HAJI DAN UMRAH SEBAGAI PERJUMPAAN TUJUH GELAR SPRITUALITAS MENUJU DUO KEHIDUPAN SEJATI.

HAJI DAN UMRAH SEBAGAI PERJUMPAAN TUJUH GELAR SPRITUALITAS MENUJU DUO KEHIDUPAN SEJATI.

Tadarrus Ayat-ayat haji dan umrah pada Surat Al-Baqarah: 189-203.

Saudaraku!
Allah secara terpisah menjelaskan kewajiban-kewajiban pokok hamba (ibadah mahdhoh) berupa Ibadah Haji dan Umrah. Agar manusia dapat mengambil pembelajaran dan ibrah secara mendetail dan mendalam dalam ayat demi ayat yang tersuguhkan dalam al-Quran.
Ayat demi ayat ini tentang Haji dan umrah terurai setelah Allah menjelaskan tentang Tujuh Derajat kemuliaan bagi orang yang berpuasa karena Puasa dan Haji sebagai satu kesatuan Ibadah yang saling mengikat dalam aspek Al-Hadyu Denda akibat tak terlaksana salah satu rangkaian ibadah haji. Atau karena Haji dan Puasa adalah dua ibadah yang sama-sama masuk dalam ibadah Fisik dan Ibadah Hati yang tak tahu niat orang berhaji dan berpuasa hanyalah orangnya sendiri.
Ayat Haji ini Allah memulanya dengan ungkapan pertanyaan orang bertanya tentang Bulan Sabit yang menentukan posisi ruang dan waktu haji.
يسئلونك عن الأهلة قل هى مواقيت للناس والحج.. الخ.
Kenapa Mereka bertanya? Karena Haji adalah perjalanan tapak tilas sejarah peradaban kemanusiaan manusia yang agung dan mulia merekalah Keluarga Nabi Ibrahim sehingga perlu dipertanyakan agar lebih jelas dimensi-dimensi historisitas dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya.
Mari kita selami secara mendalam simbol-simbol haji yang Allah abadikan di dalam surat al-Quran ini. Minimal Sepuluh simpul itu. Al-Haju: الحج sebagai dimensi kebaikan paripurna bagi setiap orang yang bermaksud dan bertuju menuju Baitullah yang kemudian Allah menyebutnya dengan al-Masjidil Haram ( المسجد الحرام) simbol tanah yang paling mulia dan tempat yang paling mulia yang semua orang tertarik untuk mendatanginya. Maka disitulah makna hakiki Haji sebagai pertautan hati manusia untuk berdialog langsung di rumah Allah yang paling afdhol dan termulia. العمرة simbol yang tak terpisahkan dengan haji yang sama sama wajib dikerjakan sekali seumur hidup (al-umur) dan dapat dikerjakan kapan punya kesempatan itu simbol makna umrah yang semakna dengan waktu dan kesempatan. Keberuntungan lah yang didapat oleh siapa saja yang memiliki maksud dan tujuan sekaligus kesempatan umur untuk menunaikan Manasik (مناسك) sebagai tapak tilas kehidupan manusia yang berperadaban yang telah melahirkan peradaban kemanusiaan dan keagamaan. Peradaban kemanusiaan agung itu Allah abadikan dengan Al-Masyaril Haram- Arafat-Muzdalifah-Mina yang diawali dengan Mawaqiit-Miqot Posisi dan lokasi penentuan komitmen kesatuan jiwa raga dengan Allah dalam dimensi keikhlasan dan kepasrahan totalitas yang terungkap dalam Talbiyah Labaika allahumma labbaik لبيك الله اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك sebagai ungkapan kesucian hati nurani yang terpatri dalam Nawaitu al-Hajja wa ahramtu bihi atau labaikallahu hajjan wa umratan. Orang berhaji dan berumrah pada intinya adalah sebuah perjumpaan pengenalan spritual hakiki dan pertautan transendental yang tak perlu berkata-kata banyak sekedar berdiam sejenak merenung sejenak di suatu tempat yang kemudian disebut oleh Allah dengan Arafaat (عرفات) Tempat lapang berbatuan juga ada bukit bukit di sampingnya yang disitulah perjumpaan hakiki kemanusian yang hanya berpakaian layaknya pakaian kematian si mayyit yang sedang menghadap sang Ilahi yang tak henti-hentinya manusia yang sedang menghadapi ilahi itu berputar balik atau berbolak balik fisik dan jiwa raganya mengelilingi rumah Allah yang kemudian Allah menyebutnya dengan (إفاضة-أفضتم ) sebagai simbol ketergantungan hamba kepada Allah yang setiap putaran terucap kata kata pujian yang muaranya hanya kepada Allah. Berputar tujuh kali laksana perputaran siang dan malam dalam dimensi tujuh hari dengan tujuan tak ada jeda kosong untuk tidak berbuat kebaikan dan kebaktian sempurna dalam segala lini kehidupan. Siapa saja yang tak sempurna tujuan kehidupannya maka semestinya diberikan sanksi (الهدي) agar sempurnalah esensi dari Al-Hajji wal Umrah yang akibat akhirnya pasca melaksanakan dan menunaikannya akan melahirkan watar karakter sifat kemuliaan yang Allah rangkai dan pertegas dari ayat demi ayat dalam surat al-Baqarah ini.
Gelar-gelar Spritualitas Kemuliaan itu antara lain:
Pertama: Gelar al-Muflihun
لعلكم تفلحون.. أية: ١٨٩
Gelar spiritualitas Al-Muflihun tak mudah tuk diraih dimana syaratnya Allah sebutkan dalam bentuk kebaikan yang tak tunggal tetapi kebaikan yang menyeluruh, menghadirkan kebaikan jangan satu sisi tapi kebaikan harus dalam sisi dan dimensi sembari terikat dengan rasa takut penghambaan dan penghormatan kepada Allah. (وليس البر بأن تأتوا البيوت من ظهورها ولكن البر من اتقى… الأية

