SIMPANAN PERBENDAHARAAN PALING BERHARGA BAGI MUSLIM-MUKMIN DI SYURGA DAN ARASY ALLAH.

SIMPANAN PERBENDAHARAAN PALING BERHARGA BAGI MUSLIM-MUKMIN DI SYURGA DAN ARASY ALLAH.

(Menelisik 22 Keagungan dan Keutamaan TIGA Ayat Penutup Surat al-Baqarah: Ayat 284-285 & 286.

بسم الله الرحمن الرحيم.
لله ما فى السماوات وما فى الأرض وإن تبدوا ما فى أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به ألله فيغفر لمن يشاء ويعذب من يشاء والله على كل شيء قدير (٢٨٤) آمن الرسول بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كل آمن بالله وملائكته وكتبه ورسله لا نفرق بين أحد من رسله وقالوا سمعنا وأطعنا غفرانك ربنا وإليك المصير. (٢٨٥) لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا لا تحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا ما لاطاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا على القوم الكافرين. (٢٨٦).

Saudaraku!
Izinkan saya mengawali ulasan makna dari ayat di atas dengan hadis Nabi Muhammad Saw yang menjelaskan tentang keutamaan dua ayat terakhir surat al-Baqarah ini:
قال صلى الله عليه وسلم : من قرأالآيتين من آخر سورة البقرة فى ليلة كفتاه. (رواه البخارى فى كتاب فضائل القرآن (٥٠١٠) ومسلم فى كتاب لمسافرين (٨٠٧)
وعنه صلى الله عليه وسلم أوتيت خواتيم سورة البقرة من كنز تحت العرش لم يؤتهن نبي قبلى (رواه أحمد والحاكم فى المستدرك ١/٥٦٢ والبيهقى فى شعب الإيمان (٢٤٠٢)
وعنه أنزل الله آيتين من كنوز الجنة كتبهما الرحمن بيده قبل أن يخلق الخلق بألفى سنة من قرأهما بعد العشاء الآخرة أجزأتاه عن قيام الليل. (قال ابن حجر فى الكاف الشاف ١/١٦٨)
وعنه صلى الله عليه وسلم السورة التى تذكر فيها البقرة فتعلموها فإن تعلمها بركة تركها حسرة ولن تستطيعها البطلة قيل وما البطلة؟ قال السحرة (قال ابن حجر من حديث ابى سعيد الخدرى. وفى صحيح مسلم من حديث أبى أمامة مرفوعا.)
Maknanya: Siapa saja membaca dua ayat di akhir surat al-Baqarah pada malam hari niscaya terpelihara sepanjang malam.
Dari Nabi bahwa beliau berucap, Saya diberikan penutup surat al-Baqarah yang berasal dari perbendaharaan Arasy yang tak pernah diberikan kepada nabi sebelum aku.
Dari Nabi Muhammad saw bersabda Allah swt menurunkan dua ayat dari perbendaharaan syurga Allah menentapkan kedua ayat ini dengan tangan Kekuasaan-Nya sebelum menciptakan makhluk 2000 tahun jaraknya.Siapa saja yang membacanya setelah Isya’ akhir- maka dapat mencukupinya untuk tidak bangun malam.
Dari Nabi Muhammad Saw bersabda, Surat yang disebut di dalamnya al-Baqarah bagaikan Kemah /payungnya Al-Quran maka pelajarilah karena sesungguhnya mempelajari surat ini ada keberkahan dan meninggalkan mempelajarinya menjadi penyesalan dan kerugian dan tak akan bisa dimasuki oleh sihirnya para penyihir.

Demikianlah untaian Rasulullah tentang dua ayat penutup surat al-baqarah ini.
Pertanyaannya kemudian, kenapa dua ayat ini begitu istimewa?

Mari saya ajak Anda berselancar mengarungi lautan hikmah dari ayat ini.

