KALAM DIALOGIS – SPRITUALIS TUJUH KRITERIA HAMBA DENGAN ALLAH. Tadarrus Surat al-Fatihah Ayat 1-7

KALAM DIALOGIS – SPRITUALIS TUJUH KRITERIA HAMBA DENGAN ALLAH. Tadarrus Surat al-Fatihah Ayat 1-7

Dalam tilikan kajian tafsir dengan berbagai macam corak dan varian tafsir, dapat dipastikan bahwa surat yang paling sering dibaca oleh orang yang beriman adalah surat al-fatihah. Secara normatif Allah menyebutnya sebagai sab’ul matsani ayat tujuh yang selalu berulang-ulang disebut. Juga Allah menyebutnya dengan nama Shalat karena tak ada bacaan yang paling wajib dibaca selain fatihah di waktu shalat dan seterusnya menurut jumhur ulama’.
Namun kenapa Fatihah diberikan porsi sespesial itu oleh Allah swt.????

Mari al-Faqier ajak nalar Anda untuk menelusuri secara logis rentetan ayat demi ayat meski secara global dan simple.
بسم الله الرحمن الرحيم( ١)
الحمد لله رب العالمين( ٢)
الرحمن الرحيم (٣)
مالك يوم الدين (٤)
إياك نعبد وإياك نستعين(٥)
إهدنا الصراط المستقيم(٦)
صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضآلين.(٧)

Surat ini diawali dengan basmalah menurut pendapat Imam Syafii sehingga bismilahirrahmanirrahim menjadi ayat pertama dalam surat al-Fatihah.

Bukankah Fatihah itu dibagi oleh Allah swt dalam dua bagian besar? Satu bagian untuk Allah satu bagian untuk Hamba-Nya dan dari sinilah dapat diinterpretasikan dengan dialog, terutama kata lafazh. اياك نعبد واياك نستعين
Dialog antara Hamba dengan Tuhannya.
Izinkan al-Faqier tidak membahas Basmalah di laman ini karena memerlukan kajian khusus tersendiri. Insya Allah.

PERTAMA: Dialog Al-Hamid ila Al-Mahmud:
حوار الحامد مع المحمود

الحمد لله رب العالمين
Segala puji hanya milik Allah pendidik, penguasa, pemelihara Alam universal-Global.

Ungkapan Dialogis Al-Hamid (PEMUJI-Hamba) kepada al-Mahmud (Yang dipuji-Allah)
Inti kehidupan kemanusiaan adalah mengungkapkan rasa kebahagian dan kesyukurannya atas segala karunia Allah. Tak ada yang paling mulia selain pujian kepada sang Pencipta Alam semesta. Maka Allah swt menjadikan Alhamdu sebagai pujian dan penghargaan kepada siapa yang memuji Allah swt. Disinilah rahasia kenapa Allah menggunakan lafazh Masdar (al-hamdu) tidak dengan lafazh fiil (Kata kerja) agar pujian kepada Allah tak mengenal ruang dan waktu kapan dan dimana saja. Inilah dialog spritual hamba yang tak kenal situasi dan kondisi sederhana dan serendah apapun kondisi kehidupan Hamba (al-hamid).

KEDUA: حوار المرحوم مع الرحمن الرحيم
الرحمن الرحيم
DIALOG AL-MARHUM (Hamba terkasihi) ila AL-RAHMAN AL-RAHIM (Pemberi dan Sumber Kasih Sayang)
Kasih sayang Allah yang meluasi langit dan bumi bahkan bukan hanya sebatas langit dan bumi melainkan Wasiaat kulla syai’
(ان رحمتى وسعت كل شيئ)
Rahmat sang Rahman-rahim tak terbilang dan terukur luasnya. Dialog spritual kasih sayang yang menghendaki kepasrahan totalitas atas segala kasih sayang Allah yang tak pernah diminta oleh Allah untuk mengembalikannya.

KETIGA: حوار المملوك مع المالك -الملك
مالك يوم الدين
Dialog antara Hamba Dengan Penguasa.
Dialog penghambaan hamba kepada sang Malik-penguasa alam semesta penguasa jagat raya-penguasa hari qiyamat.
Tak ada kuasa dan kekuasaan bagi sang hamba jika Sang pemilik kekuasaan hakiki Allag swt. Maka dialog ini adalah spritualitas keinsafan akan hakikat kehidupan.

KEEMPAT: حوار العابد مع المعبود
اياك نعبد
Dialog sang hamba dengan Allah sang Ma’bud (yang disembah). Ungkapan dialogis kehambaan material-kehambahan kekuasaan dan kehambaan nafsu serakah sang hamba kepada sang pemberi kebahagiaan kehambaan dialah Sang Allah yang maha disembah oleh siapapun dan oleh apapun di alam semesta ini.
Tak ada kesombongan kemanusiaan dalam kontek hamba dan Allah sebab disinilah terlihat kelemahan manusia sebagai hamba Allah swt.

