DAKWAH FACEBOOKIYYAH: MEDIA VIRTUAL-SOSIAL DALAM MENEBAR KEBAIKAN DAN KEHARMONISAN DI TENGAH MULTIKULTURAL BANGSA DAN AGAMA

DAKWAH FACEBOOKIYYAH: MEDIA VIRTUAL-SOSIAL DALAM MENEBAR KEBAIKAN DAN KEHARMONISAN DI TENGAH MULTIKULTURAL BANGSA DAN AGAMA

Dalam kajian kali ini, penulis mencoba mengorbitkan sebuah terminologi khas yang penulis sebut dengan terma Dakwah Facebookiyah-atau kalau lengkap dengan lahjah Arabnya berbunyi Dakwah Faisbuukiyyah.
A. KAJIAN EPISTEMOLOGIS DAKWAH FACEBOOKIYYAH.

Sebagai salah satu referensi yang otoritatif terkait tema ini, penulis menemukan satu diantara banyak buku yang berbahasa Arab yang ditulis oleh Ali Muhammad Syauqi, berjudul:
الفيسبوك آدابه وأحكامه,مصر: مكتبة الرجاءص ١-١٢٠ صفحة. الطبعة الأولى ١٤٣٨ ھ/ ٢٠١٧ م.
Kitab ini secara garis besar terdiri dari Tujuh bab. Bab pertama membahas tentang Etika Umum di laman Facebook. (الآداب العامة للفسيبوك)
Kedua: Adab yang berhubungan dengan laman pribadi (الآداب المتعلقة ببيانات الصفحة الشخصية)
Ketiga: Adab yang bersangkutan dengan permintaan pertemanan atau memutuskan pertemanan atau menghapusnya.
(الآداب المتعلقة بطلب الصداقة أو حذفها وكذا الحظر)
Bab keempat: Etika terkait tentang Kekaguman terhadap laman FB atau bergabung dalam laman FB.
(الآداب المتعلقة بالإعجاب بالصفحات او الإنضمام الى المجموعات)
Bab kelima: Adab terkait menshare laman FB.
(الآداب المتعلقة بالنشر الفيسبوكى)
Keenam: Etika memberikan Jempol atau berkomentar di laman FB.
( الآداب المتعلقة بالإعجاب بالمنشورات أو التعليق عليها)
Ketujuh: Atika Korespondensi di laman FB.
(الآداب المتعلقة بالمراسلات الفيسبوكية)
Kitab ini memang masih sangat normatif sekali, mengambil sisi-sisi penjelesan dari al-Quran tentang Konsep berbahasa yang baik dengan menampilkan minimal enam bahasa yang baik dan humanis di dalam istilah al-quran semisal qaulan kariima, qaulan makrufa, qaulan sadiida, qaulan layyina, qaulan maysura, qaulan baliigha, ahsanal qaul dan sederavasi dengan itu. Teks-teks itu dipakai untuk melihat masing-masing etika yang terkait dengan laman FB, laman pribadi, laman publik, laman pertemanan khusus, berikut etika me-like, menonjok tombol super, emoji senang, ketawa, heran, sedih, dan seterusnya. Berikut tata cara menshare dan berkomentar sangat disesuaikan dengan prinsip-prinsip komunikasi dalam al-Quran.
Nah, berangkat dari tulisan tersebut, penulis ingin mencermatinya dari sisi yang berbeda dengan pendekatan yang berbeda yang kemudian penulis menyebutnya dengan Dakwah Facebookiyyah: Media Virtual-Sosial dalam menebar Kebaikan dan keharmonisan di tengah-tengah multikultural ummat.

