PENERAPAN DAKWAH FARDIYAH DI KAMPUS (Perspektif Theory of Discourse and Interaction)

OLEH : FAHRURROZI DAHLAN
Dakwah fardiyah atau dakwah secara personal merupakan sebuah metode dakwah yang tidak pernah usang, sejak masa Rasulullah Saw. Bentuk dakwah personal ini menjadi dakwah alternatif di beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang dilakukan oleh mahasiswa. Mereka mendirikan organisasi yang bagus dan profesional seperti pembentukan lembaga-lembaga dakwah atau kelompok kajian-kajian ke-Islam-an dan lainnya.
Dari pernyataan di atas, muncul beberapa pertanyaan yaitu, bagaimana membangun komunikasi antarpribadi dalam kerangka dakwah fardiyah? Bagaimana korelasi ilmu komunikasi dengan dakwah fardiyah ? Dan bagaimana penerapan dakwah fardiyah dalam kampus?
Keberhasilan komunikasi atau interaksi antarpribadi sangat tergantung pada pemahaman konsep-konsep komunikasi itu sendiri, bagaimana strategi seorang da’i memperlakukan seorang mad’u dan bagaimana bentuk interaksi yang dipakai oleh da’i terhadap mad’u.

 
Kajian utama dalam paper ini adalah dakwah fardiyah. Salah satu pendekatan yang relevan dengan dakwah fardiyah adalah prinsip komunikasi antarpribadi yang dikenalkan oleh Coupland & Giles (1988, hal. 178) yang menjelaskan bahwa dalam berinteraksi, seorang komunikator (da’i) harus mampu mengakomodir dan mengarahkan komunikasi yang sesuai dengan karakteristik komunikan (mad’u). Sikap menerima atau menolak yang ditunjukkan oleh mad’u memerlukan penyesuaian dengan prilaku yang ditunjukkan oleh da’i. Maka dalam hal ini, Burgoon, Stern dan Dillman (1995, hal. 265-279) menawarkan konsep-konsep penyesuaian interaksi.
Penyesuaian interaksi di atas menjadi metodologi komunikasi yang terdiri dari pengenalan karakteristik komunikasi dan tahapan-tahapan berinteraksi; karakteristik dakwah fardiyah diungkapkan oleh Sayid Muhammad Nuh (2000, hal. 47), tahapan dakwah fardiyah diungkapkan oleh Armawati (2003, hal. 117-121). Metode komunikasi dalam dakwah fardiyah merupakan metode dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat. Sebagaimana juga, metode ini menjadi pedoman dalam kegiatan rutin sebagian mahasiswa perguruan tinggi dalam wadah Lembaga Dakwah Kampus (LDK).
Menurut penulis, metode dan model dakwah fardiyah yang diterapkan oleh LDK GAMAIS ITB Bandung merupakan contoh penerapan teori komunikasi antarpribadi yang mengikuti tahapan-tahapan; mengenali, mendekati, mengajak, mendo’akan dan menjaga komunikasi dengan mad’u. 
PENERAPAN DAKWAH FARDIYAH DI KAMPUS
(Perspektif Theory of Discourse and Interaction)

