PERSPEKTIF AL-HADITS TENTANG MEMINTA JABATAN (STUDI KESAHIHAN SANAD DAN MATAN HADITS RIWAYAT ABU DAUD)

Fahrurrozi Dahlan
Abstrak
Sejak awal munculnya Islam, Nabi Muhammad Saw memegang hak prerogatif keagamaan setelah Allah Swt, terbukti dengan dijadikannya Nabi sebagai tempat rujukan dari masalah-masalah yang muncul di kalangan sahabat dengan berbagai sabda dan perbuatannya, yaitu hadits. Dengan begitu, walaupun penulisan dan pengkodifikasian hadith baru dilakukan jauh dari kehidupan Nabi Muhammad Saw, bukan berarti autentisitas dan validitas hadits menjadi suatu yang diragukan, karena ulama belakangan berupaya secara serius dalam melakukan verifikasi, terbukti dengan banyak karya yang memuat kritik, baik dari segi sanad maupun matannya sebagai upaya membentengi dari hadits-hadits palsu. al-Hadits tentang meminta jabatan sesungguhnya memberikan gambaran bahwa orang yang meminta jabatan secara tidak lansung melegitimasikan dirinya sebagai orang yang merendahkan martabat dirinya sendiri. Artinya bahwa secara etika, jabatan itu tidak diminta tapi berdasarkan kompetensi dan kapabilitas yang dimiliki oleh seseorang. Hadits Nabi tentang meminta jabatan membuktikan bahwa orang yang layak menjadi pemimpin adalah orang yang tidak meminta jabatan melainkan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. 
Hadis Nabi merupakan sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Dilihat dari periwayatannya, al-Qur’an diterima dengan jalan mutawatir sedangkan hadis ada yang mutawatir ada yang ahad. Hadis mutawatirtidak diragukan lagi warudnya bahwa ia benar-benar berasal dari Nabi saw.[1] Namun Hadis ahad kedudukannya adalah dzanni al-wurud, yang mengandung arti masih ada ruang bagi sebuah hadis ahad tidak berasal dari Rasul saw.  Ditambah lagi dengan fenomena sebagian besar hadis yang beredar di masyarakat adalah kitab-kitab hadis yang berisi sebagian besar hadis ahâd.[2]
Kajian ini mengkaji sejauh mana kesahihan salah satu hadis ahâd yaitu hadis Abu Daud yang berbicara tentang  meminta jabatan.
Hadits tentang Meminta Jabatan dan Metode Kritik Hadits
حدثنا محمد بن كثير أخبرنا إسرائيل ثنا عبد الأعلى عن بلال  عن أنس بن مالك قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من طلب القضاء واستعان عليه وكل  إليه  ومن لم يطلبه ولم يستعن عليه  أنزل الله ملكا يسدده (سنن أبى داود_ كتاب الأقضية باب فى طلب القضاء والتسرع إليه :3578
Metode Kritik Hadis
Untuk mengadakan  penelitian dalam hadis di atas, penulis menggunakan metode II dan III. Metode kedua adalah metode dengan melihat awal matan hadis. Kitab yang membantu penulis dalam metode ini adalah kitab Maushu’ah Athraf al-Hadis al-Nabawi al-Syarif  susunan Basuni Zaghlul.[3]Karena kitab ini disusun berdasarkan huruf alfabetis, maka penulis langsung menuju kepada  vide mim (مـ) dengan kata awal man(من). Di kitab ini penulis menemukan rumusan di mana hadis yang diteliti tersebar.[4]
             Kitab yang juga dapat membantu adalah al-Jami’ al-Shagir fi Ahadis al-Basyir al-Nadzir susunan al-Suyuthi (w. 911 H).[5]Hadis ini terdapat pada vide mim ((مـ dengan kata man (من) dengan no hadis 8277.
 Lafaznya adalah:
من ابتغى القضاء وسأل فيه الشفعاء وكل إلى نفسه ومن اكره عليه انزل الله عليه ملكا فيسدده
         
Sedangkan metode III adalah adalah metode dengan melihat lafaz pada matan hadis yang menonjol atau jarang dipergunakan. Disini penulis menggunakan lafaz طلب , atau semakna dengan itu yaitu ابتغى  dan  سأل.  Buku yang lazim digunakan untuk metode ketiga ini adalah Mu’jam al-Mufahras li Alfâz al-Hadis al-Nabawi yang disusun oleh seorang orientalis A.J Wensinck[6]dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Syekh Muhammad  Fuad Abdul Baqi. Disini, penulis mendapatkan rumus:
من سأل ، طلب ، ابتغى وسأل القضاء:
د  أقضية 3 : سنن ابو داود كتاب الأقضية الباب الثالث (باب فى طلب القضاء  والتسرع اليه )
ت أحكام 1 : سنن الترمذي كتب الأحكام باب رقم 1(ما جاء عن رسول الله فى القضاء)
جه أحكام 1 : سنن ابن ماجه باب رقم 1(باب ذكر القضاة)
حم : 3: 118، 220 : مسند احمد جزء 3 صفحة 118 و 220
Makna Lafaz
          من طلب القضاء واستغان عليه: طلب الإعانة من الناس على حصول القضاء
Meminta pertolongan kepada orang untuk meluluskan maksudnya (menjadi hakim-qadli)
 وكل اليه : فوض إليه ولم يكن له إعانة من الله ولم يوفق[7] وقال محمد فؤاد عبد الباقي فى تعليق سنن ابن ماجه: وهذا كنا ية عن عدم العون من الله تعالى فى معرفة الحق والتوفيق للعمل به
            Diserahkan semuanya kepada manusia itu sendiri tanpa ada lagi pertolongan dari Allah dan Allah sekali kali tidak akan menyetujuinya. Muhammad Fuad Abdul Baqi [8]dalam ta’liq-nya terhadap Sunan Ibn Majah mengatakan bahwa kata وكّل اليه  adalah kinayah (sindiran) atas tidak adanya pertolonganAllah dalam pengetahuan tentang kebenaran dan  taufik untuk pekerjaan itu.
