah atau bala’ itu seberat apapun menurut pandangan manusia namun itu masih dalam lingkaran Syai’ شيء yang sangat kecil, ringan, singkat, tidak selamanya, bertahap dan berjenjang. Itu sebabnya alam semesta yang beratpun juga disebut oleh Allah dengan sebutan syai’.
ان الله على كل شيء قدير
إنما أمره اذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون
Lihat kata syai’ itu tetap bermakna segala sesuatunya meski dia nakirah, lafaz general, umum dan sangat kecil dan tak berarti apa-apa di hadapan Allah.
Maka Manusia juga disebut شيء, Malaikat juga شيء , Alam semesta juga syai’. Itulah kesesuaian ungkapan kita, شيء لله لهم الفاتحة
Intinya, Syai’ menjadi pola ujian yang merata diterima oleh seluruh hamba Allah di alam semesta ini.

SOAL UJIAN KETIGA: Apa makna dari tiga macam ujian global itu?
Dalam teori psikologi disebutkan bahwa ada tiga faktor utama penyakit fisikis dan psikis seseorang, faktor ketakutan, kecemasan, kepanikan, kekagetan. Faktor kedua karena kelaparan, ketidakpuasaan, keserakahan, ketamaan. Ketiga: terambilnya segala sesuatu yang dicintainya.
Ketiga hal itu telah dimuat secara global oleh Allah, bahwa muara cobaan kehidupan manusia itu tidak lepas dari tiga perkara itu.
Dalam berbagai literatur seperti kitab asror altanzil wa asror altakwil yang lebih tenar disebut tafsir al-Baidhowi karya Syaikh Nasiruddin Abil Khair Abdillah bin Umar bin Muhammad, halaman 192-195. Juga Kitab Fathul Qadir karya Imam Assyaukani pada halaman193-194. Juga dalam kitab Al-Kassyaf karya Imam Zamakhsyari pada halaman 183-184. Dan juga kitab attafsir almunir atau kitab marah labib tafsir annawawi karya imam Nawawi Al-Jawi Al-bantani pada halaman 55-58 menjelaskan bahwa Tiga Jenis ujian global itu bermakna.
الخوف
Ketakutan: Cobaan yang pertama ini disebut oleh Allah karena ini lah ujian yang paling sering dan paling berat dirasakan oleh Manusia.
Takut akan hilang wibawa
Takut hilang kedudukan dan jabatan
Takut hilang usaha dan bbisnisnya
Takut hilang segala yang dicintainya. Sehingga dengan demikian sumber utama dari kegagalan manusia dalam menapaki kehidupan ini adalah ketakutan. Maka justru itulah Allah menguji manusia dengan Takut agar terbiasa menghadapi cobaan yang lain.
الجوع:
Ujian kelaparan, ujian ekonomi, ujian materi juga menjadi alat instrumen penting dalam kehidupan manusia yang nantinya memperoleh gelar kemuliaan itu.
Al-juu dapat berakibat seseorang tak stabil keimanan dan keikhlasan sekaligus komitmen nya maka ditaruhlah nomor dua menjadi soal ujian bagi manusia.
النقص من الاموال والانفس والثمرات
Ujian Sandang Pangan dan Papan menjadi suatu yang lumrah bagi manusia. Ujian jiwa ujian fisik ujian mental adalah sesuatu yang mesti dilalui oleh seluruh manusia. Maka Allah meletakkan pada posisi ketiga agar manusia lebih siap secara mental dalam menghadapi ujian psikis dan ujian fisik itu.
Lebih tegas Imam Syafii merincikannya berbeda dari penafsiran ulama di atas.
الخوف من الله والجوع صوم رمضان والنقص من الاموال الصدقات والزكوات والنقص من الأنفس الأمراض والنقص من الثمرات موت الأولاد
وعن النبى صلى الله عليه وسلم إذا مات ولد العبد قال للملائكة أقبضتم ثمرة فؤاده فيقولون نعم فيقول الله تعالى ماذا قال عبدى فيقول حمدك واسترجع فيقول الله تعالى إبنوا لعبدى بيتا فى الجنة وسموه بيت الحمد وبشر المؤمنين.
Imam Syafii menegaskan bahwa ujian pertama itu khauf takut kepada Allah. Lafar: dengan ujian puasa Ramadhan. Pengurangan: Harta:diuji dengan Berzakat dan bersedaqah. Kekurangan Jiwa: Diuji dengan berbagai penyakit. Pengurangan Attamarat buah hasil dengan ujian kematian anak sanak famili yang dicintai. Imam Syafii berargumen dengan hadis di atas. Dimana Tsamarat diartikan dengan Anak dan keluarga yang dicintainya.