KEDUA: GELAR AL-MUTTAQIIN.
واعلموا أن الله مع المتقين.. أية ١٩٤
Haji dan umrah muara utamanya adalah kepatuhan dan ketaatan maka haji dan umrah menghasilkan karakter ketaqwaan dalam segala dimensi kehidupan. Kehidupan personal, kumunal, institusional maupun sosial. Gelar ini berbanding lurus dengan nawaitu haji dan umrah seseorang.

GELAR KETIGA: AL-MUHSININ.
إن الله يحب المحسنين
Ibadah Haji dan ibadah umrah adalah ibadah ihsan-Ibadah akhlak, ibadah hati dan perasaan, ibadah tapak tilas sejarah peradaban manusia mulia. Sehingga menjadi pantas orang yang berhaji dan berumrah adalah orang yang muhsinun orang yang selalu menjaga keseimbangan kebaikan dan perbuatan kebaikan baik dalam hati pikiran dan perkataan juga perbuatan. Saat haji dan umrah adalah saat menyatunya ihsan mata batin seseorang untuk berinteraksi dengan Allah di tempat-tempat yang terhormat dan mulia itu ( الشهر الحرام بالشهر الحرام)
Juga waktu dan tempat yang telah digariskan dan ditentukan (أشهر معلومات) Siapa saja yang ingin meraih al-muflihun-al-Muttaqun dan al-Muhsinun dalam haji dan umrahnya harus mampu mengendalikan sikap dan watak kebinatangan dan kehawanafsuan kemanusiannya seperti jangan berkata kotor yang dapat mencederai sifat kemuliaan manusia (فلا رفث) juga tak ada kepantasan meremehkan kebaikan kebaikan yang ditetapkan oleh Allah sehingga jatuh kelembah kefasikan ( ولا فسوق) begitu pula tak ada kepantasan berbantah-bantahan dalam aspek yang tak ada faidah bahkan ke hal-hal yang membuat konflik dan disharmoni (ولا جدال). Ternyata dimensi kasar dari watak manusia itulah yang dapat membakar dan merusak esensi haji dan Umrah seseorang. Perpaduan tiga gelar itulah yang menyatu dalam stempel orang-orang yang cerdik pandai.

GELAR KEEMPAT: ULIL ALBAB أولى الألباب
Gelar ulil albab dalam makna ayat ini berbeda dengan makna dalam ayat lain. Sebab Allah memadukan dua dimensi sekagus dimensi kehidupan kebaikan duniawi dan dimensi kebaikan kehidupan ukhrawi.
ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار (٢٠١)
Duo kebaikan itu menjadi asa dan obsisi seluruh insani yang terpatri pada dirinya karakter dan watak. Al-Muflihûn-Al-Muttaqûn-Al-Muhsinûn dan Ulil al-Bâb.

Tadarrus edisi Ramadhan. Sabtu. 23 Ramadhan 1441 H/ 16 Mei 2020 M

Share this post