MEMBANGUN UMMAT MELALUI PEMBINAAN KARAKTER


 Oleh:
FAHRURROZI BIN DAHLAN
ABSTRAK 
Pengembangan dan pendidikan karakter kembali menemukan momentumnya belakangan ini, bahkan menjadi salah satu program prioritas Kementerian Pendidikan Nasional (kini Kemendikbud). Meski sebenarnya dalam beberapa tahun terakhir, telah banyak perbincangan baik melalui konperensi, seminar dan pembicaraan publik lainnya, belum banyak terobosan kongkrit dalam memajukan pendidikan karakter. Dengan kebijakan Kemendikbudnas, pendidikan karakter sudah saatnya dapat terlaksana secara kongkrit melalui lembaga-lembaga pendidikan dan masyarakat luas.Segera jelas, pendidikan karakter terkait dengan bidang-bidang lain, khususnya budaya, pendidikan, dan agama. Ketiga-tiga bidang kehidupan terakhir ini berhubungan erat dengan nilai-nilai yang sangat penting bagi manusia dalam berbagai aspek kehidupannya.Tetapi, ketiga sumber nilai yang penting bagi kehidupan itu dalam waktu-waktu tertentu dapat tidak fungsional sepenuhnya dalam terbentuknya individu dan masyarakat yang berkarakter, berkeadaban, dan berharkat. Budaya, pendidikan dan bahkan agama boleh jadi mengalami disorientasi karena terjadinya perubahan-perubahan cepat berdampak luas, misalnya, industrialisasi, urbanisasi, modernisasi dan terakhir sekali globalisasi. Pembangunan karakter juga bisa membentuk pribadi-pribadi yang pandai bergaul denga orang lain atau bersosialisai dengan baik dimanapun dia berada dan dengan siapapun dia hidup, sebab dengan pendidikan karakter yang baik akan lahir dari yang berssangkutan sifat-sifat terpuji,karena sudah berkarakter pada dirinya menjadi sebuah karakteristik.     

A. PROLOG
Budaya atau kebudayaan umumnya mencakup nilai-nilai luhur yang secara tradisional menjadi panutan bagi masyarakat. Pendidikan—selain mencakup proses transfer dan transmissi ilmu pengetahuan—juga merupakan proses sangat strategis dalam menanamkan nilai dalam rangka pembudayaan anak manusia. Sementara itu, agama juga mengandung ajaran tentang berbagai nilai luhur dan mulia bagi manusia untuk mencapai harkat kemanusiaan dan kebudayaannya.[1]
Namun lain lagi apa yang dipaparkan dalam sebuah situs internet yang bersumber dari data Litbang kompas mengatakan: karakter bukanlah kepribadian, setiap orang memilki kepribadian yang berbeda- beda, sebab kepribadian itu ada empat yaitu koleris, sanguinis, plegmatis dan melankolis dari empat kepribadian ini memilki kelemahan dan kelebihan yang sangt berbeda-beda. Misalnya tife koleris identik dengan berbicara kasar dan terkadang tidak perduli, sulit diajak serius, plegmatis  tife ini seringkali di ajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi ‘iya’ di mulut tapi “tidak” di hati, serta cendrong perpektionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadangmembuat orang laincukup kerepotan.[2]
Di bagian lain juga menyebutkan bahwa manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, sebab kepribadian itu merupakan pemberian Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan ada pula aspek kelebihannya dalam aspek kehidupan sosial.
Persoalan pendidikan di Indonesia banyak tokoh-tokoh pendidikan juga mengomentari serta meneliti apanya yang salah dalam pendidikan  di Indonesia apakah kurikulumnya atau para pelaku pendidikan, atau para pendidiknya sudah jauh dari apa yang diajarkan itu hanya menekankan persoalan kognitif sehingga para pendidik apabila sudah menyampaikan materi pelajaran tidak dipersoalkan apakah pada materi itu sudah diselipkan materi karakter atau kurikulum yang sudah ada unsur karakternya. 
Pengetahuan manusia kini telah berkembang meliputi segala aspek kehidupan  termasuk di dalamnya pendidikan.  Pendidikan  adalah proses interaksi transformasi ilmu dan internalisasi nilai-nilai antara guru dan murid.[3]Pendidikan merupakan media bagi terjadinya transformasi nilai dan ilmu  untuk membekali manusia dalam membentuk corak kebudayaan dan peradabannya. Dengan pengembangan dan pembinaan seluruh  potensi yang ada pada diri  manusia itu,  pendidikan diharapkan dapat  mengantarkan manusia pada suatu pencapaian tingkat kebudayaan yang menjunjung hakikat kemanusiaan manusia sesuai dengan pesan dasar agama Islam. Persoalannya sekarang adalah banyak orang berpengetahuan perilakunya tidak mencerminkan apa yang sudah dipahaminya. Di sisi lain juga di era sekarang ini masih banyak orang yang beramal tanpa didasari dengan pengetahuan.
Sejalan dengan itu, Amin Abdullah menyatakan bahwa kurikulum dan kegiatan pendidikan, khususnya pendidikan  Islam yang selama ini berlangsung di sekolah hanya sebatas hal yang antara lain sebagai berikut: a)Pendidikan Islam lebih banyak terkonsentrasi pada persoalan –persoalan teoritis keagamaan yang bersifat kognitif semata-mata serta amalan ibadah praktis. b) Pendidikan Islam kurang  concern”   terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama  yang kognitif   menjadi  “makna” dan “nilai”  yang perlu diinternalisasikan  dalam diri siswa lewat berbagai cara, media dan forum. c) Pendidikan agama lebih menitik beratkan pada aspek korespondensi-tekstual yang lebih menekankan aspek hafalan teks-teks keagamaan yang sudah ada. d) Sistem evaluasi, bentuk-bentuk soal ujian agama Islam menunjukkan prioritas  utama pada aspek kognitif, dan jarang pertanyaan tersebut mempunyai bobot muatan “nilai” dan “makna” spiritual keagamaan yang fungsional dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Sementara itu Komaruddin Hidayat menyoroti orientasi kurikulum dan materi pendidikan Islam yang selama ini berjalan di sekolah dianggap kurang tepat. Untuk membuktikan kekurangtepatan kurikulum dan materi pendidikan Islam tersebut, dapat dilihat dari  tiga indikator sebagai berikut:  a) Kurikulum lebih berorientasi pada belajar  tentang agama, sehingga outputnya banyak orang yang mengetahui nilai-nilai ajaran Islam tetapi perilakunya tidak relevan dengan nilai-nilai yang diketahuinya. b) Tidak tertibnya penyusunan dan pemilihan materi-materi  pendidikan Islam, sehingga sering ditemukan hal-hal  prinsip yang lebih awal tetapi terlewatkan. Kurikulum pendidikan Islam lebih berorientasi pada disiplin ilmu fiqih sehingga dianggap seolah–olah sebagai agama itu sendiri, bahkan masyarakat menilai beragama yang benar adalah identik dengan bermadzhab fiqih yang benar dan diakui oleh mayoritas, dan apabila berbeda sedikit dianggap dan dituduh sebagai aliran sesat dan menyimpang. c) Kurangnya penjelasan yang luas, dan mendalam, dan kurangnya penguasaan semantik dan generik atau istilah-istilah kunci dan pokok dalam ajaran Islam, yang menyebabkan penjelasan yang sangat jauh dan berbeda dari makna, spirit, dan konteksnya.[5]
Orientasi semacam itu, kata Komaruddin Hidayat, menyebabkan terjadinya keterpisahan dan kesenjangan antara ajaran Islam dengan realitas prilaku pemeluknya. Yang jauh dari roh pengetahuannya.  Oleh karena itu, Komaruddin Hidayat memberikan dua solusi pendekatan dalam mempelajari Islam yaitu: 1. Mempelajari Islam untuk kepentingan dalam mengetahui bagaimana cara beragama yang benar, dan 2. Mempelajari Islam sebagai sebuah pengetahuan. Dengan kata lain mempelajari ajaran Islam untuk membentuk karakter beragama.[6]
Selama Indonesia merdeka telah memiliki enam Undang-Undang pendidikan nasional yaitu Undang-Undang tahun 1947, Undang-Undang tahun 1950, Undang-Undang tahun 1954, Tap MPRS tahun 1967, Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 dan yang terahir adalah Undang-Undang nomor 20 tahun 2003. Keseluruhan dari Undang-Undang tersebut tidak pernah pembinaan keimanan dan ketaqwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dijadikan fokus tujuan pendidikan nasional. Ini tidak sesuai dengan Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi keseluruhan dari  Undang-Undang itu tidak ada yang sesuai dengan Pancasila, inilah masalah utama pendidikan Kita. Maka bagaimana mungkin kita bisa mencetak masyarakat Indonesia yang berkarakter jika substansinya pendidikannya tidak mencerminkan pendidikan karakter.[7]
