BERAGAMA DAN KE-“PAGAH”AN INDIVIDUAL & KOMUNAL : LIMA T vs LIMA T

Oleh:
H. Fahrurrozi Dahlan.QH. (Guru Besar UIN Mataram).
 
Penulis memohon maaf jika sekiranya penggunaan kata “Pagah” kurang berkenan di benak pikiran para pembaca. Atau hanya menggunakan bahasa satu etnis Sasak saja,  karena subjektivitas penulisnya,  kata pagahpun hanya mewakili bahasa sebagian suku yang ada di Etnis Sasak.
Tapi izinkanlah penulis untuk memulai mengkaji kata Pagah itu dalam konteks Antropologi Sasak sambil meramunya dengan perspektif-perspektif yang relevan.
 
Dalam judul tulisan ini,  dapat dianalisa dari lima kata kunci:
Pertama: Beragama,
Kedua: Kepagahan
Ketiga: Individual
Keempat: Komunal
Kelima: Lima T.
 
Dalam antropologi Sasak,      untuk melihat cara pandang masyarakat Sasak dalam mempertahankan prinsipnya baik prinsipnya itu baik atau tidak terlihat dalam istilah: Pagah, Pengkung, Pékèl,Bengel/tèlè, Bengkéh (Mau menang sendiri, Ngeyel, tak mau diatur, Nakal, Tak mau nurut ).
Tentu kata kata tersebut tak selamanya bermakna negatif ada juga sisi-sisi positifnya sedikit.
 
Untuk konteks beragama tentu kata Pagah,  Pengkung, Pekel, Bengel/telu, Bengkeh, kurang baik bahkan negatif dalam menjalankan sikap  keberagamaan masyarakat Sasak,  NTB atau bahkan Masyarakat Indonesia secara umum.
Beragama, terkandung maksud bagaimana menjalankan ajaran agama, mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Memeluk agama dengan keyakinannya, mengimani semua aspek ketuhanan dan hal-hal yang tak kasat mata (ghaib).
 
Untuk konteks masyarakat kita, banyak sekali kita temukan sikap beragama mereka dalam sikap, Pagah, Pengkung,  Pekel,  Bengel, Bengkeh yang terkadang sikap tersebut sangat berdampak pada inharmonisasi di tengah masyarakat, dalam bentuk konflik individual karena mempertahankan idenya sendiri, atau konflik komunal karena berembet kepada masing-masing kelompok masyarakat. Inharmonisasi ini sangat rentan disebabkan oleh cara dan sikap masyarakat yang pagah,  pengkung,  pekel,  bengel dan bekèh dalam beragama.
Lebih jelasnya,  padanan kata-kata atau istilah Antropologi Sasak di atas,  penulis merangkumnnya dalam
Lima T dalam sikap “negatif” beragama untuk mencari benang merah atau hubungan ke-pagah-an,  ke-pengkung-an,  ke-pekel-an,  Ke-bengel-an dan Ke-bekéh-an Masyarakat Islam Indonesia Khususnya Masyarakat Islam Sasak.
 
Pertama: al-Tasyaddud (التشدد)
 
Sikap Keras dalam beragama ini dapat dilihat dari cara pandang mereka melihat praktek beragamanya. Mereka berpendapat bahwa di luar komunitas mereka adalah ahli bid’ah-ahli khurafat,  ahli mengkafirkan orang yang seiman dengannya,  tak pernah menganggap ibadah orang sah dan benar jika tidak sefaham dan sependapat dengannya.  Sikap beragama seperti ini merupakan sikap ekstrim,  sikap radikal,  sikap keras,  sikap intoleran, sikap tak bisa diajak dialog,  yang dapat membahayakan kultur kebersamaan masyarakat yang telah terbiasa dalam keberagamaan dan kebhinekaan.
Sikap beragama seperti inilah yang mencoreng kemuliaan dan kesantunan Islam dan pemeluknya di mata dunia Global. Sehingga tak heran jika Islam disebut sebagai agama teroris,  agama radikal,  agama ekstrim karena ulah segelintir kelompok komunitas yang bersikap Pagah,  Pekel,  Pengkung dalam memahami ajaran agama Allah swt. Meski sesungguhnya cap-cap stereotip itu tak seluruhnya benar karena mereka Phobia terhadap kebangkitan Islam atau mungkin mereka benci terhadap Islam.
 
