LIMA FUNGSI MANAJEMEN STRATEGIS YANG SESUAI DENGAN KATA KERJA FIIL MUDHORI’

LIMA FUNGSI MANAJEMEN STRATEGIS YANG SESUAI DENGAN KATA KERJA FIIL MUDHORI’


(UPAYA MERAIH DUA GELAR MUTTAQUN DAN MUFLIHUN):Tadarrus Surat al-Baqarah Ayat: 1-5.
بسم الله الرحمن الرحيم
الم ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون والذين يؤمنون بما أنزل اليك وما انزل من قبلك وبالأخرة هم يوقنون أولئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون.
Saudaraku!
Mari kita coba telaah ayat demi ayat dari Awal surat al-Baqarah ini.

Gelar Muttaqun (al-Muttaqin) diikat oleh Lima Prinsip dan Kriteria yang kelima prinsip itu berbentuk Kata Kerja (verb).
يؤمنون- يقيمون – ينفقون – يؤمنون – يوقنون
Kenapa semua prinsip dan karakter al-Muttaqun ini berbentuk kata kerja?.
Dalam analisa kebahasaan kata kerja berbentuk Fiil Mudharik itu bimakna al-hal wal istiqbal. (صيغة فعل المضارع لافادة الحال والإستقبال.
Berdasarkan dua orientasi kata kerja fiil mudhori’ berupa saat ini dan akan datang
Dapat dipahami sebagai berikut:

Pertama: Al-Muttaqun-Orang yang bertaqwa itu terikat oleh ruang dan waktu sehingga ukuran ketaqwaan seseorang dapat dilihat dalam gerak-gerik kehidupan sehari-hari.

Kedua: Orang yang bertaqwa itu harus terus mengasah waktu dalam lima manajeman waktu sekaligus. Di mana dalam ilmu manajemen itu dapat tercermin dalam lima kata kerja yang terdapat dalam ayat 1-5 dari surat al-Baqarah ini.
Yu’minun pertama dapat menggambarkan (planning)- perencanaan: keberimanan pertama bagi orang yang bertaqwa harus diukur dari start dia beriman kepada Allah, apa perencanaan program keimanan yang harus mereka lakukan setelah mereka mendapatkan petunjuk dari Allah swt. Sebab keberimanan tidak bisa sempurna jika tidak dilengkapi dengan program kerja dan action plann ( Al-amalush oleh-العمل الصالح). Di sinilah esensi kata yu’minuna yang pertama dapat dimaknai seperti itu.
Kedua: organizing and staffing. Konsep kata يقيمون sangat luas sekali. Bisa bermakna melaksakan, menegakkan, mengorganisasikan, mengatur secara tertib sesuai perencanaan awal.
Dalam konteks ayat ini, Allah menspesifikkan dalam agenda perencanaan utama bagi orang bertaqwa adalah bagimana mampu mengorganize lima waktu dalam sehari semalam berupa penegakan shalat lima waktu. Shalat diteggakkan (الإقامة) bukan sekedar dilaksanakan (العمل) karena memang shalat itu memiliki ruang dan waktu yang harus diorganize dengan baik dan efektif.
فاذا قضيتم الصلاة فاذكروا الله قياما وقعودا وعلى جنوبكم فاذا اطمأننتم فأقيموا الصلاة ان الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا.. سورة النساء أية : ١٠٣

Intinya:Sesungguhnya shalat itu terhadap orang yang beriman sudah tertulis dalam waktu yang telah ditentukan.

Ketiga:Actuating:
Dimensi YUNFIQUN-ينفقون sebagai sebuah refleksi keimanan dan ketaqwaan yang harus diwujudkan dalam sebuah karya nyata dan aksi sosial. Aktualitas seseorang yang bertaqwa sangat diukur dari serapa kepeduliannya terhadap orang lain, seberapa pekanya terhadap kondisi orang lain. Sehingga dengan demikian orang yang bertaqwa harus memiliki jiwa yang berderma sebagai bukti nyata keberimanan kepada Allah yang dituangkan dalam al-Kitab al-Quranul Karim itu.

Keempat: Coordinating
Elemen keempat ini adalah elemen koordinasi antarsatu kegiatan dan satuan dengan yang lain. Koordinasi bawahan dengan atasan.
Dimensi-يؤمنون yang keempat ini berbeda segment dengan يؤمنون yang pertama yang terdapat di ayat ketiga.
Yu’minuna pertama segmentnya pada hal-hal yang abstrak yang tak dilihat oleh pancaindera, hal-hal yang ghaib. Sementara yukminuuna yang kedua menjelaskan segment tentang keberimanan kepada kitab-kitab suci yang diturunkan oleh Allah. Di mana kitab-kitab suci yang tertulis itu dapat dilihat dan ditelaah oleh panca indera manusia. Di sinilah letak koordinatifnya antara kitab-kitab suci ini yang menjelaskan tentang alam-alam ghaib itu. Di mana cerita alam gaib tak bisa dicerna dan difahami oleh manusia jika tidak ditururkan dan dituliskan secara baik dan rapi. Dengan strategi ini keimanan yang kedua ini menggambarkan kesungguhan untuk melaksanakan khittah ketaqwaan yang telah direncanakan secajak awal mula berkomitmen untuk tunduk pada ajaran zalikal kitaabu laa raiba fiihi hudan lil muttaqien itu.

Kelima: Controlling-Evaluating
Terakhir adalah dimensi- يوقنون-
Kontrol terhadap pekerjaan dan program yang telah harus didasari pada aspek manajemen yang efektif. Bagaimana pelaksanaan sesuai dengan standar prestasi, bagaimana mengukur prestasi yang telah dicapai, membandingkan prestasi yang telah diraih kemudian melakukan perbaikan ke depan.
Dalam konteks yuuqinuuna sebagai media kontrol terhadap terjaganya yu’minuna, yuqimuuna, yunfiquuna dan yu’minuuna sangat ditentukan oleh sebesar apa komitmen orang yang bertaqwa itu untuk terus mengevaluasi dan mengontrol sikap keimanan dan ketaqwaan itu. Di mana ketaqwaan dan keimanan dan kepeduliaan tak akan sempurna jika tidak dipatri oleh sebuah keyakinan yang kokoh, komitmen yang kuat, kekuatan prinsip yang tepat, ketajaman matabatin yang suci, menjadi lambang yuqinuuna seseorang dalam meraih gelar muttaqun yang ujung akhirnya memperoleh keberhasilan dan kesuksesan yang disebut al-muflihun.

Bersambung…
Selamat membaca: Kamis 14 Ramadhan 1441 H. 7 -5- 2020 M

Share this post