Lain lagi apa yang dikatakan oleh Patabai, Bangsa Indonesia sekarang ini sudah dililit oleh berbagai macam persoalan seperti perilaku koropsi, mental yang selalu menghalalkan berbagai macam cara untuk mendapatkan tujuannya, pembunuhan, penipuan yang kesemuanya itu adalah cenderong mengabaikan nilai-nilai agama dan moral dan tidak lagi mencerminkan karakter bangsa  maka dengan melihat pakta sekarang ini dituntut seluruh pihak untuk bersama-sama mensosialisasikan akan pentingnya  pendidikan karakter, sebab pendidikan karakter itu adalah pendidikan nilai, budi pekerti, moral dan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik- buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari, dengan sepenuh hati. Karakter ini akan memancar dari hasil olah piker, olah hati, olah raga, serta olah rasa dan karsa seseorang atau sekelompok orang.[8]
Nurnaningsih dan Kartini lebih banyak mengungkap fakta-fakta potret buram pendidikan karena mengabaikan pendidikan karakter. Persoalan karakter ini tanpa dari etika di jalan raya, pelecehan seksual, kekerasan dan penganiyayaan, pemalakan, perusakan sarana umum, sekolah,kampus, perkelahian massa, tauran antara siswa dan antara mahasiswa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, korupsi bagi aparat dan penegak hokum, kehidupan politik yang tidak produktif dan kondusif. Menurutnya saat ini sangat penting untuk membangun generasi yang jujur, cerdas, tangguh, dan peduli melalui pendidikan karakter.[9]
Kurikulum madrasah sekarang ini memang sangat memungkinkan para siswanya mendapatkan ilmu pengetahuan agama serta pemahaman dan penghayatan Islam yang memadai untuk mempersiapkan kehidupan di masa depan.[10]Namun selama ini mata pelajaran itu dalam konsep serta praktek penyampaiannya berjalan sendiri-sendiri, terpisahkan antara yang satu dengan yang lain karena terpengaruh dikotomisme sehingga tidak terintegrasi antara ilmu-ilmu itu dengan prilaku sehari-hari.
Krisis etika moral merupakan salah satu akibat kurang efektifnya proses sosialisasi atau internalisasi sikap-sikap dan nilai-nilai agama dalam proses pembelajaran.[11]Di sini nilai-nilai agama yang didasarkan pada ayat-ayat  qauliyah(al-Qur’an dan sunnah Rasul) atau ayat-ayat  kauniyah (sunnatullah yang ada di semesta alam) sebagai materi pendidikan untuk membentuk kreatif  murid memiliki arti penting dalam proses pendidikan dan acuan utama sebagai renugan pada ciptaan khaliqnya, dengan demikian akan melahirkan kesadaran pada anak didik akan kekurangan pada dirinya akhirnya menjadi tawaddu’
            Pendidikan dengan paradigma sekuler yang salah satunya adalah materialistik, terbukti telah gagal melahirkan manusia yang berkarakter yang sekaligus menguasai iptek.[12]Misalnya di Indonesia, secara formal kelembagaan, sekulerisasi kelembagaan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen yang berbeda, yakni Kantor Kementerian Agama  danKementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tidak tersentuh oleh standar nilai agama. Pendidikan materialistik memberikan kepada siswa suatu basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non-materi. Bahwa hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanam oleh orang tua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan atau  apapun yang setara dengan nilai material, tanpa mengkaitkan bahwa hasil itu adalah atas kekuasaan dan kehendak Tuhan.
            Menurut Hasan Sho’ub, sosok bangunan yang tampak rapuh tanpa jiwa Islam juga ada dalam potret masyarakat modern yang dekaden. Budaya moderen –terlepas dari senang atau tidak senang- merupakan refleksi dari hubungan inspiratif dengan pasar bebas, yang didasarkan pada golongan tertentu yang destruksionis. Perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan termasuk dalam hak social dan hak pendidikan, baik yang berjalan melalui paksaan maupun sukarela, telah menggeser pranata Islam.[13]
Dinamika kehidupan dalam suasana global dewasa ini, berhadapan dengan berbagai gejolak dan kejutan yang memerlukan antisipasi perubahan yang terjadi terutama untuk mempersiapkan sumber daya manusia masa depan yang berkualitas.[14]
Dalam perspektif global, yang ditandai dengan mengecilnya dunia sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah terjadi fenomena perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam era pasar bebas, kemampuan bersaing, perkembangan pengetahuan dan teknologi dan penguasaannya, menjadi semakin penting untuk kemajuan suatu bangsa, termasuk bangsa Indonesia. Sebab dalam era globalisasi, sumber daya alam yang terkuras dan semakin tipis, tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber untuk menyejahterakan masyarakat. Sumber kesejahteraan masyarakat telah bergeser dari modal fisik seperti kekayaan alam ke modal intelektual, yaitu pengetahuan, kemampuan (kompetensi) dan kepribadian. Dalam kehidupan global, kehidupan yang penuh persaingan tidak bisa dihindari. Berbagai macam tantangan muncul ke permukaan. Apa yang dulu tidak pernah terbayangkan sekarang menjadi kenyataan. Dapat dipastikan, hanya individu yang mampu bersaing yang dapat menyesuaikan diri dan eksis dalam era globalisasi. Untuk mampu bersaing, setiap individu memerlukan kompetensi yang handal dalam berbagai bidang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan masing-masing.[15]
 Perumusan tentang konsep dasar dan tujuan dalam pendidikan ditentukan falsafah hidup yang melandasi pola pikir, atau sudut pandang perumusnya. Sudut pandang manusia tertentu besar kemungkinan berbeda dengan sudut pandang yang lain, artinya system pendidikan orde lama jelas harus berbeda dengan system pendidikan orde baru dan era reformasi.
Dari beberapa problem di dunia pendidikan khususnya di Indonesia penulis menawarkan solusi terbaik untuk keluar dari lilitan prilaku yang jauh dari nilai karakter tersebut adalah konsep pendidikan karakter yang dihajatkan untuk dijadikan rujukan dalam mengambil konsep pendidikan karakter di Sekolah maupun di Madrasah yang bernaung di bawah binaan kementerian pendidikan dan kementerian Agama Republik Indonesia dewasa ini.
B.  Pengertian Pendidikan Karakter
            Al-Attas melihat bahwa adab merupakan salah satu misi utama yang dibawa Rasulullah yang bersinggungan dengan umatnya. Dengan menggunakan term adab tersebut, berarti menghidupkan Sunnah Rasul. Konseptualisasinya adalah sebagaimana sabdanya: “Tuhanku telah mendidikku (addaba), dengan demikian membuat pendidikanku (ta’dib) yang paling baik (HR. Ibn Hibban).
            Sesuai dengan ungkapan hadits di atas, bahwa pendidikan merupakan pilar utama untuk menanamkan adab pada diri manusia, agar berhasil dalam hidupnya, baik di dunia ini maupun di akhirat kemudian. Karena itu, pendidikan Islam dimaksudkan sebagai sebuah wahana penting untuk penanaman ilmu pengetahuan yang memiliki kegunaan pragmatis dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, menurut al-Attas antara ilmu, amal, dan adab merupakan satu kesatuan (entitas) yang utuh. Kecenderungan memilih term ini, bagi al-Attas bahwa pendidikan tidak hanya berbicara yang teoritis, melainkan memiliki relevansi secara langsung dengan aktivitas di mana manusia hidup. Jadi, antara ilmu dan amal harus berjalan seiring dan seirama.[16]
     Secara ideal, al-Attas menghendaki pendidikan Islam mampu mencetak manusia yang baik secara universal (al-insan al-kamil). Suatu tujuan yang mengarah pada dua demensi sekaligus yakni, sebagai Abdullah (hamba Allah), dan sebagai Khalifah fi al-Ardl (wakil Allah di muka bumi). Karena itu, sistem pendidikan Islam harus merefleksikan ilmu pengetahuan dan perilaku Rasulullah, serta berkewajiban mewujudkan umat Muslim yang menampilkan kualitas keteladanan Nabi SAW.