Kedua: al-Tafarruthu-al-Ifrath (التفرط-الإفراط)
 
Beragama tak baik terlalu melampui batas. Melampui batas atau Ifrath ini tidak dibenarkan dalam Islam sebab Islam memberikan tuntunan yang bersahaja,  berhikmah dalam kebijaksanaan dan kebaikan bukan pada pemaksaan berlebihan dalam beragama.
Nabi Muhammad Saw sebagai nabi yang paling mulia,  Hamba Allah yang paling taat,  hamba Allah yang dipastikan masuk syurga,  toh juga beliau bersikap “jamak-jamak” -biasa-biasa saja dalam bersikap,  beribadah bermuamalah.  Dalam hal beribadah,  Nabi Muhammad tak pernah memaksakan diri dengan tegas beliau menjelaskan,  bahwa pada dirimu sendiri ada hak yang harus ditunaikan, matamu punya hak,  pisikmu jasadmu punya hak,  keluargamu punya hak,  tetanggamu punya hak,dst.
Artinya nabi tak menyuruh ummatnya untuk beribadah terus menerus,  nabi menyuruh ummatnya untuk menyeimbangkan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi.
Berlebihan dalam sikap bisa memberikan dampak negatif kepada diri sendiri dan orang lain.  Misalnya dalam menyikapi Korona ini,  diperlukan sikap beragama yang jamak-jamak beragama yang menenteramkan semua orang,  beragama dengan tidak mengukur kesalehan personal individual bahkan komunal dengan kesalehan sosial,  global dan universal yang disitu domain Islam Rahmatan lil alamiin. Nah ini lah yang menjadi salah satu penyebab cepatnya mewabahnya corona ini karena ketidaktaatan kita dalam beragama yang mengedepankan kepentingan sosial daripada kepentingan individual.
 
Ketiga: al-Tafrith -(التفريط)
 
Sikap Tafrith-meremehkan agama-menunda-nunda pelaksanaan ajaran agama karena mengentengkan bahkan melalaikan ajaran agama juga sikap yang negatif dalam beragama.  Diperintah untuk melakukan shalat, puasa, zakat,  haji dan ibadah ibadah yang lain tak pernah ada kemauan untuk melakukannya karena ada sikap sangat kurang dalam beragama. Kurang ibadah kurang bermuamalah Kurang berinteraksi berkomunikasi dengan sesama juga masuk dalam kategori tafrith. Dan sikap ini juga berbahaya karena dapat mencederai kewibawaan ajaran agama Allah swt.
 
Keempat: al-Tasaahul (التساهل)
 
Sikap memudah-mudahkan agama, acuh tak acuh terhadap ajaran agama juga sangat berdampak dalam sikap dan pola kehidupan beragama di tengah masyarakat.  Memudah-mudahkan agama bisa jadi orang ini disebut Fasiq oleh nabi karena tak peduli dengan khittah dan perintah Allah dan Nabi. Masyarakat yang bersikap seperti ini tidak sedikit,  alias banyak yang mengentengkan shalat,  mengentengkan puasa, mengentengkan zakat bahkan haji. Sikap seperti ini sikap yang tak sepantasnya dilakukan oleh masyarakat yang berketuhanan yang maha Esa. Sikap ini harus dihindari jauh-jauh karena bisa berdampak pada kegersangan religiusitas dan spiritualitas masyarakat.
 
Kelima: at-Tahaawun (التهاون).
Sikap mengentengkan-
Melalaikan meremehkan ajaran agama adalah sikap yang sangat negatif bahkan bisa jadi orang yang bersikap seperti ini dicap kafir oleh Nabi Muhammad saw. Meremehkan mengentengkan Shalat dst dapat membuat tidak bisa bersyukur kepada Allah,  tidak bisa berinteraksi dengan kehidupan kemanusiaan yang harmoni dan saling menghargai. Tentu sikap ini tak bisa dilepaskan dari sikap pekel bekeh dalam beragama.
 