A. PENDAHULUAN

Menyampaikan sesuatu berarti menyampaikan apa yang ada pada diri seseorang kepada orang lain baik melalui lisan maupun tindakan. Dalam konteks dakwah, orang yang menyampaikan disebut da’i, sesuatu yang disampaikan disebut dakwah, dan sasaran penyampaian disebut mad’u. Dari pemahaman tersebut, maka fungsi utama seorang da’i adalah menyampaikan dakwahkepada mad’u, dimana seorang da’i mengajak seorang mad’uatau objek dakwah untuk mengenal Islam lebih mendalam. Seorang da’iyang dengan lisannya, menyampaikan risalah Islam dan mengajak objek dakwahnya untuk belajar Islam.
Dakwah adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan dengan mempergunakan metode yang bermacam-macam dan dilaksanakan oleh perorangan, sekelompok komunitas dan masyarakat. Kegiatan ini telah berlangsung sejak dunia ini terkembang jelasnya sejak nabi Adam AS sebagai nabi pertama dan menusia pertama sampai dewasa ini bahkan sampai akhir nanti.[1]
Perjalanan dakwah Islam yang sudah memasuki abad ke 15 ada sebuah metode dakwah yang tidak pernah usang, sebuah metode dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, yang juga dilakukan oleh para Khulafaur Rasyidin, dan bahkan yang dilakukan Adam AS, Ibrahim AS, Musa AS hingga Isa AS yaitu dakwah fardiyah atau dakwah secara personal. Bentuk dakwah personal ini memang sesuai dengan namanya, yakni aktifitas dakwah secara personal dari seorang personal ke personal lainnya.
Kegiatan dakwah atau kegiatan menyampaikan dan mengajak merupakan kegiatan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Seorang da’i menyampaikan firman Allah Swt yang memuat ajaran agama Islam kepada umatnya baik secara sembunyi-sembunyi, terang-terangan di depan umum, atau berkunjung langsung ke tempat-tempat tertentu.
Bentuk dakwah yang dilakukan Rasulullah Saw diatas telah menjadi dakwah alternatif di beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang dilakukan oleh mahasiswa. Mereka yang merasa terpanggil untuk menjadi kader dakwah, menyusun berbagai agenda dakwah, dengan mendirikan organisasi yang bagus dan profesional seperti pembentukan lembaga-lembaga dakwah atau kelompok kajian-kajian ke-Islam-an dan lainnya. Sehingga lewat lembaga tersebut, mahasiswa secara langsung bisa menjadi da’i dimanapun dia berada. Di lembaga ini dia akan menyampaikan dakwah dengan perkataan, komunikasi dan keteladanan agar objek dakwahnya bersedia belajar Islam lebih mendalam.
Dakwah yang dilakukan oleh mahasiswa di kampus merupakan kegiatan-kegiatan dalam bentuk interaksi antarpribadi atau lebih tepat disebut dengan dakwah fardiyah karena memang berawal dari interaksi seorang mahasiswa (da’i) dengan mahasiswa lain (mad’u). Lalu, bagaimana membangun komunikasi antarpribadi dalam kerangka dakwah fardiyah? Bagaimana karakter dan tahapan dakwah fardiyah yang dilakukan mahasiswa dalam kampus? Apa tujuan penerapan dakwah fardiyah dalam kampus?
Pertanyaan-pertanyaan di atas akan dibahas dalam makalah sederhana ini yang disusun dalam tiga bagian; pertama pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan dan sistematika pembahasan.defenisi dakwah fardiyah. Bagian kedua pembahasan; yaitu kerangka teoritis dan analisis yang terdiri dari defenisi dakwah fardiyah, teori komunikasi dalam dakwah fardiyah, metodologi dakwah fardiyah dan model penerapan dakwah fardiyah di kampus. Bagian ketiga penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran.

B. PEMBAHASAN

1. Defenisi Dakwah Fardiyah
            Dakwah fardiyah menurut Muhammad Nuh adalah konsentrasi dengan dakwah atau berbicara dengan mad’u secara tatap muka atau dengan sekelompok kecil dari manusia yang mempunyai ciri-ciri dan sifat-sifat khusus.[2]Sedangkan menurut Ali Abdul Halim Mahmud, dakwah fardiyah adalah antonym dari dakwaf jama’iyah atau ‘ammah, yaitu ajakan atau seruan ke jalan Allah yang dilakukan seorang da’i (penyeru) kepada orang lain secara perorangan dengan tujuan memindahkan al-mad’u pada keadaan yang lebih baik dan diridhai Allah. Dakwah fardiyah dalam hal ini memiliki tiga pengertian yaitu; mafhum dakwah (seruan/ ajakan, mafhum haraki (gerakan), dan mafhum tandzimi (pengorganisasian).[3]
            Dari defenisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa dakwah fardiyah yang dilakukan oleh seorang da’i kepada seorang mad’u sejalan dengan pengertian interaksi atau komunikasi antarpribadi atau interpersonal.

2. Teori Komunikasi dalam Dakwah Fardiyah

            Komunikasi memegang peranan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari baik di ruang lingkup keluarga, organisasi formal, nonformal dan masyarakat. Manfaat ilmu komunikasi bagi individu, di antaranya untuk pembentukan dan pengembangan pribadi  dan kontak sosial.[4] Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa dakwah fardiyah mempunyai kesaman dengan komunikasi antarpribadi atau juga interaksi interpersonal. Katherine Miller dalam bukunya, “Communication Theories: Perspectives, Processes and Contexts.” mengenalkan Theories of Discourse and Interaction yang menjelaskan tentang bagaimana orang-orang berwacana kepada orang lain dan berinteraksi antar sesama mereka dalam rangka saling mempengaruhi.[5]
Secara teoritis, Coupland & Giles menjelaskan bahwa dalam berinteraksi, seorang komunikator (da’i) harus mampu mengakomodir dan mengarahkan komunikasi yang sesuai dengan karakteristik komunikan (mad’u).[6] Karena diakui bahwa tidak selamanya mad’u memiliki karakter yang sama dengan da’i. Ketika menghadapi mad’u yang berkarakter sama dengan da’i, maka da’i akan lebih mudah melakukan interaksi. Tapi ketika menghadapi mad’u yang berbeda karakter dengan da’i, maka da’i harus melakukan identifikasi tertentu agar tercipta interaksi yang baik.
Setelah identifikasi karakter, seorang da’i juga harus bisa memprediksi apakah komunikasi atau interaksi yang dilakukannya akan diterima atau ditolak oleh mad’u dan bagaimana pula da’i merespon sikap menerima atau menolak dari mad’u. Semuanya memerlukan metode dan cara yang tepat.
Sikap menerima atau menolak yang ditunjukkan oleh mad’u memerlukan penyesuaian dengan prilaku yang ditunjukkan oleh da’i. Maka dalam hal ini, Burgoon dan rekan-rekannya menawarkan konsep-konsep penyesuaian interaksi. Konsep-konsep itu dibedakan antara; diperlukan  (Required) faktor biologis yang mengatur perilaku, diharapkan  (Expected) faktor sosial yang mengatur perilaku, dan diinginkan (Desired) faktor individu yang mengatur perilaku. Tiga faktor ini (RED) bergabung dalam menciptakan satu posisi interaksi (Interaction Position) yang menegaskan satu kecenderungan prilaku dan satu harapan prilaku teman.[7]