Ada beberapa kata kunci yang terlebih dahulu harus difahami oleh pembaca.
Pertama: Dakwah Facebookiyyah.
Ini istilah yang bisa dirujuk dari istilah Syaikh Ali Syauqi dengan istilah al-murasalaat al-faisbuukiyyah. Dengan menggunakan istilah al-faisbukiyyah. Nah. Penulis menggunakan term Dakwah Facebookiyyah dengan tidak merubah bahasa aslinya meski ditambahkan ya’ nisbah iyyah, disandarkan ke fb yang menjadi sifat (adjective) dari lafazh dakwah yang ada ta’ marbuthohnya sehingga berbunyi : دعوة فيسبوكية
Secara etimologi tentu lafazh tersebut terdiri dari dua kata. Kata dakwah dan kata facebookiyyah. Yang secara literalis bermakna dakwah yang bermediakan FB, atau dakwah via FB, atau dakwah bersifat FB.
Sedangkan secara epistemologis Dakwah Facebookiyyah (DF) dalam dilihat dari tiga sisi utama:
Sisi Epistemologis DF:
Sisi ini dapat dianalisa pada sisi pengertian secara etimologi (لغة) maupun secara terminologi menurut para pakar di bidang DF ini (اصطلاحا).
Terminologi Dakwah Facebookiyyah ini adalah menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang disalurkan melalui laman Facebook dengan konten-konten materi yang menyejukkan, mempersuasi, mengedukasi sekaligus mengentertan dan mengeinterpreneur komunikan facebooker untuk dapat terpacu, termotivasi, terobsesi menjadi yang terbaik dan meraih kehidupan yang dicita-citakannya.

Sisi Ontologis DF:
Ontologis dari Dakwah facebookiyyah ini adalah teman dan sahabat yang menjadi teman di laman FB. Atau komunikan facebooker yang ada di laman FB.
Di mana kategori pertemanan sebagai objek dari dakwah facebookiyyah ini terbagi dalam tiga segmentasi: teman di Publik, Teman follower, yang diadd menjadi teman pertemanan di laman FB nya dan Private, laman FB pribadi yang dilihat, dikomen oleh si empunya akun FB itu sendiri.

Secara tipologis, teman FB sebagai objek ontologis dari DF ini terbagi menjadi dua kategori umum, teman facebooker yang Aktif, teman facebooker yang pasif.
Teman facebooker yang aktif beraksi cepat atas materi atau konten DF yang masuk ke laman akun Facebooknya, baik dengan menekan emoji, Like, Super, Lover, Sad, hate, (suka, Wow, Super, cinta, benci, sedih)
Kesemua tipologi itu dapat dikategorikan sebagai objek dari DF ini.
Sisi Aksiologis DF:
Adapun sisi aksiologis DF ini dapat dilihat dari sisi fungsinya untuk Edukasi: memberikan informasi terkait tentang aspek pendidikan yang bisa jadi mengubah mindset teman facebook nya tentang arti didikan kebaikan tersebut. Sisi kebermanfaatan sebagai media informasi dalam rangka memberikan informasi yang bisa membimbing dan mengarahkannya untuk dilaksanakan atau untuk ditinggalkan, tentu disesuaikan dengan konten informasi yang dikirimkan ke laman FB. Aspek fungsi sosialisasi, dapat diukur dari konten dakwah atau ajakan kebaikan apa yang perlu disebarluaskan di laman FB guna publik bisa mengetahuinya dengan baik, seperti sosialisasi materi dakwah, sosialisasi para penceramah yang akan mengisi pengajian virtual. Sedangkan untuk fungsi aktualisasi, terlihat pada posisi da’i/komunikator sebagai subjek dakwah agar lebih dikenal dan lebih akrab dengan komunikan facebook.
Adapun aspek eintertainisasi, sebagai wahana memberikan hiburan kepada semua orang yang ada di laman FB. Memberikan ruang untuk berekspresi dan berimajinasi bagi facebooker di setiap momentum yang ada dan tentu terakhir sebagai sarana dakwahnisasi memberikan nuansa-nuansa religi dengan konten-konten dakwah yang bersumber dari Al-Quran, al-Hadis, Nasihat para ulama, kata kata bijak dari para cendekiawan, ilmuwan, budayawan, berikut dari meme-meme inspiratif yang disebarkan di laman pribadi maupun di laman publik FB.