Sedangkan lima T sikap
 “positif” beragama:
Pertama: Taallum (التعلم)
Beragama adalah belajar memahami substansi ajaran agama. Beragama harus diawali dengan sikap mau belajar. Beragama harus belajar agama yang baik dan benar. Beragama tidak ujug-ujug sepontan membuat orang menjadi paling pintar paling sholeh paling alim dalam beragama.  Tapi semua itu diawali dengan sikap mau belajar, belajar membaca,  belajar mendengar, belajar bersosialisasi, belajar menghargai.  Konsep taallum ini sungguh sangat universal dan fungsional dalam segala dimensional.
 
Kedua: Tafaqquh (التفقه)
Konsep Tafaqquh sejatinya bermakna mengerti sesungguhnya Trilogi syariat Islam baik dalam dimensi Fiqh (Syariah-Islam) Aqidah- (Teologi-Iman) dan akhlak (Sufistik-Ihsan) dengan baik dan benar juga komprehensif tak setengah-tengah. Sikap Tafaqquh dalam beragama merupakan sikap yang sangat menentukan arah sikap positif selanjutnya karena Nabi Muhammad menjabarkan:
من يرد الله به خيرا يفقه فى الدين
Siapa yang ingin diberikan kebaikan oleh Allah swt hendaklah memahami agama secara komprehensif.
 
Ketiga: Tafassuh (التفسح)
Kata tafassuh ini sesungguhnya penjabaran dari firman Allah swt.  تفسحوا فى المجالس
Berlapang-lapanglah di dalam suatu majlis.
Konteks ayat itu adalah sikap kita berlapang dada dan berterima dalam suatu hubungan dan relasi antarsesama. Beragama tak boleh egois harus ada sikap memberikan ruang dan kesempatan bagi orang lain setelah kita memperoleh bagian kita.  Sikap tafassuh ini lebih dekat pada kita saling menghargai dalam perbedaan pendapat dan pikiran. Tak bekeh (ngeyel) dengan pendapat sendiri,  namun menghargai pendapat orang lain meskipun kita tidak setuju dengan pendapatnya.
Inilah yang sering hilang dalam sikap keberagamaan masyarakat kita di Indonesia ini.  Saling adu pendapat diri masing-masing tanpa ada saling apresiasi terhadap pendapat yang berbeda- beda itu.  Tepatlah ajaran Agama mengajarkan kita untuk tafassahuu fil majaalis.
 
 
Keempat: Tafahum (التفاهم)
Sikap Tafahum-saling pengertian-saling memahami-saling menghargai adalah sikap beragama yang sangat elegan dan terhormat. Tak sedikit orang terkapar dalam wabah penyakit kerena kita tidak saling memahami bahwa penyakit menular itu berbahaya.  Tak sedikit konflik di mana-mana terjadi karena tak ada saling memahami tak ada yang saling menghargai satu sama lain. Masing-masing bekeh,  bengel, pagah dengan pendapatnya sendiri. Pagah dengan fahamnya sendiri yang tak mau menghargai apalagi mengapresiasi pikiran dan pendapat orang lain.  Ini tak eloklah beragama dengan bersikap seperti itu.
 
Kelima: Taraahum wa Tasaamuh (التراحم و التسامح)
 
Sikap saling menyayangi-saling menghormati- saling melengkapi adalah sikap moderasi beragama. Sikap tengah-tengah dalam beragama sikap yang tidak ifrath-tidak tafrith. Sikap toleransi dalam beragama telah diatur oleh agama juga telah diatur oleh negara. Tinggal sikap kita ini yang harus bertransformasi dari sikap kaku, rigit,  sempit,  pelit demit,  menuju sikap apresiatif, akomodatif, responsif, persuasif, produktif,  progresif dan transformatif.
 
Inilah cara kita beragama yang baik dan benar. Kita harus beranjak dari sikap pagah, pengkung,  pekel,  bekeh,  dan bengel dalam beragama menuju sikap Menge,  Molah,  Meneh,  Menéng, Mantap atau kata lain mengerti,  memahami, menghargai,  mengapreasi,  menyayangi dan memoderasi dalam toleransi yang sejati.
Waallahu A’lam bi asshawab (fahrurrozi dahlan. roziqi_iain@yahoo.co.id).

Share this post