MENEMUKENALI DUA SISI KEHIDUPAN: NEW LIFE DAN NEW NORMAL?

MENEMUKENALI DUA SISI KEHIDUPAN: NEW LIFE DAN NEW NORMAL?

Akhir-akhir ini sedang digembargemborkan istilah New Normal akibat pandemi Covid-19 ini.

Beragam penerjemahan dari New Normal ini, Metro TV menyebutnya kenormalan baru, Ridwan Kamil (Gub Jabar) menyebutnya dengan normalitas baru, Prof. Mahfud MD (Menkopolhukam) menyebutnya dengan Era Normal Baru.Sedangkan Redaktur Kompas.com menyebutnya dengan tatanan normal baru.
Terlepas dari itu semua, saya akan menelisiknya nanti apa dan bagaimana new normal ini bisa tidaknya disikapi bijak oleh masyarakat? Ataukah masyarakat enggak faham amat tentang hal itu? karena masyarakat biasa saja mengganggap kehidupannya normal-normal saja meski ditimpa musibah ataupun wabah.
Namun sebelum membahas new normal tersebut, alangkah baiknya dibahas dulu tentang kehidupan masyarakat Indonesia setelah lebaran iedul fitri sebagai titik tolak bahkan menjadi start awal menapaki kehidupan baru setelah sebulan bergelut dengan aneka ibadah penyucian diri dan ragawi serta rohani. Dengan demikian dapat dimaknai sebagai awal kehidupan baru setiap muslim untuk menjadi yang terbaik di sebelas bulan berikutnya sebab hakikat ke-Fithrian itu sangat tercermin dalam eksistensinya sebagai hari raya kesucian diri dan kebersihan jiwa. Hal ini tergambar dalam arti Idul Fitri yang terdiri dari dua lafazh, yaitu ‘id (عيد) dan al-fithr (الفطر). Kedua-duanya berasal dari kata bahasa Arab. Kata ‘id (عيد) berarti “kembali” yang terambil dari( عاد يعود عودا وعيدا). Jika dirangkai menjadi iedul fitri berarti kembali suci bersih seperti saat lahir dulu.
Semakna dengan hadis Nabi Siapa saja yang berpuasa kemudian melakukan zakat fitrah maka Allah mengampuni dosa nodanya laksana baru lahir dari perut ibunya (كيوم ولدته أمه).
Atau bisa jadi maknanya al-uadu-kembali. Karena Iedul Fitri selalu kembali di setiap tahunnya.
Bisa juga Ied berarti, pesta, festival, dan hari raya.” Bisa dalam bentuk mufrad (singular) عيد dapat juga dalam bentuk jamak (plural) a’yaad (أعياد). Sekiranya ada ungkapan ‘Ied Mubaarak (عيد مبارك) maka maknanya adalahhari raya yang penuh dengan keberkahan.Sedangkan lafazh al-fithr (الفطر) berasal dari lafaz kata kerja fathara (فطر) – yafthuru (يفطر),atau dari kata أفطر-يفطر yang memiliki beberapa makna, antara lain, berbuka puasa,atau membatalkan puasa.”

Ada juga derivasi yang muncul dari asal kata fitri itu seperti dari kata ini muncul kata فطور (futhur) yang berarti breakfast/sarapan pagi.
Juga ada derivasi makna yang lain dari fitri (فطر) dengan kata fithrah (فطرة). Fitrah artinya “penciptaan, fitrah, sesuatu yang dibawa lahir.” Misalnya “fitrah kemanusiaan,” yaitu sifat-sifat dasar yang dimiliki manusia yang dianugerahkan Allah sejak lahir.
Justru itu Fitri dan Fitrah sesuatu yang berbeda dalam maknanya meski secara fungsinya tetap pada persoalan kesucian diri dan kesucian penciptaan. Maka akibat itu penggunaan lafaz Zakat Fitri yang sesuai dengan hadis Nabi Muhammad saw
فرض رسول الله زكاة الفطر صاعا من تمر…..الحديث

Tentu penyebutan itulah yang paling tepat dibandingkan dengan zakat fitrah sebagaimana kebanyakan masyarakat Indonesia menyebutnya.
Nah, sekarang coba kita telisik sedikit tentang eksistensi Iedul fitri dalam menapaki kehidupan baru bagi masyarakat muslim Indonesia yang ada terkait dengan wabah korona ini.

A. KEHIDUPAN BARU (NEW LIFE)

Kehidupan baru (new life) pasca Puasa Ramadhan dan iedul fitri terlihat pada Hakikat Idul Fitri secara sederhana dapat diartikan dengan hari raya berbuka puasa, hari raya sarapan pagi bagi seluruh kaum muslimin yang selama bulan Ramadan harus berbuka pada sore hari, setelah terbenam matahari. Karena itu pula, maka Nabi Muhammad menganjurkan (sunat) kepada kaum muslimin bersarapan pagi dulu sebelum melaksanakan salat Idul Fitri.