B. DAKWAH FACEBOOKIYYAH SEBAGAI MEDIA VIRTUAL-SOSIAL.
Virtual itu merupakan istilah dalam dunia media, baik dalam dunia jurnalistik-broadcastik maupun dunia digital. Istilah Virtual reality (VR) ini sesungguhnya dipopulerkan oleh Jaron Lanier pada tahun 1980 sebuah teknologi yang memungkinkan seseorang melakukan sesuatu simulasi terhadap suatu objek nyata dengan menggunakan komputer yang mampu membangkitkan suasana tiga dimensi yang membuat pemakai seolah-olah terlibat secara fisik. Coba kita telisik sedikit ke KBBI tentang kata Virtual ini, dua makna, virtual itu maya, tidak nyata. Dan Virtual itu sesuatu yang Daring, nyata, bersifat jelas, terang, terbukti atau terwujud. Virtual juga sebagai kata sifat yang berkaitan dengan hasil budi pekerti bisa berupa karya buah pikiran yang bersifat maya, atau imajinatif namun bisa diaplikasikan juga oleh dunia perkembangan teknologi modern seperti internet.
Intinya Virtual itu dari interaksi dunia fisik menuju interaksi dunia non-fisik yang menyebabkan jarak tempuh jauh dan mahal menjadi jarak tempuh singkat dan murah dan tergantung fulsa dan sinyal.
Nah, virtual kehidupan menghendaki akan kemelekan sosial masyarakat akan dunia digital dan dunia 4. 0 bahkan era 5.0 yang semua serba fulsa dan sinyal. Ini artinya manusia yang dulunya berada dalam kehidupan serba manual beranjak menuju kehidupan sosial yang berbentuk virtual.
Perubahan pola inilah yang melahirkan terma baru berupa virtualisme kehidupan yang diakibatkan oleh teknologi virtualisasi yang melahirkan masyarakat virtual.
Masyarakat virtual lahir dari kehidupan yang serba menyikapi persoalan kemanusiaan yang bisa menjadi sebuah peradaban keagamaan dan peradaban sosial.
Salah satu media virtual itu adalah Facebook dengan secara fisik tak ketemu namun secara wajah dan interaksi sangatlah intens.
C. KONTEN DAN ETIKA DALAM MENYEBARKAN DAKWAH HARMONI.
paling tidak ada sebelas etika di dalam mengirim konten isi di laman FB, saya kutip dari buku al-faisbuk adab dan hukumnya karya Ali Syauqi.
Pertama: الإخلاص
Dalam menyebarkan konten di laman Fb meski dibarengi dengan nawaitu, motivasi yang didasari dengan semangat keihlasan, keikhlasan hati menjadi penentu berpahalanya apa yang dikerjakan sesuai nasihat dari Nabi Muhammad saw. Perbuatan tergantung pada niatnya. Niat memerlukan keikhlasan. Maka dalam mengirim informasi,materi dakwah maupun nasihat-nasihat lainnya harus berangkat dari adab keikhlasan.

Kedua: الحياء
Tidak semua hal bisa dikirim ke laman Fb sebab ada hal-hal yang sifatnya privasi maupun kurang sopan tidak sepantasnya dilihat dan diketahui oleh teman di FB. Perlu sikap malu juga dalam bermedia sosial, dengan tidak mengumbar segala hal, baik hal yang sifatnya bisa mengurangi wibawa keluarga ataupun bisa memberikan kesan negatif bagi orang lain. Malu adalah sikap yang paling elegan dalam bermedia agar ada kontrol diri dalam menyampaikan banyak hal di laman FB yang dibaca dan dilihat oleh ribuan nitizen fb.

Ketiga: العدل فى الإملأ والكتابة
Dalam menulis pesan, perlu diberikan porsi yang seimbang. Diperlukan keadilan yang proporsional dalam menulis dan mengirim pesan. Tidak semua pesan dikirim ke laman fb. Perlu selektif agar para pembaca merasa nyaman dengan laman FB.
وليكتب بينكم كاتب بالعدل

Keempat: صدق الحديث
Kejujuran dalam menyampaikan konten isi medsos. Konten berita yang disampaikan harus jelas sumbernya. Berangkat dari kejujuran ilmiah dan kejujuran tuturkata. Sebab kejujuran tuturkata membawa dampak positif menuju kebaikan yang lebih banyak lagi.

Kelima: الدلالة على الخير
Konten yang dikirim mesti berorientasi pada sasaran ajakan untuk melaksanakan perbuatan yang baik. Pesan selalu mengarah kepada kebaikan, pesan berpijak pada hal-hal yang membuat orang termotivasi untuk melakukan kebaikan. Membangkitkan semangat optimisme untuk meraih kemuliaan dan kesuksesan.
من دل على خير فله أجره مثل أجور من فعله.
من دل على خير كفاعله
Prinsip mengajak kepada kebaikan mendapatkan pahala seperti pahala yang mengerjakannya.