            Dengan harapan yang tinggi, al-Attas menginginkan agar pendidikan Islam dapat mencetak manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universalis dalam wawasan dan ilmu pengetahuan dengan bercermin kepada ketauladanan Nabi Saw. Pandangan al-Attas tentang masyarakat yang baik, sesungguhnya tidak terlepas dari individu-individu yang baik. Jadi, salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat yang baik, berarti tugas pendidikan harus membentuk kepribadian masing-masing individu secara baik. Karena masyarakat kumpulan dari individu-individu.
            Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (kognitif), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona, tanpa ketiga aspek ini, pendidikan karakter tidak akan efektif. Jadi, yang diperlukan dalam pendidikan karakter tidak cukup dengan pengetahuan lantas melakukan tindakan sesuai dengan pengetahuannya saja. Hal ini karena pendidikan karakter terkait erat dengan nilai dan norma. Oleh karena itu, harus juga melibatkan aspek perasaan.[17]
Istilah pendidikan karakter oleh para ahli seringkali disepadankan dengan istilah pendidikan moral atau pendidikan akhlak. Pendidikan moral (moral education) dalam dua dekade terakhir secara umum digunakan untuk menjelaskan penyidikan isu-isu etika di ruang kelas dan sekolah. Pengajaran etika dalam pendidikan moral bertujuan mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan manusia. Sedangkan pendidikan akhlak sebagaimana diungkapkan oleh Miskawaih seprti dikutip oleh Abudin Nata, merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang. Dalam pendidikan akhlak ini, kriteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk kepada Al-Quran dan al-Sunnah.[18]
            Istilah pendidikan karakter sendiri, sejak lama menjadi perdebatan para ahli. Thomas Lickona orang yang pertama kali menggunakan terminologi pendidikan karakter dalam bukunya The Return of Character Education, menyatakan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah keharusan, manakala mengharapkan pendidikan sebagai panglima perubahan.[19]
Kata karakter sudah sering disebutkan dan dipahami arti harfiahnya oleh orang banyak, namun pada kenyataannya masih banyak di antara kita yang mengabaikannya (neglect). Karakter itu perlu dengan sengaja dibangun, dibentuk, ditempa, dikembangkan serta dimantapkan. Kita tahu bahwa dalam membangun karakter sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, baik lingkungan kecil di rumah, di masyarakat, dan selanjutnya meluas di kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan di kehidupan global.[20]
Dilihat dari sudut pengertian, ternyata pendidikan moral, pendidikan akhlak, maupun pendidikan karakter tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Keduanya didefinisikan sebagai tindakan yang terjadi tanpa ada lagi pemikiran karena sudah tertanam dalam pikiran, dan dengan kata lain keduanya dapat disebut kebiasaan.
Menurut Thomas Lickona seorang pemikir pendidikan karakter kontemporer menyatakan bahwa pendidikan karakter dan pendidikan agama semestinya dipisahkan dan tidak dicampuradukkan.[21]
Menurut Foerster ada empat ciri mendasar dalam pendidikan karakter, yaitu: pertama, keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan situasi  hirarki nilai. Nilai menjadi pedoman normatif setiap tindakan. Kedua, koherensi yang memberi keberanian membuat seorang teguh pada prinsip dan tidak mudah terombang-ambing pada situasi baru atau resiko. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain. Tidak adanya koherensi dapat meruntuhkan kredibelitas seseorang. Ketiga, otonomi, di mana seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi. Ini dapat terlihat lewat penilaian atas putusan pribadi tanpa terpengaruh desakan pihak lain. Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik; dan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.[22]
Karakter tidak dapat dikembangkan secara tepat dan instans, tetapi harus melalui proses yang panjang, cermat, dan sistematis. Berdasarkan perspektif yang berkembang dalam sejarah pemikiran manusia, pendidikan karekter harus dilakukan berdasarkan tahap-tahap perkembangan anak sejak dini sampai dewasa.
Pendidikan karakter saat ini bak primadona. Dimana-mana dibicarakan mulai dari seminar hingga workshop. Bahkan sampai-sampai dikatakan bahwa faktor keberhasilan dunia pendidikan terletak pada pembentukan karakter ini.Lantas apa sesungguhnya pendidikan karakter itu? Sebelum berbicara mengenai pendidikan karakter, terlebih dahulu akan dilihat definisi masing-masing kata[23].
            C. Pengertian Karakter, Budi pekerti, Moral, Akhlak, dan Kepribadian
Ada sejumlah istilah yang dapat membuat bingung: karakter, budi pekerti, akhlak, afeksi, dan moral. Apakah istilah-istilah ini memiliki persamaan atau perbedaan, atau keduanya, artinya ada persamaannya sekaligus juga ada perbedaannya? Istilah-istilah ini  akan kita kaji dari segi bahasa harian dengan merujuk pada kamus umum. Setelah pengkajian bahasa harian ini, kita akan coba menyelami substansi dari masing-masing istilah tersebut.
a. Karakter
Studi tentang karakter telah lama menjadi pokok perhatian para psikolog, pedagog, dan pendidik. Apa yang disebut karakter bisa dipahami secara berbeda-beda oleh para pemikir sesuai penekanan dan pendekatan mereka masing-masing. Oleh karena itu, memang tidak mudahlah menentukan secara definitif apa yang dimaksud dengan karakter.
Secara etimologi, akar kata karakter dapat dilacak dari bahasa Inggris: character; Yunani: character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. [24]
M. Furqon Hidayatullah mengutip dari Rutland yang mengemukakan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa Latin yang berarti “dipahat”. Sebuah kehidupan, seperti sebuah blok granit dengan hati-hati dipahat atau pun dipukul secara sembarangan yang pada akhirnya akan menjadi sebuah mahakarya atau puing-puing yang rusak. Karakter, gabungan dari kebajikan dan nilai-nilai yang dipahat di dalam batu hidup tersebut, akan menyatakan nilai yang sebenarnya.[25]
Doni Koesoema memahami bahwa istilah karakter, berasal dari bahasa Yunani “karasso“, berarti cetak biru, format dasar. Ia melihat ada dua makna interpretasi dari karakter, yaitu pertama, sebagai kumpulan kondisi yang telah diberikan begitu saja, atau telah ada begitu saja, yang lebih kurang dipaksakan dalam diri kita. Karakter yang demikian dianggap sebagai sesuatu yang telah ada dari sononya (given). Kedua, karakter juga bisa dipahami sebagai tingkat kekuatan melalui mana seseorang individu mampu menguasai kondisi tersebut. Karakter yang demikian ini disebutnya sebagai sebuah proses yang dikehendaki (wiled).[26]9
Kata “karakter” belum muncul dalam paparan di atas. Karakter adalah istilah serapan dari bahasa Inggris character. Encarta Dictionaries menyatakan bahwa “karakter” adalah kata benda yang memiliki arti: (1) kualitas-kualitas pembeda; (2) kualitas-kualitas positif; (3) reputasi; (4) seseorang dalam buku atau film; (5) orang yang luar biasa; (6) individu dalam kaitannya dengan kepribadian, tingkah laku, atau tampilan; (7) huruf atau simbol; dan (8) unit data komputer. Arti pada nomor (7) dan (8) ini tidak relevan dengan kajian pendidikan karakter. Di samping itu terdapat kata karakteristik (characteristic) yang masih juga kata benda yang artinya: fitur (ciri) pembatas (defining feature), sebuah fitur atau kualitas yang membuat seseorang atau suatu hal dapat dikenali. Kata sifat untuk karakter adalah “khas” (typical), artinya pembeda atau mewakili seseorang atau hal tertentu.[27]
Tentang “karakter” dan “karakteristik” ini dapat disimpulkan melalui kalimat berikut: “Ia memiliki karakter heroik” dan “Karakteristiknya yang heroik telah membuatnya memiliki nasib yang menyedihkan tersebut.” Karakter, berdasarkan kajian kamus umum di atas, merujuk pada beberapa hal berikut. Pertama, karakter dikenakan pada orang atau bukan orang. Dalam wacana pendidikan karakter, kata ini terutama berkenaan dengan orang. Kedua, ia berkenaan dengan kualitas (bukan kuantitas) dan reputasi orang. Ketiga, ia berkenaan dengan daya pembeda atau pembatas, membedakan atau membatasi yang satu dari yang lainnya, membedakan orang/masyarakat yang satu dengan orang/masyarakat yang lainnya. Keempat, karakter dapat merujuk pada kualitas negatif atau positif orang dengan karakter mulia atau orang berkarakter flamboyan. Keempat hal tentang karakter dari kamus umum tersebut relevan dengan kajian kita tentang karakter dalam pendidikan karakter. CP. Chaplin mendefinisikan karakter sebagai suatu kualitas atau sifat yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seseorang pribadi, suatu objek atau kejadian, sinonim dengan karakteristik, sifat yang khas.[28]Dari pendapat di atas dipahami bahwa karakter adalah sebuah kata yang merujuk pada kualitas orang dengan karakteristik tertentu. itu berkaitan dengan kekuatan moral yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, yang menjadi ciri untuk identitas seseorang pribadi, karena ia sudah dipahat dalam pribadi tersebut.
