KETAQWAAN TOTALITAS DALAM ENAM IDENTITAS MUSLIM DAN MUFLIH.

KETAQWAAN TOTALITAS DALAM ENAM IDENTITAS MUSLIM DAN MUFLIH.


Tadarrus Ayat 102-104 Surat Âli -Imrán.

بسم الله الرحمن الرحيم
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون (١٠٢) واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا واذكروا نعمت الله عليكم إذ كنتم أعدآء فألف بين قلوبكم فأصبحتم بنعمته إخوانا وكنتم على شفا حفرة من النار فأنقذكم منها كذلك يبين لكم آياته لعلكم تهتدون (١٠٣) ولتكن منكم أمة يدعون الى الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر وأولئك هم المفلحون (١٠٤)

Sesungguhnya pada ayat ini menjelaskan kepada kita tentang eksistensi substansial ketaqwaan dan keberuntungan.

Pertama: اتقوا الله حق تقاته
Ketaqwaan yang haqiqi adalah kehidupan semasa hayat sampai kehidupan menyambut kematian. Ketaqwaan bukan saja sejak akil baligh tapi ketaqwaan yang berkesinambungan, berkelanjutan, ketaqwaan yang bukan setengah-tengah. Ketaqwaan bukan yang fluktuatif, turun-naik, sekarang taqwa besok lusa tidak. Maka itu sebabnya Allah menegaskan dengan kalimat masdar ittaqqullaha haqqo tuqotihi sebagai bukti bahwa ketaqwaan itu dalam semua lini dan semua waktu.

Kedua: ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
Kematian ketaqwaan itu adalah kematian muslim. Menarik dicermati pada ayat ini, kenapa mati dalam keadaan muslim? Tidak mukmin?
Di sinilah kemaharahman-rahim Allah kepada hamba-Nya, sebab tingkatan seseorang kepada Hambanya terletak pada posisi kedekatannya kepada Allah.
Dapat dilihat di sini cukup paling minimal kalau tidak mampu meraih yang maksimal, kematian hamba-nya dalam keadaan muslim. Dalam keadaan menjadi pribadi yang mengucapkan syahadat (مشهد-musyhid), pribadi yang menjalankan shalat (مصلى-mushalli), Pribadi yang selalu berpuasa (صائم-Shaim), pribadi yang mengeluarkan zakat (مزكى-Muzakki) dan pribadi yang menunaikan ibadah haji (الحاج-Hajji).
Posisi inilah posisi level paling dasar yang harus dilalui oleh setiap orang muslim yang benar-benar ingin meraih ketaqwaan.
Level muslim adalah level syariat-sehingga cukup orang bersyahadat di akhir hayatnya sudah masuk dalam kategori muslim dan dia masuk syurga karena syahadatnya.
Sedangkan level kedua adalah level mukmin-ini level yang lebih tinggi dari hanya Sekedar muslim-ini level aqidah, teologi-level kekuatan bathiniyyah terhadap enam prinsip dasar keimanan, enam prinsip pribadi mukmin: mukmin billah, mukmin bil malaikah, mukmin birrusul, mukmin bil kitab, mukmin bi yaumil akhir, mukmin bil qhada’ wal qadar. Ketercapaian seseorang ke derajat mukmin ini tidak gampang dan tentu sulit sebab etape kesempurnaan keimanan sangatlah berjenjang, ke semua itu sangat abstrak dan memerlukan komitmen dan keteguhan hati. Maka ini sulit dicapai membutuhkan usaha dan ikhtiar yang prima. Level mukmin setara dengan level Makrifat (معرفة)-atau setara dengan level ainul yaqin (عين اليقين)
Sedangkan level tertinggi adalah level muhsin (محسن). Level shufistik, level kedekatan yang sangat sempurna. Level ini adalah level Hakikat (حقيقة) Setara dengan level Haqqul Yaqin (حق اليقين). Tentu level muhsin tak gampang meraihnya, ini levelnya para auliya’-levelnya para anbiya’ yang ragawinya tak mengenal unsur material melainkan hanya keilahiyatan semata.
Kasih sayang Allah terlihat di sini, Allah menghendaki kita menghadap kehadiratnya minimal pada level muslim jika tidak mampu melampui ke level mukmin apalagi ke level muhsin.
Ketiga: Percepatan sampai ke derajat muslim-yang muflih-berbahagia itu, harus diawali dengan enam identitas:

Pertama: المعتصم بحبل الله
Komitmen terhadap ajaran Agama. Keteguhan prinsip dalam beragama- boleh berdinamika dan berdialektika dengan realitas keduniawian namun tetap dalam prinsip keagamaan yang kuat dan kokoh.

Kedua: Identitas: معدم التفرق : Menghindari/meniadakan perselisihan/perpecahan/konflik. Baik konflik personal/ maupun konflik komunal apalagi konflik dalam sekala global. Konflik dan perpecahan adalah musibah terbesar dalam kehidupan beragama berbangsa dan bernegara. Maka tak akan mendapatkan ketenangan kebaikan dan kebahagiaan jika konflik, perpecahan itu terjadi. Meski dalam skala personal pun orang yang konflik antara individual akan merasa tertekan dan merasa terkekang. Makanya unsur kepribadian muslim-muflih itu terletak pada kesigapannya membangun relasi kedamaian di tengah masyarakatnya.

Ketiga: Identitas: الذاكر والمذكر لنعمت الله . Identitas yang selalu ingat dan mengingatkan segala nikmat Allah. Pribadi yang selalu zikir terhadap karunia Allah akan melahirkan pribadi yang sehat jasmani dan sehat bathini. Sebab pancaran kesyukuran atas nikmat Allah terlihat dalam kehidupan sehari-harinya yang selalu memberikan kebermanfaatan dan kebaikan untuk dirinya dan orang lain.

Keempat: Identitas Penyeru kepada kebaikan (الداعى الى الخير). Identitas pribadi yang selalu mengajak kepada kebaikan menjadi petanda dia adalah muslim yang muflih. Kebaikan yang disebarluaskan adalah kebaikan universal, kebaikan kemanusiaan, kebaikan keummatan, kebaikan persatuan dan kesatuan, kebaikan multikultural. Allah mendahulukan sebutan adda’i ilal khair semata-mata untuk menjadi manusia yang kebermanfaatannya untuk semua golongan dan strata. Pribadi inilah yang disebut Da’i.

Kelima: Identitas pengajak-penyuluh kepada hal-hal yang baik dan sesuai dengan uruf-situasi dan tradisi dimana kebaikan itu diserukan. Pribadi الآمر بالمعروف: Penyuruh kebaikan-Memerintah untuk melaksanakan kebaikan- mengajak ke hal-hal yang positif.

Keenam: identitas pribadi yang selalu setia melerai dan mencegah hal-hal yang merusak tatanan kehidupan, merusak keharmonisan. Pencegah kejahatan dan keburukan ini disebut sebagai pribadi yang الناهى عن المنكر: Pribadi yang siap di garda terdepan dalam memberantas kejahatan, memberantas keburukan, melawan kezaliman dengan beraneka strategi dan media. Bisa dengan lisan, tulisan bahkan kekuasaan untuk dapat mencegah kemungkaran dan kezhaliman. Tentu strategi itu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kondisi sosial masyarakat yang diajak dan dicegah.
Enam identitas inilah yang akan menghantarkan manusia menuju tangga
وأولئك هم المفلحون. Merekalah orang disematkan sebagai orang yang beruntung duniawinya beruntung ukhrawinya.
والله أعلم بالصواب واليه المرجع والمآب.

Edisi Tadarrus Syawalan-melanjutkan tadarrus Ramadhan yang belum tuntas. Insya Allah tadarrus al-Quran akan diistiqomahkan sampai khatam surat an-Nas.
Wassalam.
Abu El-Roziqiena

Share this post