Pertama: Sebelum dua ayat ini Allah memulaikannya dengan Lillahi maa fissamawaati….. Ternyata dalam ayat ini mengandung lima hal penting:

  1. Al-Ibda’ (الإبداء) memunculkan atau mengutarakan apa yan ada di dalam hati. Ungkapan ini memberikan penjelasan bahwa manusia selalu memiliki hal yang diingin tampakkan kepermukaan baik untuk tujuan yang positif maupun tujuan yang negatif. Namun semua itu muaranya adalah ketergantungan manusia kepada yang memiliki segalanya. Allah. Sejauh mana keterikatan hatinya sejauh itu pula kebajikan dan kebaikan yang akan dia tampakkan. Sebaliknya jika jauh hatinya dari Allah maka akan tampak kejelekan dan keburukannya yang lebih dominan.
  2. Al-Ikhfa’-(الإخفاء): menyembunyikan atau merahasiakan sesuatu. Karakter manusia sering tak mau diketahui segala rahasianya atau keinginannya. Medium untuk mengungkapkan rahasia itulah yang dimediasi oleh doa-doa suci yang terpanjatkan kehadirat Ilahi.
  3. Al-Muhasabah – (المحاسبة)- introspeksi diri, menginsafi diri, mengkalkulasi kualitas diri, menghisabi diri sendiri. Ini penting untuk dilakukan oleh semua insan agar memahami posisi dirinya di hadapan Allah, di hadapan sesama hamba Allah.
  4. Al-Ghufron-الغفران – Pengampunan Allah. Orang yang mampu merefleksikan dirinya baik secara terang-terangan maupun tersembunyi sembari merenungi kekurangan diri. Allah menyediakan fasilitas pengampunan dan keberkahan.
    5.Al-Azab (العذاب). Siksaan. Orang yang tak mau insaf diri selalu congkak, selalu pamer diri alias riya kemudian tak pernah mau berbuat kebajikan. Allah swt dengan keadilanNya memberikan siksaan bagi mereka yang berkarakter jahat.
    Itulah ringkasan makna pada ayat 284 dari surat al-Baqarah ini. Sekarang saya ajak Anda menuju dua ayat esensi dari surat al-Baqarah ini.
    Pada ayat 285 -286 ini minimal dapat dipetik 17 intisari yang terkandung di dalamnya:
  5. Al-Iman : الإيمان : Keimanan yang direfresentasikan oleh Rasul Nabi Muhammad saw sebagai pencetus dan pembuka keimanan baru disusul oleh Ummatnya yang al-mukminun. Gambaran ini menjadi utama surat ini bagaimana Allah menjelaskan sisi keimanan Rasul-Nya dan Orang yang percaya kehadirat-Nya. Maka pantas ayat ini teristimewa karena ada iklan dan pengumuman resmi dari Allah kepada Nabi dan Ummatnya akan keberimanan kepada Allah, Malaikat, kitab suci dan hari akhirat.
  6. Keimanan dan penghormatan yang sama dan seimbang kepada para rasul- عدم الفرق والتفريق بين الرسل أجمعين
    Dimensi keberimanan dan penghormatan kepada para nabi itu sangat proporsional tak dibeda-bedakan antara Nabi Adam dengan Nabi Isa, Nabi Musa dengan Nabi Isa Nabi Ibrahim dengan Nabi Muhammad. Yang semua para nabi ini adalah Hamba Allah, utusan Allah, penyebar ketauhidan dan penyebar kedamaian. Sikap keimanan dan penghormatan ini menjadi ciri keistimewaan dari ayat ini. Sehingga suatu yang patut diyakini betapa pentingnya menghormati perbedaan itu dan menghargai orang lain. Ayat ini keistimewaan terbaca pada sisi ini.
  7. Konsep Kesetiaan dan ketaatan: السمع والطاعة
    Rahasia dari dua ayat ini juga terletak pada dua ungkapan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. وقالوا سمعنا وأطعنا
