SEMBILAN PROSES PENGAJUAN PANGKAT/GOLONGAN DAN JABATAN BAGI ORANG MUSLIM & MUKMIN (Tadarrus Surat Attaubah: 112)

SEMBILAN PROSES PENGAJUAN PANGKAT/GOLONGAN DAN JABATAN BAGI ORANG MUSLIM & MUKMIN (Tadarrus Surat Attaubah: 112)

بسم الله الرحمن الرحيم
التائبون العابدون الحامدون السائحون الراكعون الساجدون الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر والحافظون لحدود الله وبشر المؤمنين.. الأية.

Saudaraku!
Kenapa Perlu Proses Kenaikan pangkat dan Golongan bagi orang yang beriman itu?

Mungkin jawabannya karena Kita masih miskin, terbelakang, tak ada etos kerja, malas, kegagalan demi kegagalan, karena masih berkutat pada derajat muslim belum merangkak ke derajat mukmin. Coba perhatikan cuplikan dialog Syaikh Mutawalli Sya’rowi berikut ini:
Suatu saat Syaikh Mutawalli Sya’rowy bercerita: Pada saat saya berada di SanPransisco salah seorang Orientalis bertanya Kepada saya, “Apakah Semua apa yang ada dan segala yang diceritakan dalam al-Quran-mu benar?
Syaikh Mutawalli Sya’rowy menjawab dengan penuh optimisme. Benar Semua yang ada di dalam al-Quran itu benar.
Sang Orientalis balik tanya: Kalau begitu kenapa orang kafir masih ada jalan menipu daya kalian-Masih ada peluang untuk memperdayakan kalian, Padahal Dalam al-Quranmu menjelaskan:
ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا.
Allah Tidak akan menjadikan bagi orang kafir terhadap orang yang mukmin jalan sedikitpun.
Syaikh Mutawalli Sya’rowy menjawab: Yaa karena kita masih Muslim belum menjadi mukmin.
Sang Orientalis bertanya lagi: Apa beda orang muslim dengan orang mukmin?
Syaikh Mutawalli Sya’rowy menjawab:
Orang muslim saat ini menunaikan/ melaksanakan semua syiar-syiar agama Allah seperti shalat, puasa ramadhan, zakat, haji dan seterusnya dari berbagai macam ibadah yang lain.. Tapi sayang mereka dalam keadaan rugi dan gagal total. Gagal dalam aspek ilmu pengetahuan. Gagal dalam aspek ekonomi. Gagal dalam aspek pergumulan global. Gagal dalam aspek pertahanan. kemiliteran.dan sebagainya.
Sang Orientalis bertanya kok bisa gagal total begitu?
Syaikh Mutawalli Sya’rowi menjawab. Ayo kita perhatikan penjelasan Allah dalam al-Quran. Ternyata kita belum beranjak dari derajat muslim menuju derajat mukmin.
Coba perhatikan ayat-ayat berikut ini:!
Seandainya mereka benar-benar menjadi orang mukmin pasti pertolongan Allah akan tercurahkan kepada mereka.
وكان حقا علينا نصر المؤمنين. الروم: ٤٧
Seandainya mereka benar-benar menjadi mukmin niscaya akan berkontribusi besar terhadap kemajuan peradaban kebangsaan dan keummatan.
ولا تهنوا ولا تحزنوا و أنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين (ال عمران :١٣)
Jangan Kamu merasa rendah diri jangan kamu merasa sedih sementara Anda punya posisi terhormat dan bermartabat jika kalian menjadi orang yang mukmin. Q. S. Ali Imran: 13).
Akan tetapi mereka masih belum bergerak dari level muslim menuju level mukmin. Sebab harus lebih banyak orang yang berlevel mukmin daripada level muslim.
Siapa sesungguhnya orang yang berlevel Mukmin?
Mari kita lihat proses dan pangkat golongan orang yang telah meraih gelar akademik dan jabatan tertinggi dalam level Mukmin itu:
Proses dan pengkat itu terjawab dalam Jawaban Allah pada surat Attaubah ayat 112:
التائبون العابدون الحامدون السائحون الراكعون الساجدون الآمرون بالمعروف والناهون عن المنكر والحافظون لحدود الله وبشر المؤمنين… التوبة:١١٢)
Pangkat dan golongan Orang-orang Mukmin itu ada sembilan:

PERTAMA: Attaibun: التائبون
Kenapa Taubat menjadi level pangkat pertama?
Karena siapapun orang yang ingin naik pangkat dan golongan tentu harus berangkat dari keinsafan dirinya, kesadaran diri, kesiapan dirinya, kekurangan dirinya, sebab esensi taubat adalah membentuk karakter Orang yang tetap introspeksi diri, tetap sadar diri untuk terus meraih kesempurnaan dan meraih prestasi yang lebih baik. Maka Attaibuun orang yang beranjak dari kegagalan meraih fahala menuju proses pelatihan dan pembimbingan sekaligus pembinaan menuju pangkat dan golongan berikutnya.

KEDUA: العابدون
Level pangkat kedua adalah level abid. Abdi yang dalam makna yang sangat luas. Abdi sebagai tolok ukur dedikasi dan pengorbanan. Maka logikanya adalah orang tidak akan mendapatkan reward atau gaji jika tidak ada bukti pengabdian dan pengorbanan. Sejatinya sikap pengabdi itu terletak dalam keikhlasannya menjalankan tugas pengabdian baik kepada Allah dan kepada Masyarakat secara keseluruhan.
Al-abidun: orang yang komitment dalam pengabdian.
الذين عبدوا الله مخلصين له الدين (تفسير البيضاوى ص:٢٦٤)

KETIGA:Al-Hamidun: الحامدون
الحامدون لنعمآئه أو لما نابهم من السراء والضراء (تفسير البيضاوى ص:٢٦٤ ج. ٣)
Level Ketiga ini adalah cerminan kesuksesan bagi siapa saja yang mampu menghargai dan mengapresiasi tugas dan fungsinya.
Level ini memang tidak gampang untuk diterapkan sebab banyak orang tidak bisa mengapresiasi hasil dan prestasi orang lain. Maka Watak dan karakter orang al-hamidun inilah orang yang terus melejit karirnya karena selalu apresiatif dalam segala situasi dan kondisi. Intinya: Orang yang selalu responsif dan positif thinking dalam menggapai kesuksesan kini dan nanti.

KEEMPAT:Assaihun: السائحون

Level keempat ini minimal dua penafsiran makna.
Pertama:
السائحون الصائمون لقوله صلى الله عليه وسلم سياحة أمتى الصوم. شبه به لأنه يعوق عن الشهوات أو لأنه رياضة نفسانية يتوصل بها الى الإطلاع على حفايا الملك والملكوت (تفسير البيضاوى ص ٢٦٤)
Assaihun itu adalah orang-orang yang berpuasa. Berdasarkan Hadis nabi menjelaskan Siyahah (Berselancarnya) ummatku adalah dengan ibadah Puasa. Dianalogikan seperti itu agar orang dapat mengekang hawa nafsu atau sebagai olahraga rohani psikis yang dapat mengantarkan seseorang untuk sampai meneropong hal hal yang tersembunyi dari hakikat ketuhanan dan keilahiyatan.
Kedua: السائحون للجهاد ولطلب العلم
Orang yang berselancar dalam dimensi spiritualitas yang tinggi.
Assaih adalah karakter petualangan seseorang untuk mencapai tingkatan demi tingkatan karir akademik maupun non akademik. Sebab tak akan tercapai itu semua jika tidak ada upaya untuk menceburkan diri dalam rutinitas keilmuan dan riset ilmiah yang nantinya bermanfaat untuk orang banyak.