            Jadi, keberhasilan komunikasi atau interaksi antar pribadi sangat tergantung pada pemahaman konsep-konsep komunikasi itu sendiri, bagaimana strategi seorang da’i memperlakukan seorang mad’u dan bagaimana bentuk interaksi yang dipakai oleh da’i terhadap mad’u.

            Untuk itu diperlukan metodologi komunikasi yang terdiri dari pengenalan karakteristik komunikasi dan tahapan-tahapan berinteraksi. Dalam dakwah fardiyah yang sudah dijelaskan sebelumnya menunjukkan bahwa pentingnya mengikuti tahapan-tahapan berinteraksi atau berdakwah agar tujuan dakwah yang diharapkan oleh da’i bisa tercapai dengan semaksimal mungkin. Ada beberapa contoh dakwah fardiyah yang sudah pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw dan para sahabat selama hidupnya. Sebagaimana juga, kegiatan dakwah fardiyah tersebut menjadi kegiatan rutin sebagian mahasiswa perguruan tinggi dalam wadah Lembaga Dakwah Kampus(LDK).[8]

3. Metodologi Dakwah Fardiyah

Dakwah fardiyah menurut Sayid Muhammad Nuh memiliki karakteristik sebagai berikut :
  1. Adanya mukhatabah (berbincang-bincang) dan muwajjahah (tatap muka) dengan mad’u secara dekat dan intens. Hal ini mempermudah terbukanya berbagai macam permasalahan dan problem yang tidak mungkin dilakukan ketika menghadapi orang banyak.
  2. Istimrariyah yaitu terjaganya keberlanjutan dakwah, khususnya di saat-saat sulit dan dalam kesempitan.
  3. Berulang-ulang yaitu dapat dilakukan setiap saat tanpa menunggu momen tertentu.
  4. Mudah yaitu bisa dilakukan setiap orang.
  5. Bisa terhindar dan tertutupi dari pandangan manusia, terutama musuh.
  6. Dapat menghasilkan asas-asas dan pilar-pilar amal.
  7. Dapat membantu mengungkap potensi dan bakat terpendam.
  8. Dapat menghasilkan tarabuth (keterikatan yang erat) dan ta’awun (bekerja sama).
  9. Sang da’i akan bisa menggali pengalaman dan pembiasaan dalam aktivitas dakwah dan itu merupakan hal yang mutlak dilakukan.
  10. Bisa mendorong pelakunya untuk menambah bekal dan pengalaman, sehingga lebih mapan dalam aspek operasionalnya.
  11. Bisa mengarahkan sang da’i untuk selalu bermujahadah, karena adanya tuntutan untuk senantiasa menjadi uswah dan qudwah bagi sang mad’u.
  12. Dapat memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mad’u untuk menanyakan segala sesuatu yang berkenaan dengan keIslaman dirinya. Ini tentunya apabila tarabuth dan takwin (pembentukan) bisa terwujud dengan sempurna.[9]
Sedangkan tahapan-tahapan dakwah fardiyah yang menurut Armawati perlu dicermati agar tidak terjadi semangat berlebihan atau sikap lemah (futur) di sepanjang perjalanan dakwah. Tahapan itu antara lain :
  1. Ta’aruf ; yaitu upaya untuk memahami secara mendalam tentang kondisi mad’u, dari segi kejiwaan, pemikiran, sosial, ekonomi, serta moral prilaku. Ini dalam rangka untuk mendeteksi sejauh mana tingkatan kualitas mad’u berikut titik-titik kelemahan yang ada. Secara ringkas, tahapan ini adalah pertama, menghormati dan memberi kesan kepada mad’u bahwa ia adalah pusat perhatian dan pengendalian sehingga diharapkan hatinya cepat terbuka. Kedua, untuk sementara menjauhi perbincangan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan dakwah dengan alasan menghindari sikap fobi mad’u terhadap dakwah. Ketiga, berusaha menggali dan memunculkan apa saja yang tersembunyi di balik jiwa sang mad’u berikut segala sesuatu yang meliputinya, sekaligus mencari metode dan sarana yang memungkinkan untuk bisa diterapkan. Keempat, mengikuti perkembangan dan keadaan mad’u dengan seksama, baik dari keluarganya, anaknya, rumahnya, mesjid, di jalan atau di medan kerja.