Keenam: الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر
Tak kalah pentingnya, dalam mengirim konten isi dalam laman fb harus berorientasi juga pada amar makruf nahi mungkar. Sebuah konsep dakwah keseimbangan antara mengajak kepada kebaikan juga mencegah kemungkaran dalam sisi lain. Positif dan negatif dalam dimensi kehidupan kemanusiaan pasti selalu beriringan dan berbarengan. Justru itu diperlukan upaya untuk bisa melakukan dan menyeru,mengajak ke arah kebaikan di samping berupaya memberikan pencegahan bagi siapa saja yang melakukan hal-hal yang negatif.

Ketujuh: احسان الكلام
Bahasa yang sopan merupakan salah satu daya tarik tersendiri di kalangan nitizen FB. Bahasa santun dan humanis menjadi penentu banyak yang melike, mensuper, mewow bahkan men share konten itu oleh para follower FB.
Kalau mau mendapatkan respon yang positif gunakanlah bahasa yang baik, santun dan beretika, meskipun bahasanya sangat sederhana dan simple.

Kedelapan: عزو العلم إلى أهله
Salah satu etika berkomunikasi adalah menyebutkan referensi dan sumber informasi dengan jelas. Menyebut siapa yang punya pendapat dan teori atau statement. Sebab dengan menyebut kan sumber akan terhindar dari plagiarisme atau hal yang merugikan diri sendiri. Sebagaimana nasihat Syaikh Ibn Abdil Barr.
قال إبن عبد البر إن من بركة العلم أن تضيف الشيء الى قائله (جامع بيان العلم وفضله ص:٢/٩٣٢)
Di antara keberkahan ilmu itu adalah dengan menyandarkan sesuatu itu kepada siapa yang mengatakannya.
Menyebutkan siapa yang memilik ucapan itu. Keberkahan ilmu justru terletak pada sesering mungkin kita menyebut ulama, syaikh, guru, atau sumber utama dari apa yang disampaikannya itu,
baik lisan maupun tulisan.

Kesembilan: اجتناب التفاخر والتكاثر

Salah satu etika bermedsos adalah menghindari sikap sombong dan bergaya berlebihan.
Agar lebih bermanfaat konten yang disampaikan, pengirim tidak ada niatan untuk menyombongkan diri sendiri atau memamerkan apa yang dimilikinya, minimal ada nawaitu untuk tahadduts binnikmah, bercerita atas nikmat Allah yang terkaruniai untuk tetap bisa bersyukur dan berterimakasih.

Kesepuluh: إجتناب تزكية النفس
Hindari memuji diri sendiri dalam bermedia sosial sangatlah etis. Tak elok menyanjung diri sendiri di laman FB. Lebih baik tawaddhu rendah hati tak congkak apalagi ada niatan riya’ atau sombong. Ini penyakit yang bisa menghilangkan esensi bermedia. Menghilangkan fahala dakwahnya.

