ALLAH DAN SYAITHAN DALAM DIMENSI KEMANUSIAAN:MENGGALI DIMENSI SUFISTIK-TRANSENDENTAL DALAM MENUAI KARAKTER HAMBA YANG SMART (CERDAS-INTELEK-RASIONAL)

ALLAH DAN SYAITHAN DALAM DIMENSI KEMANUSIAAN:MENGGALI DIMENSI SUFISTIK-TRANSENDENTAL DALAM MENUAI KARAKTER HAMBA YANG SMART (CERDAS-INTELEK-RASIONAL)


TADARRUS SURAT AL-BAQARAH AYAT 267-269


بسم الله الرحمن الرحيم
يا أيها الذين آمنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم ومما أخرجنا لكم من الأرض ولا تيمموا الخبيث منه تنفقون ولستم بآخذيه إلا أن تغمضوا فيه وأعلموا أن الله غني حميد (٢٦٧) ألشيطان يعدكم الفقر ويأمركم بالفحشآء والله يعدكم مغفرة منه وفضلا والله واسع عليم (٢٦٨) يؤتى الحكمة من يشآء ومن يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثيرا وما يذكر إلا أولوا الألباب (٢٦٩)

Saudaraku!
Ada Empat Kata Kunci yang ingin kita gali dari Makna Tafsir dari ayat di atas.
Atthayyibah VS Al-Habiitsah
Assyaithon-al-Faqro wal fahsya’
Allah- Maghfirah wa al-fadla
Al-Hikmah- Khairon Katsirron-Ulil Albab.

Pertama: Atthayyibah dalam konten ayat ini lebih kepada materi filantropi-nafaqah-infaq dan sadaqah yang baik. Ungkapan atthayyibah menjadi general makna dengan makna hal-hal yang bermuara pada kebaikan bukan saja kebaikan aspek materi juga kebaikan pada aspek non materi. Hal ini ditunjukkan oleh lafazah ماكسبتم apa yang kalian usahakan.
Apa yang kita usahakan dari perkataaan maka haruslah keluar perkataan yang benar dan baik. Apa yang kita usahakan dari pekerjaan akan melahirkan hasil dan pekerjaan yang baik dan benar. Sehingga apa yang kita nafaqahkan pun harus berangkat dari usaha dan kinerja dan cara kita memanfaatkan bumi dan hasil bumi. Kesemua itu bermuara pada atthayyibaat.
Sedangkan al-Khabitsaat lawanan dari atthayibat. Yaitu barang yang jelek sesuatu yang tidak disenangi oleh semua orang. Terlebih lagi dalam mengeluarkan zakat dan sadaqah dari barang yang jelek, sumber yang tidak halal. Ini akan menyebabkan orang jauh dari pengampunan dan keberkahan dari Allah dan tentu tak akan menyandang gelar ulul albab disebabkan tak ada tersematkan pada diriinya Hikmah Kemuliaan Allah.

Kedua: Posisi syaithan dalam kehidupan manusia sangatlah strategis sebagai upaya pembelokan karakter manusia yang baik ke karakter yang buruk dan disinilah sisi syaitan untuk melakukan dua hal kepada manusia. Pertama: Membuat manusia selalu dalam Kekurangan-Al-Faqro. Kekurangan harta benda, kekurangan ilmu pengetahuan (alhikmah), kekurangan adab dan etika, sehingga dengan serba kekurangannya itu Syaithan dengan leluasa menggiring manusia menuju pekerjaan dan perbuatan yang keji dan perbuatan yang mempiwali karakter positif manusia. (al-Fahsya’). Syaithan dengan segala derivasi maknanya شطط, شاط, شوط, شطن yang bermakna jauh, sesat, berkobar, terbakar dan ekstrim menandakan fungsionalitas syaithan sebagai penggoda dan perusak esensi kemanusiaan. Kedua: Syaitan selalu mengajak pada al-Fahsya’: Perbuatan dan tindakan yang tidak dibenarkan oleh Allah dan Rasulnya. Selalu menggiring manusia agar jauh dari khairon katsiron yang terakomulasi dalam al-Hikmah itu. Nah, Disinilah peran Iktisab, ikhtiar usaha demi usaha untuk menghindari diri dari godaan dan rayuan syaithan itu.

Ketiga: ALLAH dengan Al-Maghfirah dan al-Fadl
Ayat ini menjelaskan seolah-olah posisi Syaithan dengan Allah saling berhadap-hadapan. Allah pada posisi kebaikan sementara syaithan dalam posisi kejelekan dan kejahatan. Nah disinilah letaknya Adab dan etika kita dalam memposisikan Allah sebagai Zat yang maha suci dan maha mulia. Intinya dua posisi ini menjelaskan bagi kita apakah mau tertipu oleh rayuan syaithan ataukan kita berada dalam garis khittah dan perintah Allah yang dengan mentaatinya kita meraih double kemanfaatan. Pengampunan noda dosa sekaligus pelimpahan karunia rizki dan keutamaan lainnya. Tentu maghfirah dan keutamaan itu akan didapat jika mampu mempertahankan al-thayyibat dan menyingkirkan al-khabitsaat sekaligus menyingkirkan syaithan sebagai sumber al-khabitsaat itu.

Keempat: Hikmah-khairon katsiron dan ulul al-Bab

Hikmah dalam segala dimensinya dapat dipetakan menjadi tiga tingkatan penting:
Pertama: Hikmah dalam dimensi Syariah
Kedua: Hikmah dalam dimensi Aqidah
Ketiga: Hikmah dalam dimensi al-Makrifah, al-thariqah wa al-Haqiqah

Menjadi prasyarat pemerolehan hikmah itu adalah interaksi aktif dengan Allah dalam dimensi ruang dan waktu. Serta upaya aktif menjauhi bisikan hawa nafsu dan ajakan syaithaniyah. Dua kata kunci inilah menjadi kunci mendapatkan Hikmah itu.
Hikmah dengan makna pengamalan ilmu maka dilihatlah dalam tiga dimensi.
الأعمال عند اهل الفن على ثلاثة أقسام عمل الشريعة وعمل الطريقة وعمل الحقيقة
Perbuatan dalam praktek ilmuan religi terbagi dalam tiga ranah. Praktek syariah. Praktek thariqoh dan praktek haqiqah.
Atau bisa disebukan sebagai praktek Islam, praktek iman dan praktek ihsan yang kemudian yang tiga ini disebut sebagai Trilogi Beragama.
Redaksi lengkapnya saya kutip dalam kitab iiqozul himam fi syarhil hikam karya al-arif Billah Ahmad bin Muhammad bin Ajiibah al-Hasany. halaman. 11. Sbb:
تقول عمل العبادة وعمل العبودية و عمل العبودة اي الحرية
Redaksi lain, Praktek Ibadah, Praktek Penghambaan, dan Praktek Kehambaan. Atau dengan redaksi lain.
عمل أهل البداية وعمل أهل الوسط وعمل أهل النهاية
Hikmah dalam kontek implementasi keilmuan terletak pada praktek para pemula pengkaji keagamaan, praktek pegiat level pertengahan dan praktek pegiat level tertinggi.
Hikmah yang ingin dituju adalah kemampuan meramu tiga dimensi itu dalam praktek-praktek orang yang tercerdaskan dan tercerahkan yang kemudian al-Quran menyebutnya dengan ulul albab. Di mana praktek amal solehnya dan kebaikan yang banyak itu terlihat pada posisi level dan stratanya.
Seperti Hikmah Syariat untuk merekonstruksi hal-hal yang konkret, nampak zahir secara panca indra. Sementara dimensi thariqah untuk merekonstruksi dimensi hati dan Hakikah untuk merekonstruksi dimensi rahasia ilahi dan alam semesta.
الشريعة لإصلاح الظواهر والطريقة لإصلاح الضمائر والحقيقة لإصلاح السرائر.
Masing-masing dimensi hikmah itu memiliki cara dan strategi untuk mencapainya.
Dimensi Zahir ditempuh dengan tiga cara: Taubah, Taqwa dan Istiqomah.
وإصلاح الجوارح بثلاثة أمور: بالتوبة والتقوى والإستقامة
Dimensi Domair-Hati dapat ditempuh melalui tiga cara juga: Ikhlas, Jujur, Tenang.
وإصلاح الضمائر بثلاثة أمور بالإخلاص والصدق والطمأنينة
Sedangkan dimensi Saraair-Rahasia dapat ditempuh dengan tiga jalan juga: Bertemu leher dengan Allah karena merasa dekat dengannya yang kemudian disebut Muraqobah. Saling saksikan diri antara hamba dengan Allah sehingga tak ada yang luput dari kebaikan dalam setiap saat dan waktu yang kemudian disebut sebagai Musyahadah. Berikutnya dengan saling bermesraan dengan Allah karena sudah saling kenal mengenal dengan amat detail sehingga disebut sebagai Al-Makrifah.
وإصلاح السرائر بثلاثة أمور بالمراقبة والمشاهدةوالمعرفة.
Intinya Hikmah yang tinggi dan mulia bagi Ulil Alban terletak pada kemampuan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allahnya dalam dimensi Syariahnya. Kemampuan menghindari diri dari sifat tercela dan kemampuan mengiasi diri dengan aneka kemuliaan dalam dimensi Imannya. Terakhir kemampuan memecahkan keinginan hawa nafsunya dan kemampuan mengendalikannya sehingga hati menjadi terdidik terlatih dengan adab sopan santun ketewadduan dan moral yang agung.
إصلاح الظواهر باجتناب النواهى وإمتثال الأوامر
وإصلاح الضمائر بالتخلية من الرزائل والتحلية بأنواع الفضائل
وإصلاح السرائر وهى هنا الأرواح بذلها وإنكسارها حتى تتهذب وترتاض بالأدب والتواضع وحسن الخلق.

Demikianlah makna sekilas tentang dimensi hikmah yang dirindukan oleh para insan ulil albab yang telah tercelupi pada dirinya sibghah Allah dalam bentuk hikmah yang berisi kebaikan yang tak terhingga banyaknya (khairon katsiron).

Edisi Senin 18 Mei 2020/ 25 Ramadhan 1441 H. Semoga bermanfaat.amin

Share this post