  2. Meluruskan pemahaman dan membentuk kecenderungan; yaitu tindak lanjut dari perbincangan sebelumnya. Kondisi mad’u biasanya tidak akan terlepas dari satu di antara beberapa keadaan tertentu seperti; (1) Ada yang masih awam dengan Islam secara keseluruhan atau sebagian, tetapi dia tidak banyak mendebat dan sombong. Dia memiliki kesiapan ma’rifah yang cukup baik. (2) Ada yang mengerti tentang Islam namun kurang ma’rifahnya tentang Islam dan tidak murni. Meski begitu dia tidak suka mendebat, tidak pula sombong. (3) Ada yang faham tentang Islam, namun farsial dalam merealisasikan ajaran dan mendakwahkannya. (4) Ada yang faham tentang Islam secara keseluruhan dan mengaflikasikannya dalam jiwa, namun ia terjebak dalam kesendirian dan terjauh dari jama’ah. (5) Ada yang faham tentang Islam secara integral dan menyuruh serta mengaflikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dia pun berdakwah, namun dakwahnya dilakukan secara infiradiyah. Dalam kondisi seperti ini perbincangan harus diarahkan kepada amal jama’i dan bahaya infiradi seperti pada keterangan terdahulu. (6) Ada yang faham tentang Islam secara menyeluruh, merealisasikannya dan mendakwahkannya dalam sebuah tatanan jama’ah. Namun jama’ah yang diikutinya bukanlah jama’ah yang mengambil Islam secara utuh dan menjadikannya sebagai manhaj hayyah (tatanan hidup). Dalam menghadapi kelompok ini perbincangan harus ditekankan tentang jama’ah-jama’ah Islamiyah di pentas amal Islami dan mengadakan taqwim (pengujian akan keabsahan) jama’ah tersebut. Sehingga pada hasil akhir akan didapat jama’ah yang betul-betul sesuai dengan yang dimaksud. (7) Ada yang faham tentang Islam secara utuh  dan beriltizam dengannya. Dia pun yakin bahwa jalan untuk mengokohkan dien Islam adalah dengan melalui jama’ah yang ideal sebagaimana yang dijelaskan sebelum ini. Namun dalam waktu yang sama ia menerima shubhat-shubhat dan kesalahfahaman tentang jama’ah tadi karena banyaknya tuduhan yang diarahkan kepadanya.
  3. Menguji kebenaran pemahaman dan kejujuran loyalitas, yaitu dengan mengikuti secara seksama perkembangan mad’u dengan cara mu’ayasyah (bergaul), mushahabah (bersahabat), dan tajribah (mengambil pengalaman) pada setiap medan kehidupan dan aktivitas. Medan yang dimaksud adalah (1) di Masjid, (2) di rumah, (3) di saat-saat sulit, (4) di tengah-tengah pembicaraan dan di saat-saat diam, (5) dalam hal makan dan minum, (6) dalam semua bentuk mu’amalah baik yang berhubungan dengan harta atau yang selainnya, dan (7) dalam semua kesempatan, ketika bepergian, ketika mukim, ketika sendiri, dan ketika dalam suasana keramaian.[10]
Menurut Syaikh Musthafa Masyhur, tahapan dakwah fardiyah ada tujuh yaitu:
a.       Membina hubungan dan mengenal setiap orang yang hendak didakwahi.
b.      Membangkitkan iman yang mengendap dalam jiwa.
c.       Membantu memperbaiki keadaan dirinya dengan mengenalkan perkara-perkara yang bernuansa ketaatan kepada Allah dan bentuk-bentuk ibadah yang diwajibkan
d.      Menjelaskan tentang pengertian ibadah secara syamil (menyeluruh/ komprehensif) tidak hanya terbatas pada masalah shalat, puasa, zakat dan haji.
e.       Menjelaskan kepada mad’u bahwa keberagamaan da’i tidak cukup hanya dengan ke-Islam-an diri da’i sendiri, hanya sebagai seorang muslim yang taat menjalankan kewajiban ritual, berprilaku baik dan tidak menyakiti orang lain, lalu selain itu tidak ada lagi.
f.       Menjelaskan kepada mad’u bahwa kewajiban di atas tidak mungkin dapat ditunaikan secara individu, masing-masing orang secara terpisah tidak mungkin mampu menegakkan negara Islam dan mengembalikan sistem ke-Khalifah-an.
g.      Menjelaskan tentang kesadaran seorang mad’u terhadap kepentingan sebuah jama’ah.[11]
4. Model Penerapan Dakwah Fardiyah di Kampus
            Dalam bagian ini, penulis menguraikan sebuah model penerapan dakwah fardiyah yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa ITB Bandung yang dikutip dari tulisan Ridwansyah Yusuf Achmad[12] selaku ketua LDK GAMAIS ITB Bandung. Menurut hemat penulis, model dakwah fardiyah yang diterapkan sesuai dengan teori komunikasi yang telah dijelaskan sebelumnya.
Dalam dakwah fardiyah yang diterapkan di LDK GAMAIS ITB Bandung mengikuti beberapa tahap yang dirangkup dalam istilah 5M, yaitu :
