DUA PENYEBAB KEGAGALAN DAN DUA PENYEBAB KESUKSESAN: Tadarrus ayat 112 surat Áli Imràn

DUA PENYEBAB KEGAGALAN DAN DUA PENYEBAB KESUKSESAN: Tadarrus ayat 112 surat Áli Imràn

بسم الله الرحمن الرحيم
ضربت عليهم الذلة أين ما ثقفوا إلا بحبل من الله وحبل من الناس وبآئوا بغضب من الله وضربت عليهم المسكنة ذلك بأنهم كانوا يكفرون بآيات الله ويقتلون الأنبيآء بغير حق ذلك بما عصوا وكانوا يعتدون (١١٢)

Mari kita mencoba menelusuri hikmah yang mulia dari sisi makna tekstual dan kontekstual dari satu ayat ini.
Pertama: Allah menggunakan kata ضربت dengan beragam makna yang terkandung dalam kata itu. Dhuribat bisa bermakna ditimpakan karena memang timpaan itu bisa memukul orang yang tak kuat menghadapinya. Dhuribat bisa juga bermakna diberikan contoh agar seseorang bisa mengambil bekas dari goresan yang berbekas akibat goresan itu. Dhuribat bisa juga bermakna disiksa karena beban yang dipikulnya tak mampu dipertahankan dan dipertanggungjawabkan. Dhuribat bisa juga bermakna diilustrasikan seperti sesuatu yang menarik dan disenangi seperti penggambaran kalimat tauhid dengan pohon indah rindang dan kokoh kuat akar pancarnya terhujam ke bumi.
Nah, sekarang ini Allah menggambarkan tentang sebuah Azzillah dengan aneka makna yang terkandung di dalamnya.
Azzillah bisa berarti : Kehinaan-Hina Dina tak memiliki kewibawaan. Azzillah bisa berarti kemunduran karena akibat zillah lemah semangat yang ada pada dirinya. Azzillah juga bisa saja berarti kemunafikan karena watak kemunafikan membuat seseorang menjadi hina di hadapan Allah dan manusia. Azzillah juga bisa berarti kegagalan karena sering orang itu meraih kegagalan disebabkan ketidak taatannya pada komitmen kesepakatan yang telah digariskan terhadapnya.
Kedua: أين ما ثقفوا
Ungkapan kegagalan dan kehinaan itu terletak pada dimensi ruang dan waktu. Orang gagal dan terhinakan karena tidak bisanya mempergunakan waktu dan kesempatan dalam upaya meraih kebahagiaan dan kesuksesan. Posisi seseorang bisa membuatnya sukses juga bisa membuatnya gagal. Kata Tsuqifu bisa bermakna wujidu ditemukan diperoleh diraihnya. Karena makna ini bisa menjadi lahirnya sebuah peradaban keilmuan (الثقافة) bagi siapa saja yang terus berdialektika dengan ruang waktu dan zaman. Nah orang yang gagal dalam dimensi ini karena tidak menjalankan dua dimensi dalam kehidupannya.
Ketiga: Wa Dhuribat aliahimul maskanah ( ضربت عليهم المسكنة) bermakna bahwa kemiskinan, ketidakmampuan, ketidaksejahteraan, ketidakberdayaan, dalam makna yang sangat eksplisit pada aspek Assakan (السكن) tempat tinggal kehidupan manusia, atau ketidakketenangan seseorang (السكن-السكينة) dalam aspek psikologis dan fisikis mendera setiap orang dalam kehidupanya jika tidak mampu menyeimbangkan dua interaksi kehidupan manusia. Dua interaksi penyebab kebahagiaan dan keselamatan berikut kesuksesan itu adalah:
Ketiga: إلا بحبل من الله
Penyebab utama pertama penghilang al-zillah dan al-maskanah itu adalah interaksi vertikal-sprirual-transendental dengan Allah dalam setiap saat dan tempat. Dimensi komunikasi intrapersonal dengan Allah diibaratkan seperti Tali Temali yang saling menghubungkan satu dengan yang lain. Atau tali temali yang bisa mengikat sesuatu agar tidak hilang dan rusak. Atau tali temali yang membuat sesuatu saling menguatkan dan saling mengikatkan seperti tali yang mengikat tali yang lain agar tak berserakan.
Di sinilah bahasa metaforis al-quran (التشبه-المشبه به ووجه الشبة) yang indah dari Allah dengan menyerupakan atau menganalogikan Agama Allah, Islam dengan Tali Allah. Artinya Agama laksana tali temali yang mampu mengikat manusia agar tidak liar dalam menapaki kehidupannya. Tali dapat memperkokoh ikatan yang tak akan bisa putus jika satu sama lain saling melipat dan memintal. Manusia jika saling memperkuat tentu tak akan pernah goyah dan berpecah belah antarsatu dengan yang lain.
Tali sebagai penyambung kehidupan yang terkadang bisa terputus oleh egoisme dan hedonisme kehidupan. Maka tali yang disebut dengan tali agama memberikan kesempatan menjadi manusia yang kokoh dan kukuh dalam mempertahankan sisi kemanusiaannya dan sisi ikatan emosionalnya dengan Allah swt.

Keempat: وحبل من الناس
Tali dari Manusia. Tali manusia itu dalam aneka bentuk:
Satu: Tali akibat ikatan rahim kelahirannya- maka tali itu disebut tali keluarga inti, yang harus saling memperkuat satu dengan yang lain. Tali ini berfungsi dalam segala mikro-memperkuat komitnen kekeluargaan yang utuh sebagai miniatur dunia kecil yang menjadi ukuran keharmonisan yang berskala makro di mana itu harus berangkat dari tali temali keluarga. Kemudian disebut sebagai tali syaqoiqul arham-tali dari tulang rusuk tulang rusuk yang saling menyatu dalam satu rahim ibu dan bapak.
Dua: Tali Dari manusia bisa bermakna tali ikatan primordial-komunal yang bisa menjadi perekat yang lebih bermanfaat antarsesamanya. Tak apalah itu terjadi karena tak bisa dipungkiri setiap orang pasti memiliki sifat subjektif dalam memahami lingkungan sekitarnya dan ini adalah sunnatullah bagi setiap manusia (كل حزب بما لديهم فرحون).
Tiga: Tali seagama, pengikat persaudaraan yang sangat kuat di kalangan masyarakat muslim di mana saja mereka berada. Mereka bersaudara karena dipersatukan oleh tali yang namanya agama (إخوانا). Maka tali agama tak boleh putus akibat kita cara kita memahani agama kita, jangan gara-gara perbedaan pemahaman kita terhadap teks agama membuat kita berpecah belah, tak bersatu padu apalagi bermusuhan. Maka agama adalah bagian dari tali yang menyatukan kemanusiaan.
Empat: Tali kemanusiaan dalam makna yang universal, global. Atas nama kemanusiaan tak boleh membedakan seseorang dari ras, suku dan agamanya. Namun lihatlah dari sisi kemanusiaan sebagai manusia yang hidup bersama dan hidup saling membutuhkan.
Inilah dua sisi yang berlawanan namun diberikan jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya. Di sinilah salah satu keajaiban al-Quran dengan mengorbitkan persoalan namun diberikan solusi untuk mengatasinya.

Share this post