ومن لم يطلبه ولم يستعن عليه : أي حصول القضاء من الناس
            Barang siapa yang tidak meminta pertolongan kepada manusia untuk maksud (diatas)
انزل الله ملكا يسدده : أي يرشده طريق الصواب والعدل
Maka Allah akan mengutus malaikat yang akan senatiasa membimbingnya ke jalan kebenaran dan keadilan.
Studi Kritik Sanad Hadis
1.  Studi Sanad Hadis Abu Daud
حدثنا محمد بن كثير أخبرنا إسرائيل ثنا عبد الأعلى عن بلال  عن أنس بن مالك قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من طلب القضاء واستعان عليه وكل إليه ومن لم يطلبه ولم يستعن عليه  أنزل الله ملكا يسدده (سنن أبى داود_ كتاب الأقضية باب فى طلب القضاء والتسرع إليه)
Imam Abu Daud al-Sijistani menerima hadis ini dengan jalan sima’ (mendengar langsung) dari Muhamad Ibn Katsir yang didengarnya dari Israil yang mendengar Abd A’la  yang menerima (dengan lafaz an’anah[9])dari Bilal yang menerima (dengan lafaz an’anah) dari sahabat Anas Ibn Malik.
a.  Muhammad ibn Katsir
Nama            : Muhammad Ibn Katsir al-Abdi
Kuniyah        : Abu Abdillah al-Bashri
Thabaqat       : X – Wafat      : 238 H
Guru              : Sulaiman ibn Katsir (kakaknya), Sufyan al-Tsauri, Syu’bah, Ibrahim ibn Nafi’    al-Makki, Hammam, Israil, Ja’far ibn Sulaiman, dll.
Murid            : Bukhari, Abu Daud, al-Darimi, Husain Ibn Muhammad al-Balkhi, Ali ibn al-Madini, Abu Hatim, Abu Zur’ah al-Razi
 Al-Jarh wa al-Tadil:  Ibn Main mengatakan: laisa bi tsiqatin-Ahmad: tsiqat Ab­u Hatim: Shaduq-ibn Hajar : tsiqat.[10]
            Pendapat yang dimbil: Dengan melihat penilaian yang berbeda di atas, penulis berpendapat bahwa penilaian Ibn Ma’in dan Abu Hatim yang terkenal tasyaddud dalam jarh, dinaikkan satu peringkat menjadi tsiqat. Dalam hal ini penulis berpegang pada kaidah Ta’dillebih didahulukan dari pada  jarh, karena sebab ta’dil itu beragam sedangkan sebab jarh itu sedikit dan sangat relatif.
b. Isra’il
Nama       : Isra’il ibn Yunus ibn Abi Ishaq al-Hamdani al-Sabi’i
Kuniyah   : Abu Yusuf al-Kufi
Thabaqat  : VII wafat 162 H atau 160 menurut ibn Hajar
Gurunya   : Abd al-A’la al-Tsa’labi, Amru ibn Khalid al-Wasithi, dll
  Muridnya : Ismail ibn Ja’far al-Madini, Abu Daud Sulaiman ibn Daud al-Thayalisi, Abu    Nu’iam Fadl ibn Dukain.
Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abu Daud berkata,”Bila suatu hadis hanya diriwayatkan oleh Isra’il maka hadis itu dapat dijadikan hujjah  karena beliau termasuk ثبت الحديث . Abu Hatim : tsiqat shaduq – al-Nasa’i: laisa bihi ba’sun[11]– ibn Hajar: tsiqat namun kadang-kadang  berbicara tanpa hujjah (dalil)[12]
c.  Abd al-A’la
Nama       : Abd al-A’la ibn Amir al-Tsa’labi
Nisbah      : al-Kufi
Thabaqat : VI
Guru        : Abi Abd al-Rahman al-Sulami, Muhammad ibn Hanafiyah, Said ibnn Jubair,   Bilal ibn Abi Musa al-Fazari, dll.
Murid       : Ali (putranya)Ibn Juraij, Israil ibn Yunus, Tsauri, Syubah, Abu Awanah,
Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abu Hatim: laisa bi al-qawi, alNasa’i:  laisa bi al-qawi, tapi       hadisnya dapat ditulis, Ibn Ma’in: laisa bidzaka al-qawi. Abu Zur’ah : dlaif al-hadis,  kadang ia me-marfu’kan atau me-mauquf-kan hadis. Ibn Hajar : shaduq yahim[13]
Penilaian : Penulis menyimpulkan komentar para nuqqad tersebut menggambarkan   kurang kuatnya kedlabitan perawi namun dia adil. Karena itu kategori ini masuk dalam kriteria ditulis hadisnya untuk i’tibar saja bukan sebagai hujjah (kalau infirad) kecuali ada hadis lain yang lebih kuat yang mendukungnya.
d. Bilal
Nama       : Bilal ibn Mirdas al-Fazari al-Nashibi al-Mishishi
Kuniyah   : Ibn Abi Musa
Thabaqat  : VII
Guru         : Anas ibn Malik, Namun ada yang menyebutnya berguru pada Khaitsamah ibn   Khaitsmah al-Bashri.
