DAKWAH TRANSFORMATIF TUAN GURU DI LOMBOK ( STUDI KOMUNIKASI RELATIONAL)

ABSTRAK
Dakwah transformatif adalah suatu model pendekatan dan metode dakwah yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi keagamaan kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesan keagamaan, tetapi juga menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan komunikasi relasional dan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian dakwah tidak hanya untuk memperkuat aspek religiusitas masyarakat, melainkan memperkokoh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial dan menghilangkan kesenjangan sosial yang terjadi selama ini.
Starting point dari persoalan di atas, permasalahan utama dalam kajian ini  adalah bagaimana dakwah transformatif  Tuan Guru  perspektif  komunikasi relasional? Dari sini dapat dipertegas dengan memunculkan sub-sub pertanyaan sebagai berikut: bagaimana kriteria dakwah transformatif tuan guru di Lombok? bagaimana signifikansi komunikasi relasional tuan guru dalam melakukan dakwah transformatif di Lombok?

 
Keberhasilan dakwah islamiyah sangat ditentukan oleh komunikasi relasional antara individu dan masyarakat, semakin intensif komunikasi da’i dengan masyarakat, semakin terjalin semangat keberagamaan dalam menyikapi berbagai problem umat.
Pendekatan utama dalam menyikapi stagnasi dakwah dapat diterapkan  teori komunikasi relasional (Katrin Miller : 1998 : 86) yang menyatakan,  hubungan berkelanjutan antara individu dan masyarakat yang  terus dikomunikasikan akan terjalin ikatan yang berkelanjutan pula. Teori ini diperkuat oleh Alvin L. Bertrand : 1980 : 161 yang menyatakan, awal dari perubahan yang ingin dicapai dalam segala aspek tergantung pada komunikasi berkelanjutan di antara para individu-individu yang  satu dengan yang lain.
Tuan Guru sebagai komunikator umat tidak akan terlepas dari dua aspek komunikasi relasional yaitu, dialektik relasional yang meliputi internal dan eksternal yang merupakan bagian terpenting dari teori komunikasi relasional. Dengan dilektik komunikasi internal Tuan Guru dapat dengan mudah membenahi persoalan-persoalan yang terjadi di kalangan mad’u (objek dakwah), begitu juga dialektik eksternal dapat membantu Tuan Guru dalam mengkomunikasikan persoalan-persoalan yang terjadi di luar objek dakwah. 
Agenda dakwah ke depan harus mampu merubah paradigma yang selama ini salah dan telah mengkristal di kalangan umat dengan paradigma komunikasi relasional. Da’i diharapkan tidak berperan sebagai juru dakwah yang hanya menyampaikan Islam bil lisan (konvensional) di atas mimbar saja, tapi lebih dari itu, juru dakwah dituntut menjadi cultural broker (makelar budaya), bahkan menjadi intermediary forces (kekuatan perantara) bagi permasalahan sosial ummat.
Komunikasi relasional yang mengedepankan dialektik internal dan eksternal akan memberikan dampak transformatif bagi perkembangan dakwah menuju kesejahteraan umat.
  1. PENDAHULUAN
Pelaksanaan dakwah oleh Tuan Guru menunjukkan bagaimana tingkat jarak  kesenjangan sosial di antara pembawa pesan dan masyarakat yang menerima pesan-pesan Islam. Sepanjang pelaksanaannya masih merupakan usaha-usaha mengintroduksi suatu yang baru dengan tanpa berorientasi pada nilai-nilai dan tatanan kontekstual sehingga diterimanya pesan tersebut tidak akan pernah mengakar dalam masyarakat. Dakwah seharusnya dipahami sebagai suatu upaya terencana dan terprogram, bukan seperti mengisi suatu gelas kosong dengan air, sehingga perlu ada paradigma baru dalam melihat perkembangan dakwah ke depan, seperti pendekatan dakwah transformatif, di samping pendekatan-pendekatan yang lain.[1]
Tuan Guru sebagai da’i sekaligus agent of change memberikan dasar filosofi ”eksistensi diri” dalam dