KEILMUAN, KEPEMIMPINAN & KEKAYAAN: TIGA DIMENSI KESUKSESAN DALAM MENGATASI PROBLEMATIKA KEHIDUPAN BERBANGSA, BERNEGARA BAHKAN BERAGAMA

Dalam kajian kali ini, Saya ingin mencoba Teori Imam Syafii tentang konsep keilmuan, kepemimpinan dan perekonomian sebagai pisau analisa dalam melihat problematika kehidupan kemanusiaan, terlebih dalam menyikapi persoalan kebangsaan yang sedang melanda Indonesia dengan Keputusan Presiden RI Ir. H. Joko Widodo menetapkan Indonesia dengan status Bencana Nasional akibat wabah Covid-19. Karena memang corona musuh kemanusiaan, musuh semua bangsa di dunia.  Mengingat wabah ini sangat berbahaya,  maka paling tidak bisa diatasi dengan tiga pendekatan.
Pendekatan Keilmuan,  Pendekatan kepemimpinan dan Pendekatan Ekonomi atau Modal Kekayaan.
 
Saya mendapat spirit dari penjelasan Imam Syafii dalam kitab Diwan al-Syafii sebagai berikut:
إن الفقيه هو الفقيه بفعله # ليس الفقيه بنطقه ومقاله.
كذا الرئيس هو الرئيس بخلقه # ليس الرئيس بقومه ورجاله.
وكذا الغني هو الغني بحاله # ليس الغني بملكه وبماله.
Sesungguhnya yang dinamakan orang yang berilmu,  orang yang faqih,  orang yang mendalam ilmunya adalah orang yang dilihat hasil karya nyatanya #
Bukan orang yang hanya bisa bicara dan hanya berbasa-basi.
Begitu juga seorang pemimpin sejati adalah yang memimpin dengan akhlaknya yang mulia # Bukan pemimpin yang memperlihatkan pengikut dan kroni-kroninya.
Tak ubahnya orang yang kaya adalah orang yang selalu cukup dalam situasi apapun # Bukan disebut kaya karena harta bendanya yang berlimpah ruah.
Lebih lanjut syair  tersebut ditahqiq oleh Prof. Yusuf al-Syaikh Muhammad al-Biqaai,  sebagai berikut:
ليس الفقيه من ملك زمام القول وفصل الخطاب وعرف كيف يقنع الناس بنطقه وحديثه إنما الفقيه من علم الناس أمور دينهم ودنياهم وفقههم بأمور شريعتهم بعمله الذى لا  يحيد عن نهج الشريعة.
Bukan disebut sebagai orang yang berilmu,  orang yang mengerti,  orang yang faham,  orang alim orang yang memiliki keindahan berbicara, manisnya retorika,  orang yang dikenal bagaimana mempesona orang lain dengan bicaranya dan ceramahnya.  Sesungguhnya orang yang berilmu adalah orang yang berdedikasi terhadap ilmu pengetahuan dengan mengajarkannya kepada orang lain tentang segala urusan dunia dan agamanya dan memberikan pemahaman syariah agama dengan contoh dan aksi nyata sehingga tak menyimpang dari rel-rel syariah yang benar.
Lebih lanjut beliau menjelaskan:
وليس الرئيس من كثر قومه ورجاله وأحاطوا به من كل جانب مدافعين عنه مسيطرين على الناس حتى لا يستطيعون قول كلمة ولا اتخاذ موقف ضده.  إنما الرئيس حقيقة هو ذلك الذى يرئس الناس بخلقه ويسيطر على  قلوبهم بنيل فعاله وحسن معاملته.
وكذلك ليس الغني من كثر ماله وازدادت ثروته وإنما الغني من نفع الناس بغناه وجعل ماله فى خدمة الناس ومعونتهم.  (ديوان الشافعى. ص: ٩٧)
Bukan pemimpin sejati pemimpin yang banyak pengikutnya banyak kolega dan kroni-kroninya dimana mereka saling lindungi dari segala sektor, saling bela saling bantu sesamanya saja,  sehingga orang-orang sekeliling pemimpin itu tak bisa mengkritisi kebijakannya sedikit pun, apalagi akan menjadi oposisi terhadap atasannya.
Begitu juga bukan orang kaya karena harta bendanya banyak atau bertambah terus saham dan incomenya tetapi sesungguhnya orang yang kaya adalah orang lain merasakan manfaat dari kekayaannya itu dan dia jadikan hartanya untuk berkhidmat kepada orang lain dan untuk peduli terhadap mereka.
 
Saya ingin memetakan teori Imam Syafii ini dalam tiga pendekatan penting:
Pertama: Pendekatan Keilmuan.
 
Apapun yang dilaksanakan baik urusan pemerintahan,  urusan kebangsaan bahkan urusan keagamaan sekalipun harus berdasarkan pengetahuan dan keilmuan yang komprehensif.
Urusan pemerintahan,  tak akan jalan jika tanpa ilmu pemerintahan. Ilmu tata kelola kenegaraan,  ilmu pengetahuan yang menopang tegaknya pemerintahan.
Bolehlah saya meminjam istilah Syaikh Ibn Ruslan dalam kitab Matan Zubadnya,  Pelaksanaan perbuatan apapun tanpa didasari ilmu pengetahuan yang benar pasti sia-sia dan tertolak.
(فكل من بغير علم يعمل # أعماله مردودة لا تقبل)
Urusan kebangsaan,  diurus harus berdasarkan ilmu pengetahuan yang strategis dan inovatif sekaligus politis.  Karena kebijakan demi kebijakan harus dikaji secara mendalam berdasarkan pertimbangan keilmuan para pakar di bidangnya. Pertimbangan riset dan evaluasi yang aplikatif. Sehingga apapun kebijakan pemerintah selalu mendapatkan respon yang positif dari seluruh elemen anak bangsa.
Begitu juga urusan keagamaan.  Beragama harus berdasarkan pengetahuan keislaman dan keagamaan yang baik dan benar. Beragama bukan mengikuti keilmuan personal sehingga menjadi orang yang fanatik dengan ilmunya sendiri. Bukan juga beragama berdasarkan perasaan rasa yang dirasakan sendiri, sehingga mengorbankan kepentingan banyak orang demi rasa beragama sendiri,  beragama bukan berdasarkan hawa nafsu semata,  meminjam istilah Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’ nya,  Beragama bukan karena kegelapan pengetahuan melainkan tercerahkan karena keilmuannya yang mendalam, meminjam istilah Syaikh Ali Syariati. Beragama bukan karena Ego sektoral, atau mengikut kelompok komunal, melainkan beragama harus mengikut kesepakatan sosial yang menyeluruh,  meminjam istilah Syaikh Ibn Khaldun, atau beragama bukan berdasarkan pikiran picik dan terbatas (nerrow minded-closed-minded)  melainkan beragama harus berdasarkan wawasan yang luas dan menerima perbedaan pemikiran dan pendapat, argumentasi meminjam istilah (Prof Nurcholish Majid, Prof. Bassam Thibbi dan Prof.Amin Abdullah, Prof.Azyumardi Azra). Beragama bukan berdasarkan busungan dada namun beragama harus ada sikap lapang dada  dan toleransi antar sesama (assamahah wa tasaamuh) meminjam istilah Prof Ali Jum’ah, Prof. Quraish Shihab, dan Prof. Said Aqil Siraj. Atau beragama bukan memisahkan antara urusan duniawi dengan urusan ukhrawi tapi beragama adalah menyatukan dua sisi tersebut dalam satu kesatuan yang terintegrasi dan terkoneksi,  meminjam istilah Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, Syaikh Ramdhan al-Buthi dan KH. Makruf Amin.
Atau meminjam istilah Syaikh Zarnuji dalam taklimnya dengan Istilah afdhalul ilmi ilmul hal,  ilmu yang paling urgen dan fungsional-aplikatif adalah ilmu yang sesuai dengan disiplin kerjanya. Ilmu situasional-kondisional sesuai waktu dan tempat pelaksanaan berikut penggunaannya.
Dengan demikian, urusan keilmuan sangat penting dalam mengatasi segala hal. Terlebih dalam kondisi kita menghadapi wabah korona ini. Keilmuan kita tentang korona tak bisa dilihat dengan kaca mata Agama namun sangat ditentukan oleh pendekatan keilmuan saintifik, kedokteran kemedisan dan kaca mata kesehatan.  Corona maaf mungkin tidak bisa disembuhkan dengan beramai-ramai shalat jumat berjamaah di masjid,  sebab secara medis wabah ini baru tidak menular jika menjauhi kerumunan manusia kerumunan banyak orang,  berjumat adalah kerumunan banyak orang sehingga dapat dipastikan atau dapat dimungkinkan menjangkiti dan menulari orang-orang yang sehat secara jasmani. Maka secara medis tidak membenarkan hal itu,  sehingga agamapun toleran dan akomodatif terhadap persoalan kemanusian dan kesehatan bahkan keselamatan jiwa. Justru itu fatwa-fatwa ulama di belahan dunia,  secara pertimbangan kesehatan dan kemedisan,  agama memberikan ruang rukhsah (dispensasi-keringanan) terhadap pelaksanaan agenda keagamaan yang sifatnya aziimah (pokok dan normal) untuk ditangguhkan pelaksanaannya sementara illat (penyebab) rukhsah itu belum berakhir dan masih mewabah.  Di sisi inilah kita harus tegas dan manut dalam memposisikan keyakinan keagamaan kita berdasarkan pertimbangan keagamaan yang mapan dan toleran dengan situasi dan kondisi sosial kita bersama.
 
Kedua: Pendekatan Kepemimpinan.
 
Salah satu dimensi kehidupan kemanusiaan yang paling signifikan dan urgen adalah kepemimpinan. Kepemimpinan dengan segala deriviasinya menunjukkan betapa berharganya kepemimpinan yang tentu membutuhkan skill yang mumpuni baik softskill maupun hardskill,  keilmuan teoritis- praksis, strategi, inovasi, koneksi, kooperasi,  responsif,  produktif, progresif dan transformatif.
Imam Syafii mensimplikasikan kriteria pemimpin itu dengan pemimpin yang berkarakter. pemimpin yang mengedepankan kolektivitas bukan kronitas bukan pula kolegalitas. Kepemimpinan yang ditunjukkan berdasarkan karakter dengan mengedepankan akhlak moralitas jauh lebih beradaptif dan berbaur di berbagai level stratum sosial masyarakat. Pemimpin yang memahami denyut jantung masyarakatnya atau rakyatnya akan lebih bisa diterima dan bisa didengar instruksinya oleh masyarakatnya.
Kepemimpinan dengan terma Arriasah (الرئاسة) menunjukkan pola kepemimpinan yang harus selalu di depan memberikan contoh teladan kepada rakyat yang dipimpinnya. Dimensi Riasah inilah yang disebut sebagai tugas dan fungsi semua kita dalam level dan stratum masing-masing.
Kepemimpinan dalam dimensi Raa’i-Ra’iyyah (الراعى-الرعية) dengan mengedepankan kepekaan sosial, kepekaan instruksional,  kepekaan kebijakan,  kepekaan menejerial, dan kepekaan emosional terhadap keperluan dan kebutuhan masyarakat. Pemimpin yang mempu mera’i rakyatnyalah yang akan selalu dinanti dan dipuji bahkan diminati dikenang selamanya.
Kepemimpinan dalam dimensi (Qiyadah-Qoid) (القيادة-القاعد) sosok pemimpin yang mampu menggerakkan potensi masyarakatnya menuju kemajuan dan kesejahteraan bahkan menuju kesehatan prima.  Qu’uud ( قعود) dalam makna duduk, diam, statis, tak bergerak akan digerakkan oleh Qo’id sang pemimpin yang memahami latar sosial bahkan psikologis masyarakat yang dipimpinnya.
Kepemimpinan dalam dimensi (Imam-الإمام ) menunjukkan kemampuan menejerial dan koordinatif dengan bawahannya.  Imam selalu di depan dalam menetapkan kebijakan-kebijakan strategis. Pemimpin yang bertipologi imam jika salah dalam menentukan dan mengeluarkan kebijakan akan memberatkan bahkan bisa menyengsarakan rakyatnya.
Pemimpin dalam dimensi Qoim-Qawwam (القائم القوام) menunjukkan kecemerlangan kepemimpinan baik dalam skala mikro-pemimpin keluarga maupun dalam skala makro-pemimpin ummat,  bangsa dan negara. Tentu kepemimpinan model ini dibutuhkan skill mengelola emosi dan kesetaraan dalam meletakkan kebijakan strategis.
Dalam konteks kekinian,  konteks menjaga kesehatan masyarakat terutama dari wabah Covid-19 ini dibutuhkan kepemimpinan yang tegas, teladan, dan mengayomi semua golongan agar masyarakat terjaga dari marabahaya wabah Covid-19 ini. Tegas terhadap penerapan instruksi atasan,  baik dalam kehidupan beragama lebih-lebih dalam urusan kebangsaan dan negara.
 