1.      Mengenali; Fase pertama dalam dakwah fardiyah adalah mengenali calon mad’u. Mengenal, tidak hanya sebatas nama dan nomor handphone, akan tetapi betul-betul mengenal secara mendalam. Dimulai dari mengetahui kebiasaannya, dimana tempat tinggalnya, lalu apa aktifitas kesehariannya, kesukaan dan ketidaksukaannya, dan lain sebagainya. Mengenali mad’u ini sangat penting, karena akan mempengaruhi metode pendekatan yang akan dilakukan. Dalam buku “Personality Plus”, ada 4 tipikal manusia, yakni, sanguinis, melankolis, korelis, dan plegmatis. Buku ini bisa menjadi sebuah pedoman sederhana dalam mendekati mad’u. Selain itu buku “Bagaimana Menyentuh Hati” karangan Abbas as-Syisi bisa digunakan sebagai pedoman fundamental dalam melakukan pendekatan personal.
2.      Mendekati; Pendekatan yang dilakukan terhadap objek dakwah juga harus berbeda, ada kalanya da’i juga harus menyesuaikan dengan bagaimana kedekatan atau seberapa kenal da’i dengan mad’u. Pada dasarnya da’i tidak perlu mengubah cara berkomunikasi atau bersikap kepada mad’u. Karena perubahan yang terjadi justru bisa kontraproduktif terhadap dakwah yang dilakukan. Jadilah diri sendiri, dan tentukan pola pendekatan yang paling tepat dengan tipikal diri sendiri. Seorang mad’u selalu memiliki kekhasan tersendiri. Seorang yang gemar membaca bisa didekati dengan membelikan atau meminjami mad’u dengan buku yang menurut da’i bisa mengubah paradigma mad’u tentang Islam. Seperti buku “Sirah Nabawiyah”, atau “al Islam” karangan Sayyid Qutb, atau mungkin buku umum seperti “the Secret”, “the World is Flat”, atau “Berpikir dan Berjiwa Besar”. Dengan pendekatan buku, seseorang bisa tergugah pemikirannya. Kadang kala da’i bisa bertemu dengan seorang mad’u yang gemar bertanya, bisa saja sesekali da’i mengajak mad’u untuk silahturahim ke tempat seorang ustadz untuk diskusi agama, atau menghadiri ta’lim dengan tema pentingnya pembinaan dan lain sebagainya. Seseorang yang keras kepala harus dipatahkan dan dicairkan dengan pemahaman dan penjelasan yang logis dan realistis dari da’i. Oleh karena itu, pemahaman Islam yang baik juga menjadi tuntutan seorang da’i. Lain halnya dengan tipikal mad’u yang melankolis-plegmatis, dimana pendekatan intrapersonal, rasa empatik, dan perhatian dari da’i bisa menjadi metode yang tepat. Berbagai metode lain bisa berkembang tergantung mad’u dan diri da’i sendiri. Tujuan dari tahapan pendekatan ini yakni membentuk kepercayaan antara diri da’i dan mad’u, mengikatkan dan mendekatkan hati, dan menumbuhkan perasaan ingin mempelajari Islam secara mendalam dan konsisten, atau dengan bahasa lain, menimbulkan keinginan untuk mengubah diri sendiri.
3.      Mengajak; Setelah mendapatkan kepercayaan dan kedekatan, tugas da’i adalah mengajak mad’u untuk mengikuti pembinaan Islam secara konsisten. Bagaimana cara dan waktu yang tepat, tergantung situasional yang ada. Bisa jadi perlu ada diskusi panjang hingga mad’u bersedia ikut pembinaan, atau ada yang tipikal langsung di “tembak”, ini tipikal pada mad’u yang sudah dekat secara personal kepada da’i, atau untuk mad’u yang agak sulit mengambil keputusan, bisa langsung diundang di agenda pembinaan yang ada. Proses pengajakan ini bukanlah akhir dari proses meskipun mad’u menolak untuk mengikuti pembinaan. Proses dakwah fardiyah harus tetap jalan. Jika da’i sudah merasa tidak ada prospektif di salah seorang mad’u, maka mengganti calon mad’u bisa menjadi pilihan yang tepat.
4.      Mendo’akan; “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah, Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan Dialah yang mempersatukan hati mereka. Walaupun kamu membelanjakan semua yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.(QS: al Anfaal ayat 62-63). Kekuatan do’alah yang bisa menyatukan hati-hati ini, karena sesungguhnya do’a seorang muslim kepada sesama muslim akan menjadi amal yang sangat bernilai. Kekuatan do’a ini pula yang akan membukakan hati da’i semua, memudahkan masuknya hidayah, dan menjauhi godaan syetan. Mendo’akan mad’u menjadi kewajiban bagi seorang da’i.