Murid       : Ismail ibn Abd al-Rahman al-Suddi,  Abd al-A’la ibn Amir al-Sya’labi, Laits ibn Abi Sulaim, Abu Hanifah
Al-Jarh wal-Ta’dil: ibn Hajar       : Maqbul
e. Anas ibn Malik
Nama     : Anas ibn malik ibn Nadlar ibn Dlamdlam ibn Zaid ibn Haram al-Anshari al- Najjar
Kuniyah : Abu Hamzah Laqab: al-Madini, al-Anshari
Thabaqat : Sahabat yang banyak meriwayatkan hadis (al-muktsir) w. 93 H
Guru : Nabi Muhammad Saw (Anas ibn Malik adalah pelayan Nabi selama ±10 tahun)
Murid : Bilal ibn Mirdas al-Fazari, Tsabit al-Bannani, Harits ibn Nu’man al-Laitsi,
Hafsah bint Sirin, dll[14]
Al-Jarh wa la-Ta’dil: Sahabat tidak masuk dalam kajian ini karena telah sepakat ulama akan keadilannya.
Studi Hadis Pendukung (tabi’ al-hadis) tentang Meminta Jabatan
Seperti yang telah disebutkan terdahulu–dalam metode takhrij al-hadis-, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud tersebut juga diriwayatkan oleh al-Tirmizi, Ibn Majah, Ahmad ibn Hanbal, Ibn Abi Syaibah, al-Thabarani, al-Hakim, al-Baihaqi semuanya dari sahabat Anas ibn Malik. Oleh sebab itu, hadis ini  dimasukkan dalam  hadis gharib nisbi yaitu hadis yang hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat pada setiap thabaqat (sahabat,tabi’in. atau atba ’tabi’in), dengan demikian hadis ini tidak memiliki syahid, namun hanya memiliki tabi. Untuk lebih jelasnya, penulis paparkan hadis-hadis yang berkaitan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, yang lazim disebut Tawâbi’ al-Hadits
 1.حدثنا هناد ثنا وكيع عن اسرائيل عن عبد الأعلى عن بلال بن أبى موسى عن أنس بن مالك  قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سأل القضاء وكل إلى نفسه ، ومن أجبر عليه ينزل عليه ملك فيسدده.(سنن الترميذى: 1338- كتاب الأحكام باب ماجاء عن رسول صلى الله عليه وسلم فى القاضي
Artinya, Barang siapa meminta jabatan maka diserahkan urusan tersebut kepada dirinya sendiri dan barang siapa yang dipaksa menduduki jabatan (tidak meminta) maka malaikat akan turun menuntunnya menuju kebenaran)
 2.حدثنا عبد الله بن عبد الرحمن حدثنا يحي بن حماد عن أبي عوانة عن عبد الأعلى الثعلبي عن بلال بن مرداس الفزاري عن حيثمة وهو البصري عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم: من ابتغى القضاء وسأل فيه الشفعاء وكل إلى نفسه ومن أكره عليه أنزل الله عليه ملكا يسدده . هذا حديث حسن غريب , وهو أصح من حديث إسرائيل عن عبد الأعلي: 1339
Artinya, barang siapa meminta bantuan untuk menduduki suatu jabatan, maka diserahkan kepadanya segala urusan, dan barang siapa yang diminta untuk menduduki suatu jabatan, Allah akan menurunkan malaikat menjadi pembantunya.
 3.أخبرنا أبو الحسن محمد بن حسين العلوى أنبأنا أبو النضر محمد بن محمد يوسف الفقيه ثنا محمد بن سليمان الواسطى ثنا يحي بن محمد الحناط  ثنا أبو عوانة عن عبد الأعلىالثلبى عن بلال بن مرداس الفزارى عن خيثمة عن أنس بن مالك  أن النبى  صلى الله عليه و سلم قال : من ابتغى القضاء  وسأل عليه الشفعاء وكل إلى نفسه ، و من أكره عليه أنزل الله عليه عز وجل ملكا فسدده.(سنن البيهقى:20831 – كتاب أدب القاضى- باب  كراهية طلب الإمارة والقضاء .
Artinya, barang siapa yang mencari jabatan dan meminta bantuan untuk bisa menjadi pejabat, maka jabatan itu diserahkan segala urusannya kepadanya, namun barang siapa yang diminta untuk menduduki suatu jabatan, Allah akan menurunkan Malaikat untuk membimbingnya.
 4.حدثنا على بن محمد ومحمد بن إسماعيل قالا حدثنا وكيع حدثنا إسرائيل  عن عبد الأعلى عن بلال بن أبى موسى عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سأل القضاء   وكل إلى نفسه ، و من جبر عليه نزل إليه  ملك فسدده.(سنن  ابن ماجه – كتاب الأحكام باب ذكر القضاة : 2309)
Artinya, barang siapa yang mencari jabatan dan meminta bantuan untuk bisa menjadi pejabat, maka jabatan itu diserahkan segala urusannya kepadanya, namun barang siapa yang diminta untuk menduduki suatu jabatan, Allah akan menurunkan Malaikat untuk membimbingnya.
 5.حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع  قال حدثنا إسرائيل  عن عبد الأعلى  بن عامر الشعبى عن بلال بن  أبى بردة بن أبى موسى عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سأل القضاء   وكل إلى نفسه ، و من جبر عليه نزل الله عليه  ملك فيسدده.(مصنف أبن أبى شيبة _ كتاب البيوع والأقضية باب فى القضاء وما جاء فيه : جزء 5: 1)
6.            Artinya, barang siapa yang mencari jabatan dan meminta bantuan untuk bisa menjadi pejabat, maka jabatan itu diserahkan segala urusannya kepadanya, namun barang siapa yang diminta untuk menduduki suatu jabatan, Allah akan menurunkan Malaikat untuk membimbingnya.
