KETENANGAN DIRI: SEBATAS REFLEKSI

KETENANGAN DIRI: SEBATAS REFLEKSI


Izinkan saya bertanya kepada Anda, Apakah setiap orang yang bahagia itu tenang? Ataukah sebaliknya, Apakah setiap orang yang tenang itu bahagia?

Baiklah, saya mencoba merefleksikan dua pertanyaan yang sesungguhnya bisa tidak membuat kita TENANG jika tidak menemukan jawaban yang bijak dan logis.

Nah, jawaban yang tidak logis dan bijak dapat membuat tidak TENANG bukan tidak bahagia? dari sini sudah ada kelihatan benang merah antara dua kata ini. Atau ada ungkapan “Saya BAHAGIA mendengarkan kesuksesan anda dalam menempuh cita-cita”.

Atau ilustrasi ketenangan itu seperti tenangnya air, tatkala kita mampir atau singgah di sungai yang jernih mengalir airnya diantara pepohonan yang rindang tumbuh di pinggir-pinggir sungai itu, hembusan angin sepoi-poi basah menambah aura ketenangan dan kebahagiaan pada diri yang sedang dilanda kegelisahan dan kesusahan. Sepontan batin ini bergumam, alangkah nyamannya tempat ini, alangkah tenangnya suasana ini, alangkah bahagianya jika tempat ini ada di tempat tinggalku. dst. Gumaman mata batin yang sedang merasakan ketenangan meski belum merasakan kebahagiaan?.
Oke dah, Anda ini terlalu bertele-tele menjelaskan masalah sepele ini kepada kami, Kata yang mendengarkan penjelasan saya.
Akhirnya saya mengalah untuk tidak berlama-lama membuat ilustrasi yang kadang tidak menyenangkan bahkan tidak menenangkan apalagi membahagiakan.
Ayo Kita Mulai Serius ini, perhatikan baik-baik agar anda tenang dan bahagia selamanya.
Secara akademik, Tenang-Ketenangan atau Bahagia-kebahagian dalam pendekatan Psikologi Islam dengan segala variannya. Adalah masuk dalam objek Nafs-Onjek Anfusi yang berkaitan dengan alam psikis (kejiwaan atau bathiniyyah). Alam psikis memiliki sunnah psikis yang kriteria pengukurannya berbeda dengan sunnah fisik.
Prinsip Utama dari Psikis ini adalah hidup tidak semata-mata berdasarkan kriteria material atau jasmaniah melainkan pemenuhan kebutuhan non-materi atau rohaniah. (Abdul Mujib, Teori Kepribadian Perspektif Psikologi Islam, h. 229)
Nah, Prinsip Tenang – atau Ketenangan Psikis itu dapat dilihat dari Sepuluh Tatanan:

Pertama: As-sakinah (السكينة) Kemapanan yaitu ketenangan atau ketetapan (الثبات) jiwa dari segala kecemasan (al-qalaq/anxiety) dan kesulitan atau kesempitan bathin (الإضطرار). Sakinah juga memiliki arti meninggalkan permusuhan atau peperangan, rasa aman (al-aman- الأمان) hilangnya ketakutan (الخوف/phobia) dan kesedihan dari jiwa.
Ibn Qoyyim memberikan makna sakinah sebagai ketenangan yang dihujamkan oleh Allah swt pada jiwa orang-orang yang mukmin yang takut, resah, dan gelisah agar keimanan dan keyakinannya bertambah (Q. S. Al-Fath:4)
Beliau membagi Sakinah itu dalam tiga tingkatan: Ketenangan dalam kekhusyuaan saat melakukan ibadah (Q. S. Al-hadid: 2). Ketenangan dalam bergaul dengan mengevaluasi diri, bersikap lemah lembut pada makhluk dan tidak melupakan hak-hak Allah. Ketenangan yang memperteguh keridhaan dalam menerima bagian.

Kedua: al-Thuma’ninah (الطمأنينة) ketenangan berupa ketetapan kalbu pada sesuatu tanpa disertai kekacauan yang mencakup ketenangan dari ilmu, keyakinan, keimanan. Ibn Qoyyim membagi thuma’ninah ini menjadi tiga tingkatan: 1) Thuma’ninah karena zikir kepada Allah swt sehingga menghilangkan ketakutan dan mendatangkan harapan. 2)thuma’ninah roh ketika mencapai tujuan kasyaf (terbukanya rahasia Allah) 3) thuma’ninah karena menyaksikan kehadiran kasih sayang Allah swt. Menggapai kebaikan. Menggapai kedudukan cahaya yang abadi (Ibn Qoyyim Aljauzi, Madarij assalikin bayn manazil iyyaka na’budu wa iyyaka nastaiin, Cairo: Dar Fikr, 1992)h. 512.

Ketiga: al-Rahah (الراحة) Rileks, keadaan bathin yang santai, tenang, dan tanpa adanya tekanan emosi yang kuat meskipun mengerjakan pekerjaan yang berat.

Keempat: Al-mawaddah (المودة) cinta kasih dan al-rahmah (الرحمة) kasih sayang. Adalah keintiman (intimacy) individu pada individu yang lain karena didorong oleh rangsangan atau gairah (passion) sehingga keduanya ingin bersatu dan membentuk komitmen (commitment) baik lahir maupun bathin.

Kelima: al-aman (الأمن) keamanan dan al-hudu’ (الهدوء) ketenteraman.
Keadaan bathin yang aman dan tenteram karena terhindar dari ancaman dan gangguan dan kegagalan.

Keenam: al-shulhu (الصلح) atau assalam (السلام) keadaan bathin yang damai tanpa ada permusuhan dan perkelahian.

Ketujuh : al-rafahiyyah (الرفاهية) keadaan bathin merasa berkecukupan tanpa ada kekurangan.

Kedelapan: al-isyba’ (الإشباع)Kepuasan. Perasaan yang menyertai seseorang setelah ia memuaskan satu motif. Atau perasaan dan sikap individu tentang menyenangkan dll.
Kesembilan : al-farh (الفرح) atau alsurur (السرور) yaitu kenikmatan yang dirasakan dalam kalbu setelah menemukan sesuatu yang dicintainya dan mendapatkan sesuatu yang diinginkan.
Kesepuluh: al-Saadah (السعادة) kebahagiaan yaitu perasaan yang bahagia karena terhindar dari celaka (الشقاوة).
Bahkan Nabi menjelaskan dimensi sa’adah ini:
أربع من سعادة المرأ : أن تكون زوجته صالحة
وأن يكون اولاده أبرارا
وأن يكون خلطآه صالحين
وأن يكون رزقه فى بلده
وفى رواية:
وأن يكون مسكنه واسعا
وأن يكون مركبه جميلا

Bahagia itu karena pasangan hidup yang serasi, anak yang berbakti, kolega sahabat teman yang baik hati, dan rizki tak jauh dari negeri ini.
Tambahan riwayat lain: tempat tinggal yang asri. Juga Akomodasi transformasi dimiliki.

Alhasil Kebahagian melahirkan ketenangan. Ketenangan lahir karena kebahagiaan materi dan immateri terpenuhi.
Maka jadilah pribadi yang tenang karena ketenangan melahirkan kebahagian bahkan kebahagian dan ketenangan saling menyatu dalam kemapanan, keamanan, kasih sayang, kenyamaan, kecukupan, kerilekan, ketentraman, kepuasan, dan kedamaian.
(Edisi Bersemedi di Rumah Saja, 17/04/2020/ membersamai keluarga El-Rozi-Qina. Abu El-Roziqiena. Fahrurrozi Dahlan-HS)

Share this post