b. Budi Pekerti
Budi pekerti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diletakkan dalam masukan “budi”, artinya: (1) alat batin yang merupakan panduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk; (2) tabiat, akhlak, watak; (3) perbuatan baik, kebaikan; (4) daya upaya, ikhtiar; (5) akal (dalam arti kecerdikan menipu atau tipu daya). Dan budi pekerti diartikannya sebagai tingkah laku, perangai, akhlak, watak. Dalam kamus umum ini kita menemukan bahwa budi pekerti sama dengan akhlak, watak, tabiat, perbuatan baik, kebaikan. Sinonimnya perlu kita tambahi dengan kata “susila”.[29]Perlu dicatat di sini bahwa arti pada nomor (5) jarang digunakan orang dewasa: tidak pernah orang yang berbudi pekerti dikaitkan dengan kelakuan cerdik menipu.
c. Moral
Moral, masih dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, didefinisikan sebagai: (1) (ajaran tentang) baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; (2) kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dan sebagainya; (3) ajaran kesusilaan yang dapat ditarik dari suatu cerita.[30]Definisi moral ini menyatakan bahwa moral adalah ajaran tentang  moral. Definisinya pada nomor (2) menurut penulis menyatakan sebuah kondisi mental yang sudah menyerap suatu ajaran moral.
d.  Akhlak
Istilah akhlaq sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, yaitu akhlak. Kata akhlak dalam bahasa Indonesia berarti budi pekerti; kelakuan. Kata “akhlaq” merupakan bentuk jamak dari kata “khuluq” atau “khilq” yang berarti perangai (as-sajiyah), kelakuan atau watak dasar (al thabi’ah), kebiasaan (al-‘adah), peradaban yang baik (almuruah), dan agama (al-din).[31]
Selanjutnya definisi akhlak. Kata Akhlak berasal dari bahasa Arab, jamak dari khuluqun yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat.[32]Tabiat atau watak dilahirkan karena hasil perbuatan yang diulangulang sehingga menjadi biasa. Perkataan ahklak sering disebut kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia; moral, ethnic dalam bahasa Inggris, dan ethos, ethios dalam bahasa Yunani. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliq yang berarti pencipta; demikian pula dengan makhluqun yang berarti yang diciptakan.
Adapaun definisi akhlak menurut istilah ialah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu.
Di dalam kamus a Dictionary of Modern written Arabic, kata khuluq diartikan dengan nature, temper, disposition, character of person.[33]
Menurut Ali Abdul Halim Mahmud, Al-Khuluq menunjukkan suatu sikap jiwa yang melahirkan tindakan-tindakan lahir dengan mudah tanpa melalui proses berpikir dan pertimbangan teliti. Jika melahirkan tindakan terpuji menurut penilaian akal dan syara’ maka sikap ini disebut moral yang baik (khuluq al-hasan) dan jika yang dilahirkan adalah tindakan tercela, maka sikap ini disebut moral yang jelek (khuluq al-sayyi’ah).[34]
Pendidikan akhlak merupakan faktor yang sangat penting dalam membangu sebuah rumah tangga yang sakinah. Suatu keluarga yang tidak dibangun dengan tonggak akhlak mulia tidak akan dapat hidup bahagia sekalipun kekayaan materialnya melimpah ruah. Sebaliknya terkadang suatu keluarga yang serba kekurangan dalam masalah ekonominya, dapat bahagia berkat pembinaan akhlak keluarganya. .Pendidikan akhlak di dalam keluarga dilaksanakan dengan contoh dan teladan dari orang tua dalam hubungan dan pergaulan antara ibu dan bapak, perlakuan orang tua terhadap anak-anak mereka, dan perlakuan orang tua terhadap orang lain di dalam lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat, akan menjadi teladan bagi anak-anak.[35].
e. Kepribadian
Kata kepribadian berasal dari kata Personality (bhs. Inggris) yang berasal dari kata Persona (bhs. Latin) yang berarti kedok atau topeng, yakni alat untuk menyembunyikan identitas diri. Bagi bangsa Romawipersona berarti “bagaimana seseorang tampak pada orang lain”, jadi bukan diri yang sebenarnya. Adapun pribadi yang merupakan terjemahan dari bahasa Inggris person, atau persona dalam bahasa  Latin yang berarti manusia sebagai perseorangan, diri manusia atau diri orang sendiri.[36]
Secara filosofis dapat dikatakan bahwa pribadi adalah “aku yang sejati” dan kepribadian merupakan “penampakan sang aku” dalam bentuk perilaku tertentu. Di sini muncul gagasan umum bahwa kepribadian adalah kesan yang diberikan seseorang kepada orang lain yang diperoleh dari apa yang dipikir, dirasakan, dan diperbuat yang terungkap melalui perilaku.[37]
Dengan demikian kepribadian atau personality merupakan salah satu bentuk dari sifat manusia yang bisa berubah-ubah. Orang tersebut bisa menggunakannya dimana pun dia berada. Jadi, bisa menutupi jati diri yang sebenarnya dari semua orang. Contohnya saja si A berada di lingkungan preman maka si A akan punya atau menggunakan kepribadian sebagai preman. Dan kalau berada di lingkungan masjid maka akan merubah kepribadiannya sebagai orang alim.  
Menurut Ali Abdul Halim Mahmud, pada batas tertentu, antara konsep karakter (khuluq) di atas dengan konsep kepribadian (shakhsiyah) ada kesamaan. Perbedaan prinsipil antara keduanya adalah: Moral lebih berorientasi kehendak dan pembentukan nilai-nilai. Sedangkan kepribadian difokuskan terutama pada aspek perilaku sosial.[38]
Dalam hal ini Dharma Kesuma memperjelas hal ini dengan mengutip pendapat Hurlock yang menyatakan dalam buku Pendidikan Karakter:Karakter terdapat pada kepribadian. Karakter mengimplikasikan sebuah standar moral dan melibatkan sebuah pertimbangan nilai. Karakter berkaitan dengan tingkah laku yang diatur oleh upaya dan keinginan. Hati nurani, sebuah unsur esensial dari karakter, adalah sebuah pola kebiasaan perlarangan yang mengontrol tingkah laku seseorang, membuatnya menjadi selaras dengan pola-pola kelompok yang diterima secara sosial[39].
Dengan definisi karakter dari Hurlock, untuk sementara ini, bersifat cukup bagi kita untuk memulai menganalisis secara lebih jauh apa itu karakter dan implikasi-implikasinya.