    Assam’u merupakan kepatuhan Akal empiris – rasional seseorang menerima perintah dan amanah. Sikap assam’u sebagai ungkapan kesempurnaan akal pikirannya dalam menggapai kesempurnaan iman. Logika yang dimilikinya digunakan untuk merekonstruksi dan merenungi jati dirinya sebagai hamba Allah. Baru kemudian dilanjutkan dengan ketaatan untuk menjalankan apa yang dipikirkan itu apa yang ditangkap oleh logika pikiriannya meski terkadang logikanya tak menerimanya namun ketaatan akan perintah Allah menjadi sesuatu yang final dan tak perlu didiskusikan oleh logikanya sendiri. Di sinilah hakikat Samikna wa athokna itu.
  8. Pengampunan-غفرانك
    Ternyata untuk mendapatkan pengampunan Allah itu harus diawali oleh dua hal di atas-keimanan dan ketaatan. Pengampunan Allah sangat berbanding lurus dengan keimanan seseorang dan ketaatan dan kepatuhan. Jika beriman kemudian imannya dibuktikan dengan ketaatan terhadap perintah Allah dan kepatuhan menjauhi larangan Allah. Maka disitulah curahan pengampunan Allah yang tak terbilang bagi hamba-Nya.
  9. Tak ada pembebanan-
    (و عدم التكليف و عدم التكلف)
    Rahasia berikutnya adalah ketiadaan pembebanan terhadap pelaksanaan ibadah kepada Hamba Allah jika tak punya kemampuan. Syariat Allah tidak dibebankan kepada siapa saja yang tak mampu melakukannya baik karena faktor fisik, faktor materi, faktor jarak dan waktu maupun faktor-faktor situasi dan kondisi kemanusiaan. Inilah keistimewaan Beragama, tak ada pemaksaan dalam melaksanakan sangat ditentukan oleh seberapa mampunya manusia beriman ini melakukan dengan baik. Terlebih ibadah saat ada wabah dan balak, tentu sangat kondisional dan situasional. (الحكم يدور مع العلة وجودا وعدما)
  10. Al-Wus’u-الوسع- kemampuan dan kekuatan.
    Batasan ketaatan dan ketaatan itu adalah pada konteks al-Wus’u. Dalam dimensi keluasan waktu, kemampuan beradaptasi, kemampuan mengendalikannya diri, kemampuan memecahkan kondisi sulit. Itulah makna dari al-wus’u itu yang lebih luas maknanya dari sekedar al-Thooqoh (الطاقة) maupun al-quwwah.
  11. Usaha opfimal-al-kasbu wal iktisab (الكسب والاكتساب
    Segala amaliyah kemanusiaan itu tergantung pada posisi usaha ikhtiar dan alkasab. Usaha itu tentu ada dua orientasi. Al-kasbu yang positif dengan cara yang positif yang kemudian Allah menyebutnya dengan. لها ما كسبت
    Atau usaha yang negatif dengan cara yang negatif – وعليها مااكتسبت. Di sini ada dua istilah penyebutan. Usaha positif disebut al-kasab karena kebaikan yang diusahakan pasti bersama malaikat dan Allah yang meridhoi. Sementara usaha negatif pasti ada campurtangan hawa nafsu dan syaitan terkutuk. Sehingga dapat disimpulkan bahwa usaha kebaikan pasti datang dari diri pelakunya dan bimbingan Allah swt. Sementara pelaku kejahatan datang dari dirinya sendiri dan digoda oleh syaitan. Ini rahasia ayat ini juga.
  12. Addu’a-الدعاء
    Pada ayat 286 akhir ini merupakan saripati dari ayat ini yang mencakup enam doa permohonan:
  13. Permohonan ketiadaan siksaan- عدم الأخذ
    Karena dua sebab, karena Lupa atau karena keteledoran dan kehilafan.
  14. Kealfaan (النسيان) kekhilafan (الخطاء)
    Dua sisi ini menjelaskan sifat dan watak manusia yang tak sempurna. Pasti ada sisi kekurangan yang disebabkan oleh faktor daya ingat dan faktor kesadaran. Jika ingat dan sadar tentu tak akan lalai dan salah dalam menjalankan tugas pengabdian yang diberikan oleh Allah swt.
  15. Tak Ada pembebanan seperti ummat terdahulu. عدم حمل الإصر.
    Inilah keistimewaan ummat Nabi Muhammad saw bahwa dosa yang diperbuat oleh ummatnya tidak langsung diberi sangsi diberi balasan siksaan yang kemudian Allah sebut dengan Al-Ishro. Beban siksaan langsung bagi ummat terdahulu di dunia tidak diberikan kepada ummat Nabi Muhammad kecuali nanti di akhirat.