Ketiga: Pendekatan Ekonomi.
 
Teori Imam Syafii di atas menjelaskan tentang Karakter orang yang punya harta adalah harta yang dapat dinikmati oleh banyak orang,berdedikasi dengan semangat loyalitas dan kedermawanan kepada semua. Jiwa pilantrofis bagi pemimpin saat ini sangat dibutuhkan. Terlebih saat wabah corona ini yang menyebabkan masyarakat tidak bisa keluar rumah untuk bekerja dan berusaha. Maka saatnyalah pemimpin mengeksekusi kebijakan yang memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kepemimpinan dengan modal ekonomi yang kuat dapat membuat masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang tangguh dan kuat dalam menghadapi persaingan global. Bahkan masyarakat Indonesia dapat keluar dari krisis ekonomi akibat wabah corona ini. Tentu dengan syarat ekonomi yang dibangun berdasarkan kepentingan bangsa dan negara untuk kemudian dikembalikan kepada Negara agar dapat dikelola dan dikembangkan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat Indonesia sesuai amanah UUD 1945 dan Pancasila sebagai ideologi dan Falsafah Hidup Bangsa.
Pendekatan Ekonomi di tangan pemimpin yang baik dan bijak dapat dijadikan sebagai instrumen utama dalam menjalankannya amanah UUD 1945 dan Pancasila sebab dengan meningkatnya perekonomian masyarakat paling tidak dapat meningkatkan imunitas bahkan imanitas masyarakat Indonesia menuju keselamatan dan kesehatan bersama agar tercipta konsepsi dan obsesi negeri yang aman makmur damai sentosa dalam pengampunan dan naungan ilahi (بلدة طيبة ورب غفور) .
 
Al-Hasil, Hidup berbangsa bernegara dan beragama sangat ditentukan oleh kekuatan ilmu pengetahuan, kekuatan kepemimpinan (leadership) dan kekuatan perekonomian sesuai tawaran Imam Muhammad bin Idris al-Syafii Rahimallahu ta’ala.
Makanya mari kita taati pemerintah pusat,  maupun daerah, MUI Pusat maupun Daerah, dalam segala instruksi yang menyelamatkan sekaligus mensejahterakan warga masyarakat Indonesia. Wassalam. sekian Oretan ini semoga bermanfaat. Tentu masih sangat normatif dan masih bisa didiskusikan lebih lanjut.  (roziqi_iain@yahoo.co.id-fahrurrozi dahlan)

Share this post