 7. حدثنا عبد الله حدثنا أبي حدثنا  وكيع  حدثنا إسرائيل  عن عبد الأعلى  الشعلبى عن بلال بن   أبى موسى عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سأل القضاء   وكل إليه ، و من  أجبر عليه نزل عليه  ملك فيسدده.(مسند أحمد -مسند أنس بن مالك 1177
 8.حدثنا عبد الله حدثنا أبي ثنا أسود بن عامر ثنا إسرائيل عن عبد الأعلى عن بلال بن أبي موسى عن أنس بن مالك قال: أراد الحجاج أن يجعل ابنه على قضاء البصرة قال: فقال أنس: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من طلب القضاء واستعان عليه وكل إليه ومن لم يطلبه ولم يستعن عليه أنزل الله  ملكا يسدده ( مسند أحمد
:12889)
Artinya, Barang siapa yang meminta jabatan dan meminta bantuan orang lain untuk memperoleh jabatan tersebut, maka serahkan segara urusan kepadanya (tanpa ada bantuan dari Allah), dan barang siapa yang tidak menuntut, tidak juga meminta bantuan kemudia terpilih maka Allah menurunkan malaikat untuk membimbingnya.
 9. حدثنا محمدبن محمد التمار قال نا محمد بن كثير العبدي قال نا إسرائيل عن عبد الأعلى عن بلال بن أبى بردة بن أبىسفيان عن أنس بن مالك : أن الحجاج أراد أن يجعل إليه قضاء البصرة فقال أنس: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم ييقول  من طلب القضاء واستعان عليه وكل إلى نفسه ومن لم يطلبه ولم يستعن عليه أنزل عز وجل ملكا يسدده (معجم الأوسط – كتاب من اسمه محمد باب محمد بن محمد التمار الجزء 6:5958)
Artinya, Barang siapa yang meminta jabatan dan meminta bantuan orang lain untuk memperoleh jabatan tersebut, maka serahkan segara urusan kepadanya (tanpa ada bantuan dari Allah), dan barang siapa yang tidak menuntut jabatan, tidak juga meminta bantuan kemudian terpilih maka Allah menurunkan malaikat untuk membimbingnya.
10 .  أخبرنى أبو بكربن إسحاق الفقيه  نا ابو المثنى نا محمد بن كثير العبدي قال نا إسرائيل عن عبد الأعلى عن بلال بن أبىموسى عن أنس بن مالك : أن الحجاج أراد أن يجعله على قضاء البصرة فقال أنس: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم ييقول  من طلب القضاء واستعان عليه وكل اليه ومن لم يطلبه ولم يستعن عليه وكل به ملك يسدده – هذا الحديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه ( مستدرك الحاكم- كتاب الأحكام باب الأحكام: 7021)
1.  Sunan Tirmizi
Tirmizi memiliki dua jalur sanad yang berbeda.
Pertama, al-Tirmizi menerima hadis ini dari Hannad yang menerima Waki’ ibn Jarrah. Waki’ mendengar dari Israil dari Abd al-A’la kemudian dari Bilal sampai kepada sahabat Anas.
Kedua, al-Tirmizi menerima dari  Abdullah ibn Abd Rahman yang mendengar dari Yahya ibn Hammad dari Abi Awanah. Abi Awanah mendengar dari Abd al-A’la  al-Tsa’alabi yang menerima Bilal ibn Mirdas al-Fazari dari Khaitsamah yang mendengar dari sahabat Anas ibn Malik ra.
a.Hannad
Nama          : Hannad ibn Sirri ibn Mus’ab ibn Abi Bakr ibn Syabr ibn Syafuq
Kuniyah      : Abu Sari          
Nisbah        : al-Tamimi, al-Dari, al-Kufi
Thabaqat     :  X lahir 152 H wafat 243 H
Guru           : Syarik, Abi al-Ahwas, ibn Mubarak, Husyaim, Sufyan ibn Uyainah, Isa ibn  Yunus.
Murid       : Jama’ah, namun al-Bukari tidak menulis hadis Hannad dalam kitab Shahihnya,  Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ibn Abi al-Dunya, Abu Hasan al-Sarraj, dll.           
Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abu Hatim: Shaduq – al-Nasâ’i dan Ibn Hajar: Tsiqat
b.  Waki’
Nama          : Waki’ ibn Jarrah ibn Malih al-Ru’usi
Kuniyah      : Abu Sufyan al-Kufi
Thabaqat     : IX wafat 197 H dalam usia 70 tahun.
Guru           : Isra’il Ibn Yunus, Hammad ibn salamah, Sulaiman al-A’masy, Syarik Ibn  Abdillah, Syu’bah ibn Hajjaj, dsb.
Murid              :  Ubaid (putranya), Ahmad Ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahawaih, Abu Umar Hafas ibn Umar al-Dari (ahli qira’at), ibn al-Mubarak, Abu Bakar Abdillah ibn Muhammad ibn Abi Syaibah, Hannad ibn Sirri, Ali al-Madini, Ali ibn Muhammad ibn al-Khasib, Yahya ibn Ma’in, dll
Al-Jarh wa l-Ta’dil: Ibn Hajar :Tsiqat, hafiz, abid.
 c. Abdillah ibn Abd al-Rahman
 Nama       : Abdullah ibn Abd al-Rahman ibn fadl ibn Bahram ibn Abd al-Shamad
 Kuniyah  : Abu Muhammad al-Samarqandi al-hafizh   Nisbah: al-Tamimi- al-Darimi
 Thabaqat: XI wafat 255
     Guru     : Aswad ibn Amir al-Sya’rani, Haiwah ibn Syuraih, Said ibn Manshur, Yahya    ibn Hammad,
  Murid     : Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Daud ibn Sulaiman al-Qatthan.
  Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abu Hatim ibn Hibban : huffazal-mutqin wa ahl al-wara’ fi al-din
 Ibn Hajar : Tsiqat fadlil shahin musnad al-Darimi        
  d.Yahya ibn Hammad
       Nama     : Yahya ibn Hammad ibn Abi Ziyad
       Kuniyah : Abu Muhammad, Abu Bakar al-Syaibani
       Thabaqat            : IX wafat 215 H
       Guru                   : Syu’bah, Jarir ibn Hazim, Hammad ibn Salamah, Laits ibn Sa’ad, Abu     Awanah, dll
       Murid                 : Bukhari, Ishaq ibn Rahawaih, Bandar, Muhammad ibn Mutsanna, Abu Ishaq al-Jauzijani, Abdullah ibn Abd  al-Rahman, dsb
    Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abu Hatim: Tsiqat Ibn Sa’ad: Tsiqat dan banyak hadisnya Ibn Hajar: tsiqat
  e. Abu Awanah
Nama            : Waddhah ibn Abdillah/maula Yazid ibn Atha’ al-Yasykuri al-Wasithi al-   Bazzaz
Kuniyah        : Abu Awanah
Thabaqat       : VII wafat 175/ 176 H
Guru             : Ayyub alSakhtiyani, Sulaiman al-A’masy, Abd al-A’la ibn Amir, Amru ibn    Dinar, Qatadah, dll
Murid           : Said ibn Mansur, Abu Nu’aim  Fadl ibn Dukain, Qutaibah ibn Sa’id,   Musaddad ibn Musarhad, Waki’, Yahya ibn Hammad, dll
Al-Jarh wa al-Ta’dil:  Abu Hatim dan Abu Zur’ah : Kalau meriwayatkan dari tulisannya dia benar, namun kalau dari hafalannya sering keliru karena itu dia shaduq tsiqat.  Ibn Hajar: tsiqat tsabat
f. Khaitsamah al-Bashri
Nama                      : Abd al-Rahman Khaitsamah ibn Abi Khaitsamah
Kuniyah                  : Abu Nashr al-Bashri
Thabaqah                : IV
Gurunya                 : Anas ibn Malik, Hasan al-Bashri
Murid                                 : Basyir ibn Sulaiman Abu Ismail, Bilal ibn Mirdas al-Fazari, Jabir ibn Yazid    al-Ju’fi, Sulaiman al-A’masy, Mansur ibn Mu’tamir
Al-Jarh wa al-Ta’dil: Yahya ibn Ma’in : laisa bi syai’     Ibn Hibban menulisnya dalam kitab alTsiqat-nya – ibn Hajar : layyin al-hadis
2.  Sunan Ibn Majah
              Ibn Majah meriwayatkan hadis ini dari dua gurunya  (Muhammad ibn Ismail dan Ali Ibn Muhammad) yang menerima  dari Waki’.
a.  Muhammad ibn Isma’il
Nama         : Muhammad ibn Ismail Samrah al-Ahmasi
Kuniyah    : Abu Ja’far al-Kufi, al-Sarraj
Thabaqat    : X w. 260 H
Guru           : Abu Mu’awiyah, ibn Uyainah, al-Muharibi, Ja’far ibn Aun, Utsman ibn Abd al-Rahman al-Tharaifi, Waki’, Wahb ibn Ismail al-Asadi, dll
Murid         : al-Tirmizi, al-Nasa’i, ibn Majah, ibnn Khuzaimah, dsb.
Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abu Hatim : Shaduq tsiqat,-al-Nasa’i: tsiqat- ibn Hibban menulisnya dalam kitab Tsiqat-Ibn Hajar : tsiqat
b. Ali ibn Muhammad
Nama          : Ali ibn Muhamad ibn Ali ibn Khashib
Nisbah        : al-Qurasyi, al-Hasyimi, al-Kufi, al-Wassha’
Thabaqat     : X  wafat 258 H
Guru           :Abu Usamah Hammad ibn Husamah, Sufyan ibn Uyainah, Amru ibn    Muhammad al-Anqazi, Nuhammad ibn Utsman, Waki’ ibn Jarrah, Yahya ibn Isa, dll.
Murid         : Ibn Majah, Abd Rahman ibn Abi Hatim, Abu Ja’far Muhammad ibn Husain.
Al-Jarh wa al-Ta’dil: Abd al-Rahman ibn Abi Hatim: mahaluhu al-shidq– ibn Hibban menulisnya dalam al-Tsiqat[15]-ibn Hajar: shaduq
3.  Musnad Ahmad ibn Hanbal
Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini dari dua jalur, jalur pertama adalah melalui Waki’ dan yang kedua dari Aswad ibn Amir yang menerima hadis dari Isra’il.
a.      Aswad ibn Amir Syadzani
Kuniyah               : Abu Abd al-Rahman al-Syami  
Thabaqat              : IX wafat  208 H
Guru                     : Isra’il ibn Yunus, Hammad ibn Salamh, Sufyan al- Tsauri,  Syu’bah ibn Hajjaj, Abdullah ibn Mubarak, Abu Bakar ibn Ayyasy
Murid                   : Abu Tsaur Ibrahim ibn Khalid al-Kalbi, Ahmad ibn Hanbal, Abdullah ibn Abd al-Rahman al-Darimi, Abu Bakar Abdullah ibn Muhammad ibn Abi Syaibah, Ali ibn Madini.