  16. Tak ada pembebanan jika tak ada kemampuan- عدم الطاقة فى الحمل
    Munajat hamba yang tulus ikhlas itu tertera pada ungkapannya Ya Allah jangan bebani sesuatu yang diluar kemampuan kami. Ungkapan kesadaran akan hakikat diri yang lemah dan tak berdaya. Kesadaran ini akan menghilangkan penyakit kesombongan dan kecongkakan. Maka berdoalah sesering mungkin dengan doa dalam ayat ini. Seolah-olah itu pesan Nabi Muhammad saw.
  17. Permohonan maaf-واعف عنا
    Dimensi kemaafan adalah sesuatu yang niscaya bagi hamba yang selalu khilaf dan salah. Al-afwu dengan permohonan agar fisik tidak lagi salah karena karena kurang afiyah (العافية) kurang afiyah pada fisik, akal, dan hati. Sehingga al-afwu dan al-afiyah itu dua hal yang selalu dipinta manusia.
  18. Permohonan pengampunan dosa-واغفر لنا
    Pengampunan dosa identik dengan al-gufron. الغفران-المغفرة) Pengkhususan ini sangatlah bijak karena manusia sering berbuat dosa dan noda sehingga Allah mensifati diriNya dengan Al-afwu al-gahfur-al-ghoffar-attawwab. Maknanya adalah manusia tak ada yang suci bersih semua ada sisi kemanusiaan yang kurang. Jika dia kurang tapi disempurnakan dan ditutup oleh Allah jadilah manusia yang maksum dari dosa dan noda seperti para nabi dan rasul. Begitu juga bagi manusia yang bukan nabi dan rasul yang dipelihara dan dijaga dalam bentuk al-hirsu wal istiaanah wal mauunah. Namun semua itu berkewajiban memohon pengampunan Allah sebagaimana Nabi Beristighfar 100 kali setiap hari.
  19. Permohonan kerahiman kasih-sayang. وارحمنا. Rahman rahim Allah swt memang tak dibatasi ruang dan waktu sebab Allah menyebutnya rahmat kasih sayangku meluasi segala-galanya. Hamba yang beriman tentu membutuhkan dan mengharapkan Trio rahmat Allah yang paling agung: Rahmat Kebaikan duniawi – Rahmat kebaikan ukhrowi dan rahmat terjaga dari siksa neraka.
  20. Pengakuan Allah sebagai Pelindung ( أنت مولانا)
    Manusia dalam segala keadaannya baik kondisi normal maupun tak normal pasti merasa pada dirinya ketergantungan pada yang maha kuasa. Tak ubahnya manusia memerlukan bantuan orang lain dalam segala hal. Pengakuan Hamba akan Allah sebagai pelingdungnya merupakan penghambaan yang paling tinggi karena antara Maulana dengan hamba yang tak kuasa memerdekakan diri dari ketergantungan pertolongan dan perlindungan.
  21. Permohonan pertolongan ( فانصرنا على القوم الكافرين).
    Ending akhir ayat ini adalah permohonan pertolongan kepada Allah atas gangguan dan rong-rongan kaum kafir. Ini diakhiri dengan doa perlindungan terhadap kaum kafir karena yang nyata dan terlihat sekaligus berinteraksi langsung sehingga patut untuk terus berlindung dari segala tipudaya kekafiran dalam segala bentuk dan penampakannya. Kekafiran akibat nikmat yang diberi ataukah akibat aqidah yang salah ataukah ibadah yang tak karena Allah.
    Inilah 23 hikmah keistimewaan dari penutup surat Al-baqarah ini sehingga pantas disebut sebagai:
    Pemberian Spesial untuk Nabi Muhammad dan Ummatnya.
    Sebagai Al-Kifayah-Penjaga dari kejahatan.
    Sebagai al-himayah-pelindung dari kesesatan.
    Sebagai Fisthothil quran: Kemah Payunhnya Al-qur’an.
    Sebagai pencukup ibadah malam
    Dan terakhir Sebagai perbendaharaan Aras Allah dan Sebagai Perbendaharaan Syurganya Allah.
    Semoga kita dapat mengamalkannya dengan sempurna. Amin.. Edisi membersamai keluarga kecilku dalam meraih lailatul Qadr pada Rabu 27 Ramadahan 1441 H. 19 Mei 2020 M. Abu Roziqi. El-Roziqina.

Share this post