D. Dasar-dasar Pembangunan dan Pendidikan Karakter dalam Islam
Kata karakter adalah kata yang populer akhir-akhi ini. Sebelumnya sudah dikenalistilah seperti moral, etika, nilai, dan akhlak. Kata character dalam bahasa Inggris  memiliki padanan kata Akhlaq dalam bahasa Arab. Karena itu, kata karakter dan akhlak secara lughawi (makna bahasa) memiliki makna yang sama. Dalam bahasa Arab kata akhlaq, yang merupakan kata jamak dari khuluq, memiliki arti tabiat, budi pekerti, kebiasaan, kesatriaan, kejantanan, dll.[40]
  Kata akhlaq banyak ditemukan dalam hadis Nabi Muhammad saw. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad). Sedangkan dalam al-Quran hanya ditemukan bentuk tunggal dari kata akhlaq, yaitu khuluq. Allah menegaskan, “Dansesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. al-Qalam [68]: 4).
Kata yang setara maknanya dengan akhlak adalah moral dan etika. Kata-kata ini sering disejajarkan dengan budi pekerti, tata susila, tata krama, atau sopan santun.[41]Secara konseptual kata etika dan moral mempunyai pengertian serupa, yakni sama-sama membicarakan perbuatan dan perilaku manusia ditinjau dari sudut pandang nilai baik dan buruk. Akan tetapi dalam aplikasinya etika lebih bersifat teoritis filosofis sebagai acuan untuk mengkaji sistem nilai, sedang moral bersifat praktis sebagai tolok ukur untuk menilai perbuatan yang dilakukan oleh seseorang[42]
Kata karakter (Inggris: character) secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu charassein yang berarti “to engrave”. Kata “to engrave” bisa diterjemahkan mengukir, melukis, memahatkan, atau menggoreskan[43]. Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata “karakter” diartikan dengan tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain, dan watak. Karakter juga bisa berarti huruf, angka, ruang, simbul khusus yang dapat dimunculkan pada layar dengan papan ketik. Orang berkarakter berarti orang yang berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, atau berwatak. Dengan makna seperti itu berarti karakter identik dengan akhlak.
Secara terminologis karakter adalah “A reliable inner disposition to respond to situations in a morally good way.” Selanjutnya Lickona menambahkan, “Character so conceived has three interrelated parts: moral knowing, moral feeling, and moral behavior”. Menurut Lickona, karakter mulia (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan (moral knowing), lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan (moral feeling), dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan (moral behavior).[44]
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia, baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, maupun dengan lingkungannya, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata karma, budaya, dan adat istiadat. Dari konsep karakter ini muncul konseppendidikan karakter (character education). Melalui buku-bukunya, Thomas Lickona menyadarkan dunia Barat akan pentingnya pendidikan karakter. Pendidikan karakter menurut Lickona mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan(desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good).[45]
Ahmad Amin menjadikan kehendak (niat) sebagai awal terjadinya akhlak (karakter) pada diri seseorang, jika kehendak itu diwujudkan dalam bentuk pembiasaan sikap dan perilaku[46]
Frye mendefinisikan pendidikan karakter sebagai, “A national movement creating schools that foster ethical, responsible, and caring young people by modeling and teaching good character through an emphasis on universal values that we all share”[47]
Jadi, pendidikan karakter harus menjadi gerakan nasional yang menjadikan sekolah sebagai agen untuk membangun karakter siswa melalui pembelajaran dan pemodelan. Melalui pendidikan karakter, sekolah harus berpretensi untuk membawa peserta didik memiliki nilai-nilai karakter mulia seperti hormat dan peduli pada orang lain, tanggung jawab, memiliki integritas, dan disiplin. Di sisi lain pendidikan karakter juga harusmampu menjauhkan peserta didik dari sikap dan perilaku yang tercela dan dilarang. Mengkaji dan mendalami konsep akhlak bukanlah yang terpenting, tetapi merupakan sarana yang dapat mengantarkan seseorang dapat bersikap dan berperilaku mulia yang benar dan utuh seperti yang dipesankan oleh Nabi saw.
Dalam al-Quran ditemukan banyak sekali pokok-pokok keutamaan karakter atau akhlak yang dapat digunakan untuk membedakan perilaku seseorang, seperti perintah berbuat kebaikan(ihsan) dan kebajikan (al-birr), menepati janji (al-wafa), sabar, jujur, takut pada Allah Swt., bersedekah di jalan Allah, berbuat adil, dan pemaaf (QS. al-Qashash [28]: 77; QS. al-Baqarah [2]: 177; QS. al-Muminun (23): 1-11; QS. al-Nur [24]: 37; QS. al-Furqan [25]: 35-37; QS. al-Fath [48]: 39; dan QS. Ali ‘Imran [3]: 134). Melalui ayat-ayat ini Allah mewajibkan setiap Muslim untuk melaksanakan berbagai nilai karakter mulia dalam berbagai aktivitasnya. Keharusan menjunjung tinggi karakter mulia (akhlaq karimah) lebih dipertegas lagi oleh Nabi saw. dengan pernyataan yang menghubungkan akhlak dengan kualitas kemauan, bobot amal, dan jaminan masuk surga. Sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibn Amr: “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik akhlaknya …” (HR. al-Tirmidzi). Dalam hadis yang lain Nabi Saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling cinta kepadaku di antara kamu sekalian dan paling dekat tempat duduknya denganku di hari kiamat adalah yang terbaik akhlaknya di antara kamu sekalian …” (HR. al-Tirmidzi).
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa karakter dalam perspektif Islam bukan hanya hasil pemikiran dan tidak berarti lepas dari realitas hidup, melainkan merupakan persoalan yang terkait dengan akal, ruh, hati, jiwa, realitas, dan tujuan yang digariskan oleh akhlaq qur’aniah[48]
Dalam kenyataan hidup memang ditemukan ada orang yang berkarakter mulia dan ada juga yang sebaliknya. Ini sesuai dengan fitrah dan hakikat sifat manusia yang bisa baik dan bisa buruk (khairun wa syarrun). Inilah yang ditegaskan Allah dalam firman-Nya, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,” (QS. al-Syams [91]: 8). Manusia telah diberi potensi untuk bertauhid (QS. al-A’raf [7]: 172 dan QS. al-Rum [30]: 30), maka tabiat asalnya berarti baik, hanya saja manusia dapat jatuh pada keburukan karena memang diberi kebebasan memilih (QS. al-Taubah [9]: 7–8 dan QS. al-Kahfi [18]: 29). Baik atauburuk bukan sesuatu yang mutlak diciptakan, melainkan manusia dapat memilihbeberapa kemungkinan baik atau buruk. Namun walaupun manusia sudah terjatuh dalam keburukan, ia bisa bangkit pada kebaikan kembali dan bisa bertaubat dengan menghitung apa yang telah dipetik dari perbuatannya.
Sumber utama penentuan karakter dalam Islam, seperti juga disinggung di atas, adalah al-Quran dan hadis Nabi Muhammad saw. Ukuran baik dan buruk dalam karakter Islam berpedoman pada kedua sumber ini, bukan menurut ukuran manusia. Sebab jika ukurannya adalah manusia, baik dan buruk akan berbeda-beda. Kedua sumber pokok tersebut (al-Quran dan sunnah) diakui oleh semua umat Islam sebagai dalil naqli yang tidak diragukan otoritasnya. Melalui kedua sumber inilah dapat dipahami dan diyakinibahwa sifat-sifat sabar, qana’ah, tawakkal, syukur, pemaaf, dan pemurah termasuk sifat-sifat yang baik dan mulia. Sebaliknya, dapat dipahami pula bahwa sifat-sifat syirik, kufur, nifaq, ujub, takabur, dan hasad merupakan sifat-sifat tercela. Islam tidak mengabaikan adanya standar lain selain al-Quran dan sunnah/hadis untuk menentukan baik dan buruk dalam hal karakter manusia. Standar lain dimaksud adalah akal dan nurani manusia serta pandangan umum (tradisi) masyarakat.
Secara umum karakter dalam perspektif Islam dibagi menjadi dua, yaitu karakter mulia (al-akhlaq al-mahmudah) dan karakter tercela (al-akhlaq al-madzmumah). Jika dilihat dari ruang lingkupnya, karakter Islam dibagi menjadi dua bagian, yaitu karakter terhadap Khaliq (Allah Swt.) dan karakter terhadap makhluq (makhluk/selain Allah Swt.). Karakter terhadap makhluk bisa dirinci lagi menjadi beberapa macam, seperti karakter terhadap sesama manusia, karakter terhadap makhluk hidup selain manusia (seperti tumbuhan dan binatang), serta karakter terhadap benda mati (lingkungan alam).