Kualitas Rawi      : Abu Hatim : tsiqat – ibn Hajar: tsiqat
b. Abdullah Ibn Ahmad
Nama        : Abdullah ibn Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ibn Hilal ibn Asad al-Syaibani
Kuniyah   : Abu Abd al-Rahman al-Baghdadi
Thabaqat  : XII  lahir 213 H wafat  309 H
Guru         : Ayahnya (Ahmad ibn Hanbal), Ahmad ibn  Muhammad ibn ibn Yahya ibn Sa’id al-Qatthan, Abu Rabi’ Sulaiman, ibn Daud al-Zahrani, Ibn Abi Syaibah, Muhammad ibn Abdillah ibn Mubarak
Murid       : al-Nasa’i, Abu Bakar  Ahmad ibn Ja’far ibn Hamdan ibn Malik al-Qathi’i, Abu Awanah, Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim al-Isfarayini
Kualitas Rawi      :  Ibn Hajar : alHafiz[16]
c.       al-Qathi’i
Nama        : Abu Bakar  Ahmad ibn Ja’far ibn Hamdan ibn Malik ibn Syabib
Nisbah      : al-Baghdadi, al-Qathi’i al-Hanbali
Wafat       : 23 Zulhijjah 368 H dalam usia 95 tahun
Guru         : Muhammad Yunus al-Kudaimi, Basyar ibn Musa, ibrahim al-Harbi, Abdullah ibn Ahmad, Abdullah ibn Abbas al-Thayalisi, dll.
Murid       : al-Daruquthni, Ibn Syahin, al-Hakim, Khalaf ibn Muhammad al-Wasithi, Abu Bakar ibn Thayyib al-Baqillani, dll
Kualitas Rawi      : al-Daruqutni : tsiqat zahid[17]
Natijah (Hasil) Penelitian Hadis
Dari seluruh jalur sanad di atas -seperti dikatakan di muka- bahwa hadis Abu Daud ini hanya diriwayatkan oleh sahabat Anas ibn Malik, sehingga disebut hadis garib nisbi. meskipun banyak riwayat-riwayat sebagai mutabi’-nya. Kalau melihat pada ketersambungan sanad maka hadis yang diriwayatkan oleh al-Turmuzi, Ahmad dengan jalur isnad Abu Awanah dari Abd al-A’la dari Bilal ibn Mirdas melalui Khaitsamah al-Bashri yang mendengar dari sahabat Anas lebih shahih ketimbang isnad yang melalui Bilal langsung mendengar dari Anas. Karena kemungkinan besar Bilal melakukan tadlis terhadap hadis ini, yaitu tidak mendengar langsung hadis ini dari Anas meski ia sezaman dan berguru dengannya, namun Bilal menerima dari Khaitsamah. Sehingga hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan tabi’ lain yang melalui Bilal langsung kepada Anas isnad dlaif (terputus). Bila dilihat dari sisi perawi maka hadis ini Hasan, karena Bilal termasuk dalam rawi yang maqbul.
Mengenai kualitas matan hadis, meski ada sedikit perbedaan matan dari hadis  tersebut. Hal ini terjadi kerena terjadi periwayatan bi alma’na. Di sini penulis tidak menemukan adanya sadz dan illat pada matannya. Kesimpulannya, hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud tergolong hadis dlaif, namun karena tabi’dari riwayat Ahmad dan al-Tirmidzi yang Hasan, maka hadis abu Daud ini menjadi hadis Hasan li ghairihi.
Meminta Jabatan dalam konteks Hadits
Secara umum, hadis ini berisi tentang masalah hukum, lebih khusus lagi mengenai meminta jabatan sebagai qâdli atau hakim. Rasullullah saw. bersabda yang maknanya: ”Barang siapa yang mencari atau meminta jabatan sebagai qâdli kepada orang lain, maka Allah akan berlepas tangan darinya, jika ia tidak meminta” jabatan” tersebut maka Allah akan senantiasa memberi petunjuk kepada kebenaran, dengan mengutus malaikat-malaikatnya.” Di sini, nampaknya Rasullulah ingin memperkuat keyakinan dan keimanan adan sikap tawakkal  seseorang akan takdir yang ditentukan oleh-Nya. Sehingga segala persolan harus diserahkan kepadanya. Kalau ada upaya dari orang yang berhasrat untuk mendapatkan jabatan tersebut, maka Allah tidak akan memberinya taufik dan hidayah dalam segala perbuatannya. Karena pada prinsipnya meminta jabatan itu adalah makruh.[18]
Dalam sebuah hadis lain disebutkan bahwa Nabi Saw tidak akan memberikan/menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta dan berhasrat.(HR. Bukhari dari Abu Musa). Tapi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah ada sebuah hadis yang secara zhahir sedikit bersinggungan dengan hadis, yaitu:
من طلب قضاء المسلمين حتى يناله ثم غلب عدله جوره فله الجنة، ومن غلب جوره عدله فله النار.