SOAL UJIAN KEEMPAT:Kenapa harus mengucapkan Innalillah dan apakah boleh dengan lafazh lain?
Pendapat Sahabat Said Bin Jarir:
لم تعط هذه الكلمات نبيا فبل نبينا
Lafah inna lillahi ini adalah ungkapan khas nabi Nabi Muhammad dan ummat nabi muhammad yang tidak diberikan kepada ummat sebelumnya. Kenapa ini disebut langsung oleh Allah? Karena kalimat ini sangat lengkap dan sempurna. Di mana dua penggalan kalimat inilah tempat rahasia utamanya.
إنا لله اقرار بالعبودية والملك
وإنا اليه راجعون إقرار بالهلك على أنفسنا والبعث من القبور واليقين أن رجوع الأمر كله الى الله.
Makna inna lillah menggambarkan pengakuan akan kehambaan diri dan kepemilikan kekuasaan hanya milik Allah.
Sementara wainna ilahi rojiun menggambarkan pengakuan akan sirnanya ragawi manusia dan kebangkitan dari alam barzah serta keyakinan akan kembalinya segala persoalan hanya kepada Allah swt.
Itulah rahasia kenapa kalimat istirja itu tak tergantikan dengan kalimat lain.

SOAL UJIAN KELIMA: Bagaimana strategi mengatasi tiga ujian besar itu?
Ada tiga kunci soal ujian untuk dapat menjalani ujian itu dengan baik dan benar.
Pertama: الإستعانة
Mohon pertolongan ada usaha untuk mempersiapkan diri sebelum menjalankan dan mengerjakan soal ujian kehidupan itu. Mempersiapkan segala instrumen dan kelengkapan yang harus diupayakan sebelum melakukan pekerjaan pokok berupa Sabar dan Shalat sebagai kunci jawaban yang pokok.
Kedua: الصبر
Kesabaran dalam segala dimensi nya menjadi penentu seseorang bisa lulus ujian kehidupan kemanusiaan nantinya.
Ketiga: الصلاة
Medium utama sebagai penenang dalam ketakutan, medium berkeluh kesah atas segala cobaan hidup. Medium ikatan bathiniyyah dengan sang pemberi ketenangan hidup.

SOAL KEENAM:Apa makna tiga reward itu.
Ada tiga keistimewaan yang Allah berikan kepada orang yang telah selesaikan ujian global itu.
Pertama: الصلوات
Shalawat dengan redaksi plural menunjukkan fasilitas keistimewaan diberikan dari berbagai penjuru. Shalawat itu bermakna jika diuji dengan ketakutan Allah tenangkan hatinya dengan kebaikan dan ketenangan.
Jika kekurangan harta benda Allah berikan Shalawat berupa amplop yang berisi uang rizki yang tak terduga. Maka itu sebabnya masyarakat menyebutnya Shalawat dalam makna amplop berisi rizki uang dan sejenisnya.
Kedua: Rahmat dalam makna yang sangat luas. Rahmat kasih sayang Allah. Rahmat dalam bentuk kesuksesan dan keberhasilan dalam bisnis, usaha, karir, dan sejenisnya.
Ketiga: Al-Ihda’-Alhidayah. Potensi untuk mempergunakan kelebihan diri untuk mencapai asa dan harapan dalam hidupnya. Hidayah inilah yang disebut oleh Sahabat Umar bin Khattab dengan ungkapan:
قال عمر بن الخطاب نعم العدلان ونعم العلاوة. انما العدلان الصلوات من الله ورحمته والعلاوة الإهتداء.
Dua Keseimbangan hidup. Shalawat dan rahmat dari Allah dan Satu Alawah kelebihan tambahan berupa bimbingan dan arahan.

SOAL UJIAN KETUJUH: Kenapa Dua gelar ini disematkan.
Dua gelar ini adalah Asshabirun dan al-muhtadun. Gelar الصابرون yang tak tertandingi tunjangan kehormatannya dibanding dengan gelar yang lain.
إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب.. الآية
Sesungguhnya gelar kesabaran mendapatkan tunjangan kehormatan dengan tak bisa dikalkulasikan.
Sedangkan al-Muhtadun sebagai gelar yang selalu produktif dalam menjalankannya rutinitas kehidupan sebab selalu mendapatkan bimbingan khusus dari Allah jika kendor dalam berkarya berdedikasi dan beramal shaleh.
Demikian uraian singkat dari tadarrus kita saat ini.
Edisi Ramadhan. Ahad 23 Ramadhan 1441 / 17 Mei 2020. Semoga bermanfaat

Share this post