5.      Menjaga; Terkadang proses follow up dari hasil dakwah fardiyah yang dilakukan tidak selalu di-handle oleh da’i sendiri. Bisa jadi orang lain yang membina hasil dakwah fardiyah yang dilakukan da’i sebelumnya. Oleh karena itu da’i perlu tetap menjaga hubungan and never loose contact with him/her. Sesekali da’i coba tanya bagaimana pembinaan yang didapat, apa kesannya, atau bisa diajak diskusi sesekali. Beda halnya jika da’i yang membina langsung hasil dakwah fardiyah sebelumnya, proses penjagaan akan lebih mudah karena da’i akan bertemu lebih rutin.[13]
Melihat perkembangan dakwah fardiyah dengan syiar event yang semakin bersemarak dan berdana besar, dakwah fardiyah bisa menjadi media persiapan massa sebelum event atau media follow up setelah event. Media persiapan sebelum event, dakwah fardiyah bisa sebagai metode yang digunakan untuk mengajak peserta.
Dalam tahapan dakwah fardiyah, pengajakan mad’u ke agenda dakwah bisa mempercepat tahapan pendekatan, karena mad’u akan bisa merasakan nuansa Islam di dalam agenda yang diadakan. Dengan mengajak mad’u ke agenda dakwah, turut mendukung agenda tersebut dari sisi jumlah peserta. Media follow up setelah event, pada setiap event yang dilakukan oleh lembaga dakwah kampus, sebaiknya ada presensi atau buku tamu dari pengunjung atau peserta event.
Pendataan ini sangat penting, karena dengan data ini da’i bisa menghitung berapa massa simpatisan da’i yang berpotensi menjadi kader. Sehingga proses follow up akan lebih mudah. Salah satu metode follow up yang bisa digunakan, yakni dengan dakwah fardiyah. Seorang kader da’i yang dekat dengan peserta agenda dakwah, bisa mendekati mad’u, sehingga proses follow up simpatisan menjadi kader kian cepat.
Perkembangan agenda dakwah berbasis event seakan-akan menjadi keharusan pada sebuah lembaga dakwah kampus. Betul memang, ketika lembaga sudah formal, agenda yang masif harus dijalankan, karena massa juga semakin banyak. Akan tetapi, janganlah hal ini menjadi satu-satunya tipikal agenda merangkul massa. Jika ini terjadi, maka label LDK identik dengan event organizer menjadi layak disandangkan.
Sungguh sangat zalim bagi da’i para pemimpin lembaga dakwah kampus, jika mendidik kader hanya untuk menjadi ahli dalam organisasi, sebuah lembaga dakwah kampus adalah lembaga kaderisasi, maka mendidik kader untuk menjadi da’i dalam konteks mengajak objek dakwah ikut pembinaan dan membina dengan seksama agar objek dakwah bisa menjadi seorang yang memiliki kepribadian Islam. Sehingga, dengan internalisasi dan menjadikan dakwah fardiyah sebagai kebiasaan di antara kader, da’i akan menstimulus karakter kader da’i untuk memilki kepribadian da’i.
Prospek cerah sangat tampak dalam proyek ini karena ada efek yang sangat baik jika proyek ini bisa dijalankan secara konsisten untuk jangka waktu yang lama. Meng-gerilya-kan kader da’i untuk terus menerus “menjual” dan mempromosikan produk pembinaan da’i setiap saat.[14]
Mekanisme kerja dakwah fardiyah pada sebuah LDK berpusat pada dua departemen atau bidang, yakni bidang kaderisasi dan manajemen sumber daya anggota serta bidang koordinasi mentoring. Dua bidang ini harus sinergis satu sama lain.
Bidang ini akan berfungsi pada satu hal, yakni penjagaan dan pemantauan proses dakwah fardiyah dengan membuat sel-sel atau kelompok yang bertujuan untuk mengecek keberjalanan yang ada.
Sel-sel ini tidak ubahnya seperti usrah atau kelompok mentoring, bedanya kelompok ini tidak di isi dengan majelis ilmu, akan tetapi diisi oleh pengecekan keberjalanan dakwah fardiyah. Kelompok ini juga dipimpin oleh seorang naqib yang berasal dari seorang yang lebih tua dan diusahakan satu program studi atau fakultas, agar transfer ilmu dalam cara dakwah fardiyah bisa lebih tepat.