Hadis Abu Daud dari riwayat Anas di atas yang mengatakan bahwa tidak adanya pertolongan dan taufiq menuju kebenaran Allah swt terhadap orang yang meminta jabatan, namun hadis dari Abu Hurairah menyebut bahwa  orang yang meminta jabatan tapi ia manpu berbuat adil, maka ia masuk surga. Di sini  Ibn Hajar berupaya menyatukan pemahaman dua hadis tersebut. Menurutnya  tidak mesti orang yang tidak mendapat pertolongan Allah karena meminta jabatan tidak bisa menghasilkan keadilan kalau ia memerintah, atauطلب  di sini juga berarti القصد atau تولية. Sesungguhnya  orang yang tidak memperoleh pertolongan dari Allah tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk tugas itu, sehingga tidak mesti dikabulkan permintaannya. Sebagaimana dimaklumi bahwa setiap tauliyah tidak luput dari kesulitan-kesulitan, sehingga orang yang tidak dibantu oleh Allah maka ia dalam posisi yang sulit dan terus dirundung kerugian di dunia dan di akhirat mendapat siksanya. Tapi bagi orang yang memiliki kemampuan (akal) untuk memecahkan persoalan sulit dan ia pada dasarnya tidak meminta jabatan itu, bahkan ia jika ia mampu dan diberi keduadukan untuk menyelesaikan masalah tanpa meminta, maka Tuhan yang Maha Benar akan membantunya.[19]
Imam al-Nawawi mengatakan bahwa hadis ini merupakan petunjuk yang jelas untuk menjauhi tauliyah lebih-lebih bagi orang yang tidak mempu (lemah). Sesungguhnya benar bahwa orang yang tidak mampu dan tidak adil  dalam menjalankan sebuah amanat “tauliyah   akan menyesal atas  penyalahgunaan itu, karena itu  akan direndahkan pada hari kiamat. Tapi orang yang mampu dan adil maka pahala besar akan menantinya,[20]Tapi bagaimanapun, masuk dalam wilayah tauliyah memerlukan kewaspadaan yang tinggi, karena itulah para ulama banyak menolak memegang  jabatan.[21]
Catatan Akhir
Hadist tentang meminta jabatan ini memberikan rambu-rambu etika profesioanalisme dalam memangku jabatan. Sebab secara etika sosial, jabatan hanya pantas diberikan kepada orang yang tidak ambisi terhadap jabatan.  Jabatan hanya pantas untuk orang yang memiliki keilmuan leadership yang tinggi dan menajerial yang kuat, sehingga amanah umat dapat dijalankan secara baik dan benar.
Nabi menegaskan bahwa yang meminta jabatan kemudian mendapatkan jabatan itu, maka tidak ada jaminan orang itu untuk menjalankan amanah dengan baik, bahkan nabi menggunakan redaksi “serahkan kepadanya saja tapi ingat tidak ada bimbingan Allah kepadanya”.  Artinya orang yang menduduki suatu jabatan tapi tidak ada bimbingan Allah, kemungkinan besar dia akan melenceng dari amanah yang sedang diembannya. Sebaliknya jika jabatan tidak diminta, tidak juga meminta bantuan orang, kemudian terpilih, maka Nabi memberikan jaminan bahwa orang tersebut akan mendapatkan bimbingan lansung dari Allah. Jadi, meminta jabatan dan meminta bantuan orang lain untuk mendapatkan kedudukan, secara etika-sosial tidak mencerminkan keperibadian yang baik bahkan menampakkan pribadi yang ambisius. Inilah yang tidak dikehendaki oleh Agama jika menduduki jabatan berdasarkan ambisi bukan berdasarkan professionalisme. Nabi menegaskan Jabatan hanya milik orang yang memiliki kapabilitas, akuntabilitas dan profesionalisme. Dengan demikian jabatan yang diamanahkan kepadanya dapat dijalankan secara konsekuen, transfaran dan profesional.     
Daftar Pustaka
al-Atsqalani, Ibn Hajar, Tahdzib al-Tahdzib (Beirut: Dar fikr, 1984). cet. 1
————–, Taqrib al-Tahdzib  (Beirut: Dar Kutub ilmiyah, 1993, cet 1
————–, Fath al-Bari (Beirut: Dar al-Fikr, tth),  jilid 13.
Azami, Muhammad Musthafa, Study in Hadith Methodology and Literature (terj. Meth Kieraha) (Jakarta: Lentera, 1995). cet 2.
Basuni Zaghlul, Abu Hajir Muhamad Sa’id, Maushu’ah Athraf al-Hadis al-Nabawi al-Syarif (Beirut: I’lam al-Turats,1989) Jilid 8
al-Dzahabi, Syams al-Din ibn Ahmad Utsman, Siyar A’lam al-Nubala’ (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1990). Cet. 7
Ibn Majah, Sunan Ibn Majah  taliq oleh Fuad Abdul Baqi (Semarang: Toha Putra,tth) jilid 2.  
al-Mizzi, Jamal al-Din Abi al-Hajjaj Yusuf, Tahdzib al-Kamalfi Asma’ al-Rijal, (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1991) cet.1
al-Sharanfuri, Khalil Ahmad, Badzl al-Majhud fi Hall Abi Daud  (Beirut: Dar Kutub Ilmiyah, tth). Jilid 15.
al-Suyuthi, Jalaluddin, Al-Jami’ al-Shagir fi Ahadis al-Basyir al-Nadzir (Beirut:Dar al-Fikr, . 1981), jilid II. cet. 1
Wensink, A.J., Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawi (Leiden: E.J. Brill. Vol. VII, 1963.




Ò Penulis adalah dosen tetap Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram. E-mail: roziqi_iain@yahoo.co.id.
[1] Hadis mutawâtir menurut bahasa berarti tatabu atau mutabi’ yaitu yang datang berikutnya, atau beriring-iringan antara satu dengan  yang lainnya dengan tidak ada jaraknya. Sedangkan menurut istilah Mutawatir diartikan sebagai hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang mustahil mereka bersepakat untuk berbohong. Lihat, Mahmud at-Thahan, Taisir Musthalah al-Hadits  (Beirut: Dar al-Qur’an al-Kariem, 1979), 18.