KELIMA: حوار المستعين مع المستعان
إياك نستعين
Dialog antara Hamba yang meminta pertolongan dengan sang al-Mustaan (yang memberi pertolongan).

Pertolongan Allah dalam segala denyut jantung kehidupan manusia dan denyut jantung kehidupan alam semesta menjadi petanda akan kelemahan manusia di hadapan Allah swt.
Tak akan pernah lepas semua manusia untuk tak pernah berhenti dari pertolongan Allah. Maka dialog spiritualitas kehambaan ini tak pernah surut dari permintaan pertolongan sang maha Mustaan. Allah swt.

KEENAM: حوار المهتدى مع الهادى
إهدنا الصراط المستقيم

Dialog sang Hamba yang memerlukan bimbingan dan hidayah Allah. Di sinilah Hidayah Allah sangat diperlukan oleh semua makhluk Allah swt ini. Hidayah bukan saja bermakna petunjuk, hidayah iman, islam, ihsan namun hidayah juga bermakna potensi, insting, bakat, minat, akal-pikiran. Ternyata itu semua terkumpul dalam kata إهدنا berikan bimbingan terhadap akal, pikiran, naluri, bakat, minat, nikmat dan seterusnya. Maka cukup sang Muhtadi mengungkapkan ungkapan dialogisnya Berikanlah petunjuk kepada Kami. Kami bukan khitob personal tapi khitob komunal-kolegial-sosial bahkan global. Maka petunjuk bukan hanya untuk diri sendiri tapi hidayah untuk berbaur dengan semesta berbaur dengan semua golongan. Dengan hidayah itulah manusia dapat beradaptasi dengan lingkungannya sendiri.

KETUJUH: حوار المتنعم مع المنعم
صراط الذين انعنت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
Dialog penerima nikmat kenikmatan dengan pemberi nikmat kenikmatan.

Nikmat Allah terpola dengan pola Allah yang pola itu didialogkan oleh Hamba dengan ikhtiar membersamai bahkan kalau bisa menyamai melebihi nikmat yang Allah berikan kepada para Nabi, Rasul, syuhada’ dan orang-orang yang shaleh. Allah pemberi nikmat tak pernah tanggung memberikan nikmat kepada hambanya. Mulai dari nikmat mati sebelum kehidupan janin terus sampai kehidupan setelah kematian lagi bahkan sampai berjumpa dengan Allah sang pemberi nikmat di dalam syurganya nanti.

Al-Hasil, Surat Al-Fatihah mengajarkan kita akan garis besar tujuan Al-Qur’an itu sebagai berikut.
Pertama, menetapkan akidah tauhid; membersihkan akidah umat dari paham keberhalaan, kebendaan, khurafat, kemusyrikan, dan kebodohan. Ruh tauhid itu dapat kita rasakan pada firman-Nya: Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Ini memberikan pengertian bahwa seluruh puji-pujian dan penghargaan tinggi itu timbul dari rahmat dan nikmat Allah Swt. Segala-galanya adalah milik Allah. Hanya karunia-Nyalah sumber segala nikmat dan rahmat ini. Maka Dia-lah yang berhak mendapat puji-pujian dan penghargaan tinggi dalam hati sanubari. Di antara nikmat-nikmat Ilahi ialah nikmat menjadikan diri dari tidak ada menjadi ada. Nikmat menjadikan yang tersusun menurut hukum-hukum atau rumus-rumusnya. Nikmat menumbuhkan dan mengembangkan kehidupan manusia. Rabb berarti Yang memelihara, Yang menguasai, Yang membimbing, Yang menumbuhkan dan Yang memperkembangkan. Segala nikmat dan rahmat yang dirasakan manusia dalam dirinya sendiri dan dalam segenap penjuru alam datang dari Allah Swt.

Kedua, memberi janji dan ancaman. Janji untuk membangkitkan jiwa individu dan umat agar suka berbuat kebajikan dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ancaman untuk memberikan peringatan tentang kerugian, bahaya, dan bencana diisyaratkan oleh firman Allah: Bismillahirrahmanirrahim. Ini mengisyaratkan bahwa rahmat Allah melimpah ruah meliputi segala-galanya dan Dia terus menerus memberikan rahmat dan nikmat-Nya setiap waktu dan tempat. Yang demikian itu disebut ulang: Arrahmanirrahim, agar manusia menyadari jaminan kebahagiaan untuk orang beriman. Maliki yaumiddin mengandung janji dan peringatan tentang adanya pembalasan. Yang berbuat kebajikan pasti menerima pahala, upah yang berlipat ganda, dan yang bertindak jahat pasti akan mendapatkan hukuman. Pada hari itu Allah-lah yang berkuasa mutlak. Tak satu pihak pun dapat menghalangi atau menggugat kekuasaan-Nya. Ashshiratalmustaqim; siapa yang menuruti jalan yang ditunjukkan Allah akan beruntung dan siapa yang menyeleweng akan binasa.