C.     Jenis-jenis Pendidikan Karakter
Menurut Yahya Khan[49], terdapat empat jenis pendidikan karakter yang dapat dilaksanakan dalam proses pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1.      Pendidikan Karakter berbasis nilai religius, yaitu pendidikan karakter yang berlandaskan kebenaran wahyu tuhan (konversi moral).
2.      Pendidikan karakter berbasis nilai budaya, yang berupa budi pekerti, pancasila, apresiasi sastra, keteladanan tokoh-tokoh sejarah dan para pemimpin bangsa.
3.      Pendidikan karakter berbasis lingkungan (konversi lingkungan).
4.      Pendidikan karakter berbasis potensi diri, yaitu sikap pribadi, hasil proses kesadaran pemberdayaan potensi diri yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan (konversi humanis). Pendidikan karakter berbasis potensi diri adalah proses kegiatan yang dilakukan dengan segala upaya secara sadar dan terencana, untuk mengarahkan anak didik agar mereka mampu mengatasi diri melalui kebebasan dan penalaran, serta mampu mengembangkan segala potensi diri yang dimiliki anak didik.[50]
E. Pilar-pilar Karakter dalam Islam
Ada sepuluh  pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universalitas Islam, yaitu:
Pertama, Karakter cinta dan ikhlas terhadap Allah swt dan segenap ciptaan-Nya. Ibadah pada hakikatnya segala sikap dan prilaku yang di ditujukan untuk mencari ridha Allah, baik itu ibadah personal maupun ibadah sosial.[51]
Kedua,Tanggung jawab dan kemandirian. Setiap orang bertanggungjawab terhadap apa yang dikatakan dan dilakukan dalam tindakan manusiawi secara mandiri. Anugerah Tuhan kepada manusia berupa potensi internal (akal, nafs, kalbu, dan fitrah yang dihidupi oleh ruh), kesadaran dan kebebasan memilih untuk bertindak, menjadikan manusia bertanggungjawab apa yang dikatakan dan dilakukan secara mandiri. Setiap kamu adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya. Paling tidak seseorang bertanggungjawab memimpin dirinya sendiri.
Ketiga, Kejujuran dan amanah. Diantara karakter yang ingin kita bangun adalah karakter yang berkamampuan dan berkebiasaan memberikan yang terbaik, giving the best, sebagai prestasi yang dijiwai oleh nilai-nilai kejujuran. Di samping itu apabila seseorang diberi amanah, maka ia harus mampu memikul dan menunaikan amanah itu sesuai dengan hak-hak dan kewajiban yang melekat dalam amanah itu.
Keempat, Saling hormat menghormati dan berlaku santun dalam bersikap dan berkomunikasi. Kebanyakan orang sukses justru ditentukan sejauh mana seseorang menghormati, menghargai dan santun dalam berkomunikasi. Intelegensi hanya salah satu faktor saja untuk menuju sukses.
Kelima, Ta’awun (tolong menolong), adil (hidup seimbang) dan ihsan (berbuat lebih baik dan terbaik) dan kerjasama dalam menciptakan tatanan dunia yang bermoral. Manusia diciptakan dalam posisinya bersosial. Tidak ada manusia yang dapat hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain. Bahkan telah matipun, harus dibantu orang lain, yang dikenal dalam Islam fardu kifayah (kewajiban kolektif) untuk menyolatkan, memandikan, mengkafani, dan menanamnya.
Keenam, Percaya diri dan pekerja keras. Setiap muslim diperintahkan,  jika seseorang selesai  melakukan suatu pekerjaaan, cepat bergegaslah untuk mengerjakan lainnya. Dalam Alquran disebutkan: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap (QS. Insyirah: 7-8). Demikian juga seseorang di larang keras menggantungkan hidupnya pada orang lain, apalagi meminta-minta. Tangan pemberi lebih baik daripada tangan peminta.
Ketujuh, Kepemimpinan. Memimpin diri sendiri dan orang lain untuk menata dunia dalam tatanan moral merupakan suatu keharusan dalam Islam.
Kedelapan, Berprilaku baik dan rendah hati. Memperjuangkan kebenaran apabila dilakukan dengan cara yang baik dan rendah hati jauh lebih bermakna dan lebih efektif, daripada dilakukan dengan cara yang tidak baik dan arogan.
Kesembilan, Keteladanan. Panji-panji Islam dapat ditegakkan apabila seseorang menempatkan dirinya sebagai teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi masyarkat dan keluarganya. Tidak akan dapat menciptakan tatanan dunia yang bermoral apabila terutama para pemimpinnya belum dapat menjadikan diri mereka menjadi teladan bagi yang dipimpinnya. Presiden menjadi teladan bagi rakyatnya. Orang tua menjadi teladan bagi anak-anaknya. Guru menjadi teladan bagi murid-muridnya. Majikan menjadi teladan bagi para pekerjanya. Supir menjadi teladan bagi penumpangnya. Pimpinan media menjadi teladan bagi pembacanya dan seterusnya.
Kesepuluh, Toleransi (tasamuh), kedamaian, dan kesatuan. Manusia diciptakan dalam perbedaan. Yang saudara sekandung dan kembarpun pasti berbeda, apalagi yang bukan saudara dan bukan pula kembar. Seseorang tidak boleh bercita-cita untuk menyeragamkan (uniform) setiap orang.
F. Hakikat Pendidikan Karakter Dalam Islam
Hakikat pendidikan Islam atau al-tarbiyah al-islamiyah mencakup makna yang sangat luas yakni (1) al-namaa yang berarti bertambah, berkembang dan tumbuh menjadi besar sedikit demi sedikit,(2) aslahahu yang berarti memperbaiki pembelajar jika proses perkembangan menyimpang dari nilai-nilai Islam, (3) tawallaa amrahu  yang berarti mengurusi perkara pembelajar, bertanggung jawab atasnya dan melatihnya, (4) ra’ahu   yang berarti memelihara dan memimpin sesuai dengan potensi yang dimiliki dan tabiatnya (5) al-tansyi’ah yang berarti mendidik, mengasuh, dalam arti materi (fisiknya) dan immateri (kalbu, akal, jiwa, dan perasaannya), yang kesemuanya merupakan aktivitas pendidikan. Lima hakikat pendidikan Islam tersebut harus dimulai sejak usia dini.
Usia dini berarti pendidikan karakter sejak dalam kandungan. Sewaktu calon bayi dalam kandungan, keluarga terutama ibu calon bayi, diharapkan banyak membaca ayat-ayat Alquran, seperti surat Yusuf, surat Maryam, dll, dengan harapan ibunya tenang dan damai, yang hal itu berpengaruh kepada calon bayi yang dikandungnya menjadi manusia berkarakter kuat dan energi positif seperti Nabi Yusuf as dan Maryam. Sewaktu anak lahir disyariatkan mengumandangkan azan di telinga kanan dan ikamat di telinga kirinya, agar bayi dibiasakan mendengarkan kalimat yang baik yang menggetarkan syaraf dan jiwanya. Berkebiasaan mendengarkan yang baik akan mengukir dalam jiwa anak, yang akhirnya menjadi karakter kuat dan positif.
Keluarga merupakan kelembagaan masyarakat yang memegang peranan kunci dalam proses pendidikan karakter. Jadi ayah, ibu dan seluruh anggota keluarga adalah demikian penting dalam proses pembentukan dan pengembangan karakter. Keluarga wajib berbuat sebagai ajang yang diperlukan sekolah dalam hal melanjutkan pemantapan sosialisasi kognitif. Demikian juga keluarga dapat berperan sebagai sarana pengembangan kawasan afektif dan psikomotor. Dalam keluarga diharapkan berlangsungnya pendidikan yang berfungsi pembentukan karakter sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk religius.
Ada beberapa alasan kenapa pendididikan karakter dalam keluarga ini penting. Pertama, dasar-dasar kelakuan dan kebiasaaan anak tertanam sejak di dalam keluarga, juga sikap hidup serta kebiasaan-kebiasaannya. Kebiasan-kebiasaan yang baik dalam keluarga ini akan menjadi karakter anak setelah dia dewasa.