Pada pucuk tertinggi dari cabang pohon ini adalah para kader inti dari sebuah LDK. Pada kondisi lain, bisa saja fungsi pemantauan ini digabung dengan kelompok mentoring pembinaan atau usrah yang ada. Sebetulnya ini lebih efektif sehingga ketika ada objek dakwah baru yang bergabung akan lebih mudah memantau dan mem-follow up.
Sedangkan bidang koordinasi mentoring akan menyiapkan dua hal, yakni :
1.      Peralatan pendukung; yaitu sarana yang digunakan oleh kader da’i dalam mempromosikan mentoring. Sarana ini bisa berupa pamflet yang berisikan tentang segala sesuatu tentang pembinaan dan mentoring, slide powerpoint yang bisa digunakan di laptop untuk “menjual” mentoring. Sarana publikasi seperti poster atau leaflet yang bisa ditempel dan dibagikan, ini berguna dalam mencitrakan mentoring di lintasan pikiran objek dakwah. Merchandise pendukung, seperti kaos untuk mentor da’i dengan bertuliskan ”bukan mentor biasa” atau ”supermentor”, pin yang dibagikan ke semua kader dengan betuliskan kata-kata persuasif. Selain itu tim mentoring sedianya membuka stand pendaftaran mentoring di setiap event yang diadakan oleh lembaga dakwah kampus. Sehingga da’i bisa membuka dan menampung seluruh mahasiswa muslim setiap saat.
2.      Tabulasi jadwal mentor, da’i akan memakai sistem buka kelas pada permentoringan. Setiap mentor diminta menyediakan waktu setiap pekannya 1 sesi , dengan satu sesi selama 1,5 jam. Lalu jadwal semua mentor akan di gabung dan akan mengeluarkan tabulasi jadwal kelas mentoring. Semakin banyak mentor yang ada, akan membuat pilihan dari objek dakwah kian banyak. Dengan pilihan jadwal ini ada banyak keuntungan bagi proses dakwah fardiyah yang dilakukan, yakni.
i.        Membuat jadwal antara mentor dan binaannya sesuai, sehingga tidak perlu memakan waktu untuk menyamakan jadwal.
ii.      Memberi kesempatan objek dakwah untuk memilih mentor untuk membina dirinya.
iii.    Memberi kesempatan seorang objek dakwah untuk memilih teman satu kelompoknya.
Mekanisme input data ini bisa mudah dengan teknologi sms, seorang objek dakwah cukup sms ke service centre dengan mencantumkan identitas diri dan waktu mentoring yang diinginkan. Data yang dikirim via sms akan diteruskan ke sistem data mentoring dan ke mentor, sehingga maksimal satu pekan setelah seseorang mendaftar, mad’ui bisa langsung memulai proses pembinaan.[15]
Untuk memulai sesuatu memang butuh waktu , akan tetapi semakin cepat da’i memulai akan lebih baik. Karena semakin lama da’i menunda akan semakin banyak pula pertimbangan yang mungkin bisa membuat da’i tidak menjalankan sesuatu. Hal yang menjadi langkah awla dan bisa jadi cukup berat, adalah menimbulkan kesadaran atau habit dari kader dakwah da’i agar senantiasa mengajak sebanyak-banyaknya mahasiswa di kampus untuk mengikuti pembinaan. Adanya pertemuan kader terpusat bisa menjadi sebuah metode yang diharapkan bisa memberikan pemahaman dan semangat secara masif agar kader bisa bergerak dan menjalankan dakwah fardiyah.
Mungkin anda bertanya apakah saya sebagai penulis sudah pernah menjalankannya. Semester silam saya mencoba mempraktekkan secara mini konsep ini. Saya coba praktekkan konsep ini pada kelompok binaan saya di jurusan. Pada awalnya di bulan september, anggota kelompok hanya 8 orang saja. Akan tetapi setiap sms saya ke binaan untuk mengingatkan jadwal mentoring selalu saya beri tambahan “ajak yang lain yah ! , dan pada setiap mengisi ta’lim di jurusan saya selalu mengajak untuk ikut mentoring. Alhasil dengan usaha saya dan binaan saya, pada awal bulan desember ( seda’ir 3 bulan setelah pertemuan pertama ), jumlah anggota mentoring ini berjumlah 20 orang.
Da’i akan membangun sistem disini, dimana ada perangkat pendukung, tools untuk promosi, media pencitraan lintasan pikiran, pertemuan-pertemuan untuk sharing dan berbagi ilmu, sel-sel kecil untuk penjagaan dan pengecekkan, serta wadah mentoring yang siap menampung hasil dakwah fardiyah. Dengan pembangunan sistem, semua kader da’i dengan segala tipikal pribadi dan varian kompetensi akan bisa menjalankan amanah ini dengan baik.[16]

