KEBAIKAN INKLUSIF BUKAN KEBAIKAN EKSKLUSIF

KEBAIKAN INKLUSIF BUKAN KEBAIKAN EKSKLUSIF

KEBAIKAN SESUNGGUHNYA (البر)-KEJUJURAN-(الصدق) KETAQWAAN (التقوى): TADARRUS Q.S. AL-BAQARAH: 177.

بسم الله الرحمن الرحيم
ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من آمن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين وآتى المال على حبه ذوى القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل والسائلين وفى الرقاب واقام الصلاة وآتى الزكاة والموفون بعهدهم اذا عاهدوا والصابرين فى البأسآء والضرآء وحين البأس اولئك الذين صدقوا وأولئك هم المتقون…..الآية

Saudaraku

Mari saya ajak saudaraku sekalian untuk mencoba meresapi dan merenungi Firman Allah khusus pada ayat ke 177 pada surat al-Baqarah ini:

Pertama: Kata Al-Birru (البر)
Kata al-Birru ini menurut yang al-faqir fahami sebagai sebuah ungkapan yang menerangkan tentang permisalan kebaikan sebab al-birru ini bisa saja semakna dengan al-barru (البر )yang juga bermakna daratan yang bisa menghasilkan al-burru ( البر) gandum, padi dan biji-bijian lainnya. Artinya adalah Kebaikan yang ditanam dan diinvestasikan di muka bumi ini akan tumbuh menjadi biji-bijian yang dapat memberikan keberkahan dan keberlanjutan hidup bagi siapa saja yang menikmatinya. Maka Allah swt menyebutnya dengan sebutan al-Birru bukan dengan sebutan al-khair (الخير) -الحسن yang juga bisa semakna dengan kebaikan.
Maka tanamlah biji kebaikan sekecil apapun sebab suatu saat nanti biji kebaikan itu akan tumbuh menjadi pohon yang lebat dan rindang sekalian berbuah manis sehingga orang lain setelah kematian Anda dapat menikmati buah biji itu sebagai amal jariyah yang tak putus-putus pahalanya mengalir kepada Anda.
(أجر غير ممنون).

Kedua: Kata al-Birru yang pertama ini diawali oleh kata fiil naqis Laisa (فعل ناقص ليس) memberikan makna kebaikan yang ekslusif (tertutup) bukan kebaikan yang inklusif (terbuka) untuk universalitas kemanusiaan. Di mana Allah menegaskan Bukan disebut sebuah kebaikan Kalian Menghadap arah Timur atau arah Barat saat ibadah. Bukan saja kebaikan itu Anda ibadah menghadap Masjidil Aqsa atau Menghadap Masjidil Haram (Ka’bah). Artinya kebaikan bukan itu ukuran sebuah kebaikan yang sesungguhnya. Tapi kebaikan sesungguhnya adalah kebaikan universal yang tak terbatas oleh ruang dan waktu, kebaikan yang tak dibatasi oleh ras, suku dan kolega akan tetapi kebaikan yang hakiki adalah kebaikan keberimanan totalitas dan kesetiakawan sosialitas.

Ketiga: Al-Kitab Birru yang kedua berbeda maknanya dengan al-birru yang kedua. Berdasarkan sebuah kaidah:
ان المعرفة اذا أعيدت معرفة تكون غير الأولى
Isim makrifat jika diulang dengan redaksi isim makrifat lagi maka maknanya bisa bermakna dengan makrifat yang kedua. Bisa jadi juga sama. تكون عين الأولى. Tergantung qorinahnya (pengikat maknanya).
Artinya
Maka dengan demikian Allah menegaskan bahwa kebaikan itu tak terfokus pada satu aspek saja
(ليس البر ان تولوا وجوهكم فبل المشرق والمغرب)
Tidak Fokus Bidang keagamaan dan bidang sain dan teknologi. Bidang Substansi dan bidang Metodologi (Allah mempertentangkan antara Timur dan Barat). Insyarat Allah swt ini menggambarkan akan kebaikan hakiki adalah kebaikan yang mencakup kebaikan Sain dan teknologi, Kebaikan Ajaran-ajaran keagamaan namun kebaikan yang menjadi inti dari segalanya menurut Allah adalah kebaikan yang dilandasi dengan:
Pertama: (من امن بالله)
Keimanan totalitas kepada Allah swt.
Kedua: اليوم الآخر
Keyakinan Totalitas Akan Hari Akhir Segala Kehidupan Kemanusiaan Dan Keuniversalan Alam Semesta.
Ketiga:الملائكة
Ketautan hati Terhadap Para malaikat Yang Menjadi Perantara Hamba Dengan Khaliq.
Keempat: والكتاب
Keteguhan Pikiran Akan Kebenaran Kitab-kitab Sakral Nan Suci.
Kelima: والنبيين
Ketundukan Dan Kepatuhan Sepenuhnya Terhadap Misi Para Penyambung Misi Allah Merekalah para Sang Nabi.
Keenam:
وآتى المال على حبه ذوي القربى واليتامى والمساكين وابن السبيل وفى الرقاب

Menyambung Ikatan Bathin Dan Ikatan Sosial dan Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat Prasejahtera-Masyarakat Tak Berdaya-Masyarakat Tak Terberdayakan-Masyarakat Yang Tak Kuasa Atas Ekonomi Dan Budaya.
Ketujuh: واقام الصلاة
Meneguhkan Identitas Personal Dengan Penguatan Ikatan Spritual Dengan Allah Via Shalat Lima Waktu.
Kedelapan: وآتى الزكاة
Pemenuhan Kebutuhan Materil Kepada Yang Berhak Menerimanya.
Kesembilan: والموفون بعهدهم اذا عاهدوا
Komitmen terhadap janji. Komitment terhadap responsibility dan tanggung jawab.
Kesepuluh: والصابرين فى البأسآء والضرآء وحين البأس
Keberterimaan hati akan segala dinamika dan dielaktika kehidupan.

Mereka itulah orang yang Sodaqu (memiliki kejujuran intelektual) dan orang yang al-Muttaqun (Orang yang memiliki kejujuran spiritualitas)

Tadarrus al-Qur’an edisi Ahad 17 Ramadhan 1440 H. – 10 Mei 2020 M. Semoga bermanfaat. (Abu Elroziqiena)

Share this post