Kedua, anak menyerap adat istiadat dan prilaku kedua orangtuanya dengan cara meniru atau mengikuti yang disertai rasa puas. Peniruan yang baik yang diikuti dengan rasa puas akan sangat besar pengaruhnya dalam penanaman karakter anak.
 Ketiga,dalam pendidikan keluarga berjalan secara natural, alami dan tidak dibuat-buat. Kehidupan keluarga berjalan penuh dengan keaslian, akan terlihat jelas sifat-sifat atau karakter anak yang dapat diamati orang tua terus menerus dan karenanya orang tua dapat memberikan pendidikan karakter yang kuat terhadap anak-anaknya.
 Keempat, dalam pendidikan keluarga berlangsung dengan penuh cinta kasih dan keikhlasan. Cinta kasih dan keikhlasan ini dijelaskan Nabi dalam riwayat Imam Bukhari dari Anas bin Malik bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua anaknya yang masih kecil. Aisyah memberikan tiga potong kurma kepada wanita itu. Diberilah oleh anak-anaknya masing-masing satu, dan yang satu lagi untuknya. Kedua kurma itu dimakan anaknya sampai habis, lalu mereka menoreh kearah ibunya. Sang ibu membelah kurma (bagiannya) menjadi dua, dan diberikannya masing-masing sebelah kepada kedua anaknya. Tiba-tiba Nabi Muhammad SAW datang, lalu diberitahu oleh Aisyah tentang hal itu. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Apakah yang mengherankanmu dari kejadian itu, sesungguhnya Allah telah mengasihinya berkat kasih sayangnya kepada kedua anaknya”.
Kelima, dalam keluarga merupakan unit pertama dalam masyarakat di mana hubungan-hubungan yang terdapat di dalamnya, sebagian besar adalah bersifat hubungan langsung. Dari keluarga, anak pertama-tama memperoleh terbentuknya tahap-tahap awal proses sosialisasi, dan melalui interaksi dalam keluarga, anak memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, emosi, sikap, dan keterampilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.
Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.
Sebagaimana dikutip Suyanto (2009), bahwa ada dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik. Ringkasan hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Menurut Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.[52]
EPILOG
Usaha pembentukan watak melalui sekolah/madrasah, selain dengan pendidikan karakter di atas, secara berbarengan dapat pula dilakukan melalui pendidikan nilai dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, menerapkan pendekatan “modelling” atau “exemplary” atau “uswah hasanah”. Yakni mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan menegakkan nilai-nilai akhlak dan moral yang benar melalui model atau teladan. Setiap guru dan tenaga kependidikan lain di lingkungan sekolah hendaklah mampu menjadi “uswah hasanah” yang hidup (living exemplary) bagi setiap peserta didik. Mereka juga harus terbuka dan siap untuk mendiskusikan dengan peserta didik tentang berbagai nilai-nilai yang baik tersebut.
Kedua, menjelaskan atau mengklarifikasikan kepada peserta didik secara terus menerus tentang berbagai nilai yang baik dan yang buruk. Usaha ini bisa dibarengi pula dengan langkah-langkah; memberi penghargaan (prizing) dan menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discouraging) berlakunya nilai-nilai yang buruk; menegaskan nilai-nilai yang baik dan buruk secara terbuka dan kontinu; memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk memilih berbagai alternatif sikap dan tindakan berdasarkan nilai; melakukan pilihan secara bebas setelah menimbang dalam-dalam berbagai konsekuensi dari setiap pilihan dan tindakan; membiasakan bersikap dan bertindak atas niat dan prasangka baik (husn al-zhan) dan tujuan-tujuan ideal; membiasakan bersikap dan bertindak dengan pola-pola yang baik yang diulangi secara terus menerus dan konsisten.
Ketiga, menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character-based education). Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan character-based approach ke dalam setiap mata pelajaran nilai yang ada di samping mata pelajaran-mata pelajaran khusus untuk pendidikan karakter, seperti pelajaran agama, pendidikan kewarganegaraan (PKn), sejarah, Pancasila dan sebagainya. Memandang kritik terhadap mata pelajaran-matapelajaran terakhir ini, perlu dilakukan reorientasi baik dari segi isi/muatan dan pendekatan, sehingga mereka tidak hanya menjadi verbalisme dan sekedar hapalan, tetapi betul-betul berhasil membantu pembentukan kembali karakter dan jati diri bangsa.
REFERENSI
Abd. Hamid Yunus, Da.irah al-Ma.arif, II, (Cairo: Asy.syab, t.t)
Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Islam Sebagai Basis Pendidikan Karakter, (Yogyakarta:Sinar Grafika, 2007)
Ahmad Amin.  Etika (Ilmu Akhlak). Terj. oleh Farid Ma’ruf. (Jakarta: Bulan Bintang, 1995) Cet. VIII
Abdul Madjid dan Diah Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: Rosdakarya, 2011)
Ahmad Warson Munawwir, Kamus a-Munawwir, (Yogyakarta: Krapyak Press,1997)
Amin Abdullah,Seri Kupulan Pidato guru Besar: Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Keislaman,(Yogyakarta:Suka Press, 2003)
A Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Setia, 1999), Cet. III.
Ainain, Ali Khalil Abu. Falsafah al-Tarbiyah fi al-Quran al-Karim. T.tp.: Dar al-Fikr al-‘Arabiy. Al-Hadits al-Nabawiy.1985.
A. Malik Fajar, Madrasah Dan Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1999)
Al-Attas, Syed Naquib, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Haidar Baqir. cet.IV. Bandung: Mizan, 1994)
Ali Abdul Halim Mahmud, Tarbiyah Khuluqiyah, terj. Afifudin (Solo: Media Insani Press, 2003)
Agus Sujanto, et.al, Psikologi Kepribadian (Jakarta, Bumi Aksara, 2009)
Azyumardi Azra, Pendidikan Karakter: Peran Sekolah Dan Keluarga, dalam http://www.erlangga.co.id/umum/7405-pendidikan-karakter-peran-sekolah-dan-keluarga-.html
CP. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono (Jakarta: PT. Raja Grafindo  Persada, 1993)
D. Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri (Yogyakarta: Pelangi Publishing, 2010),             Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global (Jakarta: Gramedia, 2010)
Dharma Kesuma, et.al, Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011)
Djaali, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011)
Echols, M. John dan Hassan Shadily. (1995). Kamus Inggris Indonesia: An English-Indonesian Dictionary. Jakarta: PT Gramedia. Cet. XXI. (Ryan and Bohlin, 1999)
Echols dan Shadily, Kamus Besar Bahasa Inggris, Jakarta: Pusat Bahasa Dikbud, 1995).h. 214. (Pusat Bahasa Depdiknas, 2008)
Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Titihan Ilahi Press. 1998)
Frye, Mike at all. (Ed.) (2002).Character Education: Informational Handbook and Guide for Support and Implementation of the Student Citizent Act of 2001. North Carolina:Public Schools of North Carolina
Hasan Sho’ub, Islam dan revolusi Pemikiran, terj. Lukmanul Hakim, (Surabaya: Risalah Gusti 1997)
Hans Wehr, A Dictionary of Modern written Arabic (Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1979)
            Thomas Lickona, The Return of Character Education, Phe Delta Kippan, 1999)
Masnur Muslih, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.
Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2000), h.392.
Nurnaningsih, Pentingnya karakter Dalam Membentuk Generasi Cerdas Dan unggul, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997)
Maragustam,“Revitalisasi Strategi Pembelajaran Agama Islam menapaki Abad Moderen”, dalam Jurnal Pendidikan Islam vol. 2, no. 1, (Yogyakarta: Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 2001)
Nursid Sumaatmadja, Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, (Bandung: ALFABETA, 2002)
M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010)
Marzuki, Prinsip Dasar Akhlak Mulia: Pengantar Studi Konsep-Konsep Dasar Etika dalam Islam. Yogyakarta: Debut Wahana Press-FISE UNY, 2009)..
Moeliono, Anton M. (Penyunting), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996)
Muka Sa’id,  Etika Masyarakat Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita, 1986)
Ryan, Kevin & Bohlin, Karen E. Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life. San Francisco: Jossey Bass.1999)
Lickona, Thomas, Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York, Toronto, London, Sydney, Aucland: Bantam books., 1991.
Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter(makalah), Ditjen Mandikdasmen: Kemenpendiknas, 2009.
            Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana, 2005)
Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1995), Cet. II.
Zainal Aqib, Pendidikan Karakter Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa, Bandung: CV. Yrama Widya, 2011)
Sumer: Litbang Kompas, didownload pada tanggal 13 April 2012.
http/muslimdaily.net/index.php?page=artikel&subpage=detalil&detailed=41 dakses 02-11-2011.
http/muslimdaily.net/index.php?page=artikel&subpage=detalil&detailed=41 dakses Sabtu, 7 Mei 2011http:/zahrahm. WordPress diakses tanggal 02-10-2011


Ò Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama 2011-2015.
[1]Azyumardi Azra, Pendidikan Karakter: Peran Sekolah Dan Keluarga, dalam http://www.erlangga.co.id/umum/7405-pendidikan-karakter-peran-sekolah-dan-keluarga-.html
[2]Sumer: Litbang Kompas, didownload pada tanggal 13 April 2012.
[3]http:/zahrahm. WordPress diakses tanggal 02-10-2011
[4]Amin Abdullah,seri Kupulan Pidato guru Besar: Rekonstruksi Ilmu-Ilmu Keislaman,(Yogyakarta:Suka Press, 2003), h. 166.
[5]Ibid, hlm. 166-167
[6]Ibid, hlm. 167.
[7]Ahmad Tafsir, Pendidikan Agama Islam Sebagai Basis Pendidikan Karakter, (Yogyakarta:Sinar Grafika, 2007), h.15
[8]http/muslimdaily.net/index.php?page=artikel&subpage=detalil&detailed=41 dakses Sabtu, 7 Mei 2011
[9]Nurnaningsih, Pentingnya karakter Dalam Membentuk Generasi Cerdas Dan unggul, (Bandung, Pustaka Hidayah, 1997), h 115.
[10]A. Malik Fajar, Madrasah Dan Tantangan Modernitas (Bandung: Mizan, 1999),  h. 30.
[11]Maragustam,“Revitalisasi Strategi Pembelajaran Agama Islam menapaki Abad Moderen”, dalam Jurnal Pendidikan Islam vol. 2, no. 1, (Yogyakarta: Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga, 2001), h. 111.  
[12]http/muslimdaily.net/index.php?page=artikel&subpage=detalil&detailed=41 dakses 02-11-2011.
[13]Hasan Sho’ub, Islam dan revolusi Pemikiran, terj. Lukmanul Hakim, (Surabaya: Risalah Gusti 1997),  hlm. 9.
                [14] Nursid Sumaatmadja, Pendidikan Pemanusiaan Manusia Manusiawi, (Bandung: ALFABETA, 2002), h.67
                [15] Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Kencana, 2005),h. 8-9
[16] Al-Attas, Syed Naquib, Konsep Pendidikan Dalam Islam, Suatu Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, terj. Haidar Baqir. cet.IV. Bandung: Mizan, 1994.h.220.
[17]Akhmad Muhaimin Azzet, Op.Cit., h. 27
 [18]Abdul Madjid dan Diah Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, Bandung: Rosdakarya, 2011, h. 109
                [19]Thomas Lickona, The Return of Character Education, Phe Delta Kippan, 1999, h. 109
[20]Zainal Aqib, Pendidikan Karakter Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa, Bandung: CV. Yrama Widya, 2011, h. 28
[21]Thomas Lickona, Op.Cit., h. 120
[22]Masnur Muslih, Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, h. 127
[23] D. Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri (Yogyakarta: Pelangi Publishing, 2010), 1
[24] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2000), h.392.
[25]M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), h.12.
[26] Doni Koesoema A, Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global (Jakarta: Gramedia, 2010), h. 90-91.
[27] Dharma Kesuma, et.al, Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h. 22.
[28] CP. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, terj. Kartini Kartono (Jakarta: PT. Raja Grafindo  Persada, 1993),h. 82.
[29] Moeliono, Anton M. (Penyunting), Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), h. 150.
[30]Ibid.,h. 665.
[32]A Mustafa, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Pustaka Setia, 1999), Cet. III, h. 11. Abd. Hamid Yunus, Da.irah al-Ma.arif, II, (Cairo: Asy.syab, t.t), h. 436.
[33] Hans Wehr, A Dictionary of Modern written Arabic (Wiesbaden: Otto Harrassowitz, 1979), h. 299.
[34] Kata Al-Khuluq dapat digunakan bersama Al-Khaliq. Contoh; “Fulanun hasanul-kholq alkhuluq”, yakni Fulan itu baik lahir dan batinnya. Yang dimaksud kholq ialah aspek lahir (fisik) dan yang dimaksud khuluq ialah aspek batin (jiwa). Sebab manusia itu tersusun dari jasad (fisik) yang terjangkau oleh penglihatan mata (bashar) dan ruh atau nafs (jiwa) yang terjangkau oleh penglihatan hati (bashirah). Keduanya adalah merupakan sikap dan gambaran, bisa jelek dan bisa baik. Jiwa yang merupakan jangkauan penglihatan hati (bashirah) lebih tinggi tingkatannya dari pada fisik yang merupakan jangkauan penglihatan mata (bashar). Ali Abdul Halim Mahmud, Tarbiyah Khuluqiyah, terj. Afifudin (Solo: Media Insani Press, 2003), 30.
[35] Zakiah Daradjat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1995), Cet. II, h. 60.
[36] Agus Sujanto, et.al, Psikologi Kepribadian (Jakarta, Bumi Aksara, 2009), h. 10
[37] Djaali, Psikologi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), h. 2.
[38] Ali Abdul Halim Mahmud, Tarbiyah Khuluqiyah, h.30.
[39] Dharma Kesuma, Pendidikan Karakter .,h. 24.
[40] Ahmad Warson Munawwir, Kamus a-Munawwir, (Yogyakarta: Krapyak Press,1997), h.364 Ryan, Kevin & Bohlin, Karen E. Building Character in Schools: Practical Ways to Bring Moral Instruction to Life. San Francisco: Jossey Bass.1999, h. 43
[41] Faisal Ismail, Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Titihan Ilahi Press. 1998: 178
[42] Muka Sa’id,  Etika Masyarakat Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita, 1986, h 23-24
[43] Echols, M. John dan Hassan Shadily. (1995). Kamus Inggris Indonesia: An English-Indonesian Dictionary. Jakarta: PT Gramedia. Cet. XXI. (Ryan and Bohlin, 1999: 5, Echols dan Shadily, Kamus Besar Bahasa Inggris, Jakarta: Pusat Bahasa Dikbud, 1995).h. 214. (Pusat Bahasa Depdiknas, 2008: 682
[44] Lickona, Thomas, Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility. New York, Toronto, London, Sydney, Aucland: Bantam books., 1991 h. 51
[45]Lickona, 1991: 51).
[46] Ahmad Amin.  Etika (Ilmu Akhlak). Terj. oleh Farid Ma’ruf. (Jakarta: Bulan Bintang, 1995) Cet. VIII, h. 62
[47] Frye, Mike at all. (Ed.) (2002).Character Education: Informational Handbook and Guide for Support and Implementation of the Student Citizent Act of 2001. North Carolina:Public Schools of North Carolina. Lihat juga, Marzuki. (2009). Prinsip Dasar Akhlak Mulia: Pengantar Studi Konsep-Konsep Dasar Etika dalam Islam. Yogyakarta: Debut Wahana Press-FISE UNY.
 (Frye, 2002: 2).
[48] Ainain, Ali Khalil Abu. Falsafah al-Tarbiyah fi al-Quran al-Karim. T.tp.: Dar al-Fikr al-‘Arabiy. Al-Hadits al-Nabawiy.1985,  h. 186
[49] Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri, 2.
[50] Yahya Khan, Pendidikan Karakter Berbasis Potensi Diri, 2.
[51] Al-Ghazâlî, Ihyâ Ulûm alDîn, jilid I, h. 54
[52] Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter (makalah), Ditjen Mandikdasmen: Kemenpendiknas, 2009.h.7

Share this post