Ini artinya ada peralihan kebiasaan sehari-hari masyarakat muslim dari bangun pagi sembari makan sahur sampai sebelum shalat subuh ditunaikan baru kemudian menyantap makanan nanti sore setelah matahari terbenam.
Inikan suatu kehidupan baru yang bisa menjadi tradisi yang dapat dijadikan inspirasi untuk menapaki kehidupan sebelas bulan berikutnya.

Kehidupan baru kedua adalah inspirasi dari kewajiban bagi kaum muslimin-muslimat untuk mengeluarkan zakat Fitri, yaitu zakat yang dibagikan ikepada kaum dhuafa’ yang berhak menerima untuk menjadi bahan makanan sarapan pagi bagi mereka. Itulah sebabnya, maka zakat fitrah yang sudah terkumpul itu harus dibagi pada malam hari raya Fitri atau sebelum pelaksanaan salat Idul Fitri. Ini artinya ada nuansa kehidupan kemanusiaan yang baru yang tidak ditemukan di bulan-bulan lain. Di bulan lain ada zakat harta, infak sadaqah namun tidak ada zakat fitrah yang semua orang dapat mengeluarkannya baik tua muda bahkan yang baru lahir antara dua bulan ramdhan dan satu syawwal. Kegiatan Filantropi wajib tahunan ini juga mencerminkan kehidupan baru bagi masyarakat untuk dapat dilanjutkan kemudian terlebih di masa wabah corona ini. Di mana sikap kedermawanan sosial kita sangat diperlukan dan digalakkan demi menemukan formula dari New Normal yang sedang dikembangkan saat ini.
Berikutnya Iedul fitri mencerminkan hakikat penciptaan manusia menuju karakter kesuciaan. Maka kehidupan baru yang harus dilanjutkan adalah selalu berada dalam kefitrahan yang tidak dikontaminasi oleh kezaliman terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain, tidak dikotori oleh prilaku yang tidak baik. Sehingga kehidupan yang baru pasca lebaran dapat membentuk karakter masyarakat yang berbudi luhur.

Kehidupan baru yang bisa lahir dari Hakikat hari raya Idul Fitri perayaan secara meriah disetiap penjuru dunia meski saat ini melalui virtual dan media lainnya karena faktor covid -19 namun tetap menunjukkan keberhasilan dan kesuksesan kaum muslimin meraih kemenangan dalam melaksanakan semua ibadah di dalam bulan Ramadan, meraih kemenangan setelah jihad melawan hawa nafsu, dan kesuksesan meraih pahala dan rahmat Allah selama bulan Ramadan. Festival ini harus dilakukan secara besar-besaran, dihadiri oleh semua kaum muslimin, termasuk wanita-wanita haid, diminta oleh Rasulullah untuk hadir jika perayaan di lapangan.
Ini artinya, kehidupan baru yang tercipta adalah suasana kebersamaan dan keakraban keluarga menjadi lebih utama dari segalanya, dan menjadi starting point untuk membentuk masyarakat yang harmoni dan mengarifi multikultural di tengah-tengah masyarakatnya.
Kehidupan baru yang lain dari hakikat Idul Fitri adalah untuk menunjukkan kesatuan, persatuan, kebersamaan, dan keompakan seluruh komponen umat Islam. Kekompakan dalam melaksanakan iedul fitri secara bersamaan hari pelaksanaannya. Ini menandakan ada upaya peralihan kehidupan baru dari masyarakat Indonesia menuju tatanan kehidupan yang normal meski bisa disebutkan new life ataukan new normal yang kedua-duanya tak terlepas dari paradigmatik masyarakat dalam melihat situasi, kondisi, toleransi, jangkauan dan pandangannya.