C. KESIMPULAN

Dakwah fardiyah adalah metode dakwah yang tidak pernah usang, yang telah diterapkan sejak masa Rasulullah SAW sampai saat sekarang. Dakwah fardiyahatau dakwah secara personal menjadi dakwah alternatif yang diterapkan oleh mahasiswa di perguruan tinggi di Indonesia. LDK GAMAIS ITB Bandung merupakan salah satu lembaga dakwah kampus yang menerapkan dakwah fardiyah
Keberhasilan penerapan dakwah fardiyah di LDK GAMAIS ITB Bandung tidak terlepas dari pemahaman terhadap prinsip komunikasi antarpribadi, karakteristik dan tahapan dakwah fardiyah yang telah dikembangkan oleh pakar komunikasi dan ulama-ulama pada bidangnya. Dan yang lebih penting adalah niat dan kegigihan para da’inya untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Makalah ini diharapkan dapat memberi pandangan dan motivasi bagi pelaku-pelaku dakwah Islamiyah khususnya mahasiswa dalam menerapkan dan menggiatkan dakwah fardiyah di lingkungannya. Semoga Allah Swt memberi kekuatan kepada kita semua, Amin !

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arbi, Armawati, Dakwah dan Komunikasi, (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2003)
Burgoon, Stern & Dillman, Interpersonal Adaptation: Dyadic Interaction Patterns, (Cambridge: Cambridge University Press, 1995)
Coupland & Giles, Introduction: The Communicative Contexts of Accommodation. Language and Communication, (Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, 1988)
http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (diakses pada tanggal 25 April 2008)
Mahmud, Ali Abdul Halim, Dakwah Fardiyah; Metode Membentuk Pribadi Muslim, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995)
Masyhur, Syaikh Mustafa, Tujuh Tahapan Dakwah Fardiyah, (Jakarta: al I’tisham Cahaya Umat, Cet. Ke-3, 2002)
Miller, Khaterine, Communication Theories: Perspectives, Processes and Contexts, (New York: McGraw-Hill, International Edition, 2005)
Nuh, Sayid Muhammad, Dakwah Fardiyah; Pendekatan Personal dalam Dakwah, (Solo: Era Intermedia, 2000)


                Penulis Adalah Dosen IAIN Mataram Dan Mahasiswa S3 UIN Jakarta.
[1] Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi, (Ciputat: UIN Jakarta Press, 2003), hal. 2
[2] Sayid Muhammad Nuh, Dakwah Fardiyah; Pendekatan Personal dalam Dakwah, (Solo: Era Intermedia, 2000), hal. 47
[3] Ali Abdul Halim Mahmud, Dakwah Fardiyah; Metode Membentuk Pribadi Muslim, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), hal. 29
[4] Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi……., hal. 130
[5]Khaterine Miller, Communication Theories: Perspectives, Processes and Contexts, (New York: McGraw-Hill, International Edition, 2005), hal. 145
[6] Coupland & Giles, Introduction: The Communicative Contexts of Accommodation. Language and Communication, (1988), hal 178 Dalam Khaterine Miller, Communication Theories: Perspectives, Processes and Contexts, (New York: McGraw-Hill, International Edition, 2005), hal. 154
[7] Burgoon, Stern & Dillman, Interpersonal Adaptation: Dyadic Interaction Patterns, (1995), hal 265-279 Dalam Khaterine Miller, Communication Theories: Perspectives, Processes and Contexts, (New York: McGraw-Hill, International Edition, 2005), hal. 163
[8] Lembaga Dakwah Kampus merupakan wadah bagi mahasiswa Muslim untuk saling berbagi pengalaman, bertukar pikiran tentang keagamaan dan bekerjasama dalam menggiatkan syiar agama Islam kapan dan dimana saja. Dalam konsep dasarnya, kegiatannya diawali dengan interaksi antar individu atau dakwah fardiyah kemudian mengarah kepada dakwah jama’iyah.
[9] Sayid Muhammad Nuh, Dakwah Fardiyah……., hal. 47
[10]Armawati Arbi, Dakwah dan Komunikasi……., hal. 117-121
[11] Syaikh Mustafa Masyhur, Tujuh Tahapan Dakwah Fardiyah, (Jakarta: al I’tisham Cahaya Umat, Cet. Ke-3, 2002), hal. 17-302
[12] http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (diakses pada tanggal 25 April 2008)
[13] http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (diakses pada tanggal 25 April 2008)
[14] http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (diakses pada tanggal 25 April 2008)
[15] http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (diakses pada tanggal 25 April 2008)
[16] http://ridwansyahyusuf.blogspot.com, (diakses pada tanggal 25 April 2008)

Share this post