KELIMA: AR-RAKIUN: الراكعون
Level kelima adalah level Rukuk. Kenapa ini menjadi level yang sangat penting dalam menuju mukmin paripurna?
Dimensi Rukuk adalah dimensi keseimbangan dalam menggapai hakikat kehidupan. Dimensi kepala dan pantat sejajar dalam menggapai kebahagian dan kesehatan. Maka orang yang sempurna rukuknya sesungguhnya orang yang sempurna kehormatannya dan kewibawaannya. Sebab orang yang rukuk hormat takziem kepada Allah. Dan konsentrasi kepada arah tujuan yang ingin diraihnya.
Filosofis rukuk ini tak ubahnya bagi yang mengurus kepangkatan harus mengerti SOP dan mekanisme yang berlaku sehingga prosesnya berjalan seimbang dan terarah.

KEENAM:Assajidun: الساجدون
Level keenam adalah level ketundukan dan kepatuhan terhadap aturan main dalam segala dimensi kehidupan.
Orang yang sujud di saat shalat memberikan pembelajaran bahwa orang itu setinggi apapun posisinya pasti membutuhkan bantuan dan pertolongan orang lain. Maka sudah semestinya orang harus patuh dan tunduk secara totalitas dalam meraih kemenangan dan kebaikan material maupun kebaikan spritual. Intinya Orang yang tunduk tindih tak ada rasa keangkuhan dan kesombongan.

KETUJUH: الآمرون بالمعروف
Level ketujuh adalah level keaktifan dalam menyebar kebermanfaatan dan kebaikan kepada semua orang. Penyebar kebaikan harus memahami kode etik dari batasan makruf itu.
Makruf harus didasari dengan al-makrifah dengan pengetahuan yang benar dan komprehensif sehingga penyebar kebaikan itu menjadi lebih Arif (العارف) dalam melihat dinamika sosial kebudayaan dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat (العرف) sehingga akhirnya melahirkan al-makrifah= peradaban intelektual dan al-Taaruf al-makrafi ( التعارف المعرفى) pengenalan dan interaksi peradaban.
Al-aamirun bil Makruuf: Orang yang pro aktif dalam menyebarkan kebaikan dan peradaban.

KEDELAPAN:الناهون عن المنكر
Level kedelapan ini harus terus bersinergi dengan level ketujuh di atas sebab dalam dinamika sosial kemasyarakatan pasti terjadi distrufsi kesalahan personal, komunal, institusional bahkan sosial. Maka diperlukan tindakan preventif dan advokatif agar tidak terjerumus dalam kesalahan fatalitas dan kegagalan totalitas. Intinya:Annaahuuna anil munkar: orang yang aktif mencegah destrupsi, dekadensi moralitas dan kriminalitas.

KESEMBILAN: الحافظون لحدود الله
Level terakhir adalah yang menjaga batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar dalam segala aspek kehidupan, baik kehidupan beragama, berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
Level terakhir ini adalah level kepatuhan terhadap semua rambu rambu hukum dan aturan yang telah diterbitkan dan ditetapkan oleh Allah swt sehingga akhirnya mendapatkan bisyarah kabar baik, kabar tunjangan kehormatan dari hasil kerja dan kinerja kita sendiri.
Alhafizuun li hududillah: orang komitment menjaga ketetapan Allah dan aturan kemanusiaan yang ditentukan oleh Allah.
Orang inilah yang pantas mendapatkan kabar gembira berupa kesuksesan dalam segala aspek. Merekalah Orang yang mukmin.

Demikianlah beda orang yang muslim dengan orang mukmin. Kita harus berupaya untuk menjadi mukmin yang totalitas agar tetap kita memperoleh kesuksesan.
Meski Allah menghendaki kita menghadap kehadiratnya nanti meskipun dalam level yang paling rendah. Level muslim karena Allah maha rahman rahim kepada hambaNya.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا لله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون…..
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Ramadhan Kariem: Jumat 22 Ramadhan 1441 H. 15/5/2020 H. (salam dari al-faqiet H. Fahrurrozi Dahlan. Abu Elroziqiena)

Share this post