Ketiga, memberi petunjuk tentang ibadah; menundukkan diri, jiwa, ruh, dan perasaan kepada Allah, sehingga ruh tauhid hidup dan bersinar di dalam hati. Konsekuensi dari tauhid ialah ibadah, mengabdikan diri dengan penuh cinta dan patuh kepada Allah: Iyyaka na’budu wa iyyaka nastain.

Keempat, menjelaskan jalan kebahagiaan dan cara melaksanakannya yang mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia akhirat. Ia mencakup urusan ibadah, hukum-hukum pergaulan, dan urusan siasat umat; Ihdinashshiratalmustaqim. Allah telah menentukan jalan hidup yang menjamin kebahagiaan. Dia-lah yang menjelaskan dan menentukan batas-batasnya. Kebahagiaan terletak pada sikap menetapi jalan yang ditentukan Allah itu (istiqamah, konsisten). Sebaliknya, kecelakaan dan kebinasaan akan datang ketika manusia menyimpang darinya. Istikamah pada peraturan Allah itu adalah ruh ibadah. Seluruh ayat dalam Al-Fatihah sungguh-sungguh mengandung ruh ibadah itu yang menggetarkan dalam hati rasa segan, hormat, cinta, dan harap atas karunia dan limpahan rahmat Allah dan rasa gentar, takut, dan khawatir atas murka-Nya. Ibadah bukan semata-mata tindakan berdiri tegak, duduk, gerak lidah, dan anggota tubuh saja. Gerak dan amal jasmani itu haruslah mengarah pada pencapaian hakikat ibadah itu sendiri melalui pusat kekuatannya, yakni pemikiran yang sehat dan penghayatan untuk mengambil i’tibar dan perhatian. Ibadah adalah ikhtiar mengerjakan apa yang dikehendaki Allah kepada diri kita dengan tunduk, patuh, dan cinta kepada-Nya melalui syiar-syiar agama dan urusan keselamatan masyarakat dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kelima, memberikan pelajaran tentang manusia utama yang telah mengikuti pola kehidupan yang digariskan Allah buat hamba-Nya dan tentang manusia sesat yang telah melanggar dan menyimpang dari pola kehidupan yang digariskan dengan membelakangi syariat-Nya. Itu terkandung dalam firman Allah: Ihdina… dan Shiratalladzina an ‘amta ‘alaihim, ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhdhallin. Dahulu telah ada beberapa umat yang diberi syariat oleh Allah lalu mereka mematuhinya dan mentaati pimpinan Allah. Maka mereka berbahagia dan dibahagiakan Allah. Umat begitulah yang pantas kita tiru. Yang tidak diberi nikmat oleh Allah ada dua golongan. Pertama, golongan yang dimurkai Allah karena ingkar dan menentang orang-orang yang menyeru kepada jalan-Nya. Mereka menolak kebenaran dengan sengaja karena mempertahankan apa yang diwariskan oleh nenek moyang, atau karena maksud-maksud lain. Kedua, golongan yang sesat dari jalan Allah. Mereka tak sampai kepada hakikat kebenaran. Pendirian mereka goyah dan kacau. Mereka buta. Tak dapat melihat sinar kebenaran dan tak dapat membedakan yang haq dan yang bathil. Di dalam Al-Quran diuraikan dengan ringkas kisah-kisah umat terdahulu untuk menjadi kaca perbandingan dan pelajaran.

Surat Al-Fatihah mengandung intisari kandungan Al-Quran dalam ungkapan yang begitu padat dan menakjubkan serta dengan kata-kata yang menyeluruh, mengenai hubungan manusia dengan Allah dalam tafakur dan dalam shalat. Pantaslah ia didudukkan sebagai pembukaan Al-Quran dan dinamai sebagai Ummul-Kitab, Induk Al-Quran. Ia dibaca oleh setiap muslim paling sedikit 17 kali sehari, tiap-tiap shalat fardhu.

Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak terhitung shalat orang yang tidak membaca Al-Fatihah” (HR Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan Imam Bukhari dari Qatadah bahwa Rasulullah Saw. membaca Al-Fatihah pada setiap rakaat shalat.

Nabi Saw. mendeskripsikan Al-Quran sebagai kitab yang mengandung berita peristiwa terdahulu maupun yang akan datang dan hukum yang berlaku dalam kehidupan manusia. Al-Quran adalah pemutus antara yang haq dan bathil. Bukan senda gurau. Siapa meninggalkan Al-Quran karena merasa kuat, Allah bakal mematahkannya. Siapa mencari petunjuk selain dari Al-Quran, Allah akan menyesatkannya. Al-Quran adalah tali Allah yang kokoh, peringatan yang bijaksana dan jalan yang lurus.

(Edisi mengaji Surat Al-Fatihah Semoga Terbuka semua pintu hidayah dan rahmat Allah swt. kepada kita semua. Senin 11 Ramadhan 1441 H/ 4 Mei 2020 M. Membersamai ananda Elzam, Qina, Diqi n Umminya. Stay at home.)

Share this post