B. KEHIDUPAN NEW NORMAL

Presiden RI, Ir. H. Joko Widodo telah mengeluarkan instruksi untuk mensosialisaikan new normal sebagai tatanan baru dalam kehidupan masyarakat Indonesia dalam masa pandemi corona ini, New Normal ini esensinya terletak pada aspek produktivitas masyarakat di tengah-tengah mewabahnya Covid-19 namun masyarakatnya tetap aman dan nyaman dan terhindar dari virus corona ini.
Lantas, apakah semua masyarakat menerima dengan kondisi New Normal ini, coba kita lihat di tataran elitis, di DPR misalnya, Netty Prasetiyani, Wakil Ketua Fraksi PKS mengatakan bahwa new normal itu tak ada bedanya dengan kondisi saat pandemi ini mewabah, sebab protafnya masih sama, bahkan New Normal terkesan bahwa Indonesia telah menang perang melawan corona ini, padahal yang namanya new normal itu adalah kondisi Indonesia telah berhasil mengatasi corona ini sampai ketitik Nol, sementara dalam realitasnya Corona ini masih terus meningkat meski telah diberlakukan PSBB diberbagai daerah. Apalagi mau diterapkan new normal dengan membuka fasilitas publik dengan kesadaran masyarakat yang masih rendah.
Okey lah, segala hal pasti ada yang pro kontra? Tapi yang penting disikapi adalah sudah siapkah masyarakat Indonesia dengan pola tatanan normal baru ini? Meski secara psikologis sangat berdampak sekali. Buktinya menurut riset Prof. Irwan Abdullah, Covid-19: Threat and Fear in Indonesia, h. 1-6 menjelaskan bahwa paling tidak ada empat traumatik masyarakat akibat corona ini. Pertama: trauma individual dalam bentuk “Social Withdrawal” trauma atas isolasi mandiri, isolasi kolektif sehingga berdampak pada pemutusan hubungan kerja, hubungan interaksi dari kelompok dan lingkungan sosial. Kedua: Trauma Individual dalam bentuk “Histeria” ekspresi ekstrim di luar kontrol diri. Ketiga: Trauma psikologis yang bersifat Violence Act, kekerasan terhadap anak, istri, keluarga dekat akibat strees menghadapi ekonomi akibat covid, juga akibat pembatasan sosial yang bisa melahirkan kekerasan di kalangan masyarakat.
Keempat: Trauma psikis dalam bentuk “Collective attach” Perlawanan kolektif masyarakat dengan tidak boleh masuk ke suatu wilayah,
munculnya aksi penolakan terhadap pasien Covid -19 dan seterusnya.
Lantas bagaimana kebijakan New Normal itu bisa mengatasi hal tersebut?
Kata kuncinya adalah ketaatan dan kepatuhan terhadap SOP kesehatan terkait pandemi Covid-19 ini. Selama kepatuhan dan ketaatan itu belum menjadi karakter anak bangsa agak sulit untuk menemukan formula dari new normal ini. New normal ini menurut hemat saya adalah peluang masyarakat berinteraksi dengan dunia kerja dan bisnis juga dengan peluang pengembangan perekonomian masyarakat yang terpuruk akibat Covid -19 ini. Pemberian peluang berada di area publik dengan patuh terhadap protokol Covid-19 semisal cuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak protap ini diamalkan dan dibiasakan oleh masyarakat maka era inilah yang kemudian disebutnya dengan new normal. Berangkat dari asumsi dengan adanya kebijakan new normal ini, masyarakat bisa mengatasi kehidupan dirinya sendiri juga kehidupan keluarganya dengan adanya kesempatan berinteraksi di ruang publik dengan selalu aman dan nyaman beraktivitas di tengah wabah corona ini.
Indikator new normal harus bisa terukur secara ilmiah, di mana pemerintah atau pejabat yang berwenang dapat mengaransi tidak akan ada peningkatan kasus covid-19 ini setelah diterapkan kebijakan new normal ini. Jika ternyata kasus corona masing-masing wilayah tak kunjung turun maka perlu dievaluasi kebijakan new normal itu.
Ataukah pemerintah dengan massif mensosialisasikan protokol covid-19 ini di tengah masyarakat dan menyiapkab segala perangkat Covid di semua lini ruang publik maka itu bisa menjadi indikator new normal itu dapat diterapkan.
Coba kita lihat Tempat ibadah, yang menjadi tempat kerumunan ummat beragama dalam setiap even ibadahnya, lantas perlukah diberlalukan new normal seperti diberlakukan di mall, pasar, hotel dan ruang-ruang publik lainnya?
Jawabannya tentu sangat perlu disiapkan segala hal yang terkait tentang pencegahan menularnya corona ini. Meski itu tak biasa masyarakat menggunakan masker saat shalat, merenggangkan shaff saat shalat, dan tak adw jabat tangan selesai ibadah. Ini adalah tatanan new normal era-era normal baru dalam aspek ibadah di masyarakat. Demikian ini lebih dapat memberikan imunitas, imanitas bahkan amanitas bagi masyarakat kita sendiri. Sebab selama ini merasa tertekan secara psikologis karena tak dapat menjalankan rutinitas ibadah mereka sehari-hari.
Intinya New Normal sangat bergantung pada Imanitas, imunitas, amanitas dan aminitas. (iman-Imun-aman-amin).
Semoga

Share this post