C. KONTEN-KONTEN DAKWAH FACEBOOKIYYAH YANG MENYEJUKKAN.

Ada beberapa konten dakwah yang dipandang sebagai konten yang dapat dijadikan sebagai instrumen utama dalam menjalankannya dakwah yang menyejukkan. Minimal Lima konten dakwah layyinah itu.
Pertama: Konten yang bersumber dari Al-Quran
Yang kemudian disampaikan dengan bahasa lisan tutur atau bahasa tulisan yang disesuaikan dengan logika pikir komunikannya. Di sampaikan sesuai kemampuan nalar penerimanya. Al-Quran sebagai sumber inspirasi,informasi bahkan sumber ilmu pengetahuan yang beraneka ragam. Pesan-pesan inspiratif dari al-Quran dapat menggugah semangat juang dan pengabdian untuk mengembangkan keilmuan dan kecerdasan melalui proses pendidikan yang terinpirasi dari kalam wahyu ilahi ini.
Kedua: Konten yang bersumber dari hadis Nabi Muhammad Saw. Ribuan hadis Nabi Muhammad saw yang menjelaskan tentang aspek humanis dan aspek harmonis. Sebab nabi muhammad saw sendiri melekat sifatnya dan karakter nya sebagai sosok panutan yang sangat paripurna (insan kamil). Justru dengan memuat konten hadis di laman fb dapat memberikan pencerahan bagi pembacanya. Dan di sinilah kekuatan buku yang anda sedang baca ini. Kekuatannya pada kutipan berbagai kutipan dari hadis-hadis inspiratif yang penulis nukil dari berbagai referensi kitab.
Ketiga: Konten yang bersumber dari Qaul-qaul ulama’-Nashoih addiniyyah wal wahoyaa imaniyyah yang kemas dengan bahasa yang singkat, lugas dan mudah difahami dan dicerna oleh pembaca. Isi buku ini kelebihannya ada pada aspek ini juga.
Keempat: Konten berasal dari ungkapan para teoritis, ilmuwan, cendekiawan, budayawan yang dapat menggugah semangat keagamaan dan kebangsaan bagi siapa saja yang dapat mencernanya dengan baik.
Kelima: Konten dakwah dikemas dengan bahasa yang tidak provokatif, radikal, kasar, rigid, kaku. Sebab jika pesan dan konten dakwah dikemas dengan bahasa lisan dan tulisan yang kasar dan arogan akan menyebabkan ketidakberterimaan di kalangan facebooker atau nitizent itu sendiri.

D. DAKWAH FACEBOOKIYYAH DALAM DINAMIKA SOSIAL KULTURAL MASYARAKAT

Dakwah tidak saja dengan model yang konvensional atau model dakwah yang kultural maupun struktural, namun perlu beradaptasi dengan lingkungan sosial yang sedang berkembang di kalangan masyarakat.
Salah satu metode dakwah yang akomodatif adalah metode dakwah menggunakan media sosial, seperti FB, WA, IG, twitter, line, massanger, Email, dll.
Memanfaatkan media Sosial sebagai sarana berdakwah merupakan media yang paling strategis untuk menyuarakan misi kebaikan beragama, berbangsa dan bermasyarakat juga bernegara. Media sosial sebagai media yang paling cepat direspon oleh masyarakat digital global saat ini terutama di kalangan anak-anak millenial.
Media Sosial yang sudah memvirtual di kalangan masyarakat tentu pasti ada konseksi logis dari perubahan era ini.
Dinamika sosial itu begitu cepat terjadi di tengah-tengah masyarakat akibat cepat dan pesatnya informasi yang sampai ke masyarakat. Apalagi informasi itu secara massif disebarluaskan oleh para nitizen sehingga dapat mengakibatkan sesuatu yang berdampak negatif kepada masyarakat itu sendiri. Terlebih-lebih pada aspek-aspek yang sensitif dan rentan terjadinya caos, konflik dan ketegangan di kalangan masyarakat.
Dinamika sosial harus direspon dan disikapi dengan mengedepankan:
Pertama: Keimanan dan keteguhan prinsip. Prinsip beragama yang rahmatan lilalamin, beragama yang bisa merasakan adanya kebenaran di pihak orang lain, pemahaman agama yang benar dan baik dengan mengedepankan sikap saling melengkapi dan saling menghargai orang lain,sikap toleran, sikap akomodatif,progresif, inovatif bahkan transformatif menjadi penentu harmonisasi ditengah kerangaman budaya dan suku, ras bahkan agama.
Kedua: Pemahaman keilmuan yang konprehensif. Perlu pengayaan keilmuan dalam berbagai perspektif tidak cukup dengan satu perspektif saja tapi multiperspektif. Dengan bermodal ilmu pengetahuan yang memadai paling tidak dapat mengatasi segala jenis dinamika sosial masyarakat yang berkembang.
Ketiga: Jaringan dan interaksi sosial yang terampil. Keahlian dalam berjejaring sosial justru dapat mendatangkan berkah dan kesuksesan bagi yang bersangkutan. Sebab jejaring sosial itu bagian yang tak kalah penting di kalangan masyarakat. Dengan tiga strategi di atas dapat diharapkan menjadi modal yang paling fungsional dalam menyikapi dinamika sosial kultural-virtual masyarakat Indonesia.
Semoga. Amin. Selamat membaca buku Dakwah Facebookiyyah ini. Semoga bermanfaat untuk insan nitizen dan insan millenial.
Insya Allah akan terbit dalam waktu dekat ini.

Share this post