EMPAT RAHASIA KEMULIAAN DAN KEHORMATAN DALAM AYAT PERTAMA DARI AWAL SURAT AL-BAQARAH

EMPAT RAHASIA KEMULIAAN DAN KEHORMATAN DALAM AYAT PERTAMA DARI AWAL SURAT AL-BAQARAH


بسم الله الرحمن الرحيم
الم ذلك الكتاب لا ريب فيه هدى للمتقين الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون والذين يؤمنون بما أنزل اليك وما انزل من قبلك وبالأخرة هم يوقنون أولئك على هدى من ربهم وأولئك هم المفلحون.
Saudaraku!

Dua Gelar kemuliaan itu adalah gelar Al-Muttaqun dan Gelar al-Muflihun.
Bila mana gelar itu disematkan kepada hamba Allah yang bernama Manusia?.

Pertanyaan mendasar adalah: kenapa ayat ini diawali dengan Al-Muttaqun dan diakhiri dengan al-Muflihun.
Juga Diawali dengan Lafazh zalikal kitaabu laa raiba fiiihi?
ذلك الكتاب لا ريب فيه
Sebuah penegasan bahwa al-Kitabu dalam makna dasariyah adalah Al-Quran yang tertulis. Ada rahasia ilahi dalam lafazh zalika dan al-kitaabu. ذلك إشارة للبعد وان القرآن قريب

Pertama: Setinggi apapun logika Anda untuk mengkaji isi dan kandungan al-Quran tak akan pernah berakhir dan usai. Sebab tambah jauh dan tambah jauh setiap kali dan acapkali Anda mencerna dan mencermatinya tambah haus dan tambah penasaran bagi siapa saja yang mencoba memahaminya karena maha luasnya kandungan al-Kitab yang tertulis dan tersirat itu.

Kedua: Allah memberikan isyarat akan al-kitab sebagai nama lain al-Quran. Kenapa?
Allah ingin mengajarkan hambanya akan pentingnya Tulisan. Al-Quran jika hanya sebatas al-Quran dengan makna bacaan semata niscaya al-quran hanya tinggal kenangan seiring berakhirnya para penghafal-penghafal al-quran di era sahabat Nabi dan Tabiiin. Begitulah esensinya sebuah Tulisan yang abadi dan akan dikenang sepanjang masa. Nah disinilah Kemukjizatan al-quran karena dia tertulis alkitabah dalam al-kitab yang abadi sepanjang zaman dan masa seabdai sang pemilik kalam alkitab yang mulia ini.

Ketiga: Meski jangkauan al-kitab itu terkadang jauh dari jangkauan nalar kita nalar manusiawi. Allah mengajarkan kita agar jangan pernah ragu dengan tulisan mulia yang tersusun dalam dimensi wahyu ini. Karena keraguan akan mempersempit ruang analisa dan ruang sprit kita untuk mengkaji rahasia-rahasia ilahi yang termuat dalam dokumentasi tertulis itu.

Keempat: Untaian tulisan kalam mulia yang tak boleh ada keraguan pada diri manusia meski keraguan ilmiah yang merasuki nalar logis kita, tak pantas itu karena al-kitab tidak hanya berorientasi ilmiah empiris namun subtansinya adalah Hudan هدى petunjuk universal bagi siapa saja yang meyakini totalitas kebenaran al-kitab al-quran.

Bersambung……..

Selamat membaca:Malam 13 Ramadhan 1441 H. 5 -5- 2020 M

Share this post