              [2]Hadits Ahâd secara bahasa berarti satu atau tunggal. Sedangkan secara istilah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits mutawatir. (Jalaluddin Abdurrahman ibn Abi Bakar al-Syayuthi, al-Jami’ al-Shaghir (Beirut: Dar al-Fkr, ttp), Jilid II, 667.
[3]Abu Hajir Muhamad Sa’id Basuni Zaghlul, Maushu’ah Athraf al-Hadis al-Nabawi al-Syarif  (Beirut: I’lam al-Turats, 1989) , Jilid 8,  290- 386
[4]1. من طلب القضاء واستعان عليه وكل إلى نفسه: حم 220:3      الحاكم : 92:4
                                                                                 فتح :124:13  تلخيص : 181:4
                                                                                 د     : 3578   كنز   :14996
2. من طلب القضاء واستعان عليه وكل إليه                             د :الأقضية ب 3       كر :356:4
3. من طلب القضاء وكل إلى نفسه                                        نصب :68:4
4. من سأل القضاء وكل إلى نفسه                                        ت 323[4]    هـ 2309
                                                                                 ش 14 : 219   نصب 4: 69
                                                                                 ترغيب 3: 163   كنز 14995،14996
5. من سأل القضاء وكل إليه                                               حم 3: 118
Keterangan rumus:
1.        حم : مسند احمد بن حنبل مجلد الثالث:رقم الصفحة 220
                                                                                 الحاكم: المستدرك الحاكم مجلد الرابع : رقم الصفحة 92
                                                                                 فتح   : فتح الباري لإبن حجر مجلد 13 صفحة 124
                                                                                 تلخيص: تلخيص الخبير لإبن حجر مجلد الرابع صفحة 181
                                                                                 د    : سنن ابو داود رقم الحديث 3578
                                                                                 كنز     : كنز العمال للهندي رقم الحديث 14996
2. داود    : سنن أبو داود كتلب الأقضية الباب الثالث
                                                                                 كر    : تهذيب تاريخ دمشقي مجلد الرابع صفحة 356
3. نصب : نصب الراية لتخريج أحاديث الهداية لزيلعي مجلد الرابع صفحة 68
4. ت     : سنن الترمذي
                                                                                 هـ    :  سنن ابن ماجه رقم الحديث 2309
                                                                                 ش     : مصنف ابن أبي شيبه مجلد 14 : صفحة 219
                                                                                 حم     : مجلد 3 صفحة 118
[5]Jalaluddin al-Suyuthi, Al-Jami’ al-Shagir fi Ahadis al-Basyir al-Nadzir  (Beirut:Dar al-Fikr, 1981), jilid II, cet. 1,  548
[6]A.J. Wensink, Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Hadis al-Nabawi  (Leiden: E.J. Brill), Jilid 7, 301
[7]Khalil Ahmad al-Sharanfuri , Badzl al-Majhud fi Hall Abi Daud  (Beirut: dar Kutub Ilmiyah,  tth), Jilid 15, 256
[8]Fuad Abdul Baqi, Ta’liq Sunan Ibn Majah (Semarang: Toha Putra, tth), jilid 2, 774  
[9]Apabila sebuah hadis diriwayatkan dengan lafaz (عن) sering disebut dengan istilah hadis mu’anan. Hadis yang masuk dalam kategori ini adalah jika periwayat yang menggunakannya terkenal sebagai pelaku tadlis (tidak menyebut sanad yang lebih tinggi padahal ia tidak mendengar langsung dari rawi yang di atasnya). Dalam hal ini isnadnya dianggap terputus, namun jika periwayatnya tidak dikenal suka mempraktikkan tadlis, dan diketahui ia telah belajar dari ulama yang menjadi sumber riwayatnya ini kendati kita tidak mengetahui mengetahui bahwa ia juga belajar dari ulama tersebut untuk hadis ini, atau bila kita tidak mempunyai bukti  positif bahwa ia memang belajar darinya tapi ada kemungkinan akan hal itu karena keduanya tinggal dalam satu kota dan hidup dalam satu periode, maka isnad  tersebut dianggap tidak terputus.(Muhammad Musthafa Azami,  Study in Hadith Methodology and Literature, (terj. Meth Kieraha) (Jakarta: Lentera, 1995), cet 2, 92      
[10] Ibn Hajar al-Atsqalâni, Tahdzib al-Tahdzib (Beirut, Dar fikr, 1984) cet. 1, juz 9, 381 dan Taqrib al-Tahzib, juz 1, 504
[11] Kalau al-Nasa’i mengatakan laisa bihi ba’sun, maka menurut ulama bermakna tsiqat
[12]Syams al-Din ibn Ahmad Utsman al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’(Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1990), cet. 1, juz 2,  514-524 lihat pula Ibn Hajar, Tahdzib. 88
[13]Ibn Hajar, Tahdzib., Juz 6,  86-87  dan Taqrib al-Tahdzib, jilid 1, 551
[14] Ibid., jilid 3, 353-378     
[15]Jamal al-Din Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal fi Asma’ al-Rijal  (Beirut: Mu’assasah al-Risalah, 1991), cet.1, juz 21, 123-124
[16]al-Dzahabi, Siyar A’lam., Jilid.14, 285-292  Lihat juga Ibn Hajar, Tahdzib,  Jilid 1, 477
[17]Ibid., Jilid 16, 210-213
[18]Ibn Hajar al-Atsqalâni, Fath al-Bâri (Beirut: Dar al-Fikr, tth), Jilid 13,124
[19]Ibid
[20]Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadis tentang janji Tuhan dalam masalah ini:
انكم ستحرصون على الإمارة وستكوم ندامة يوم القيامة فبئست الفاطمة (اخرجه البخاري عن أبي هريرة)
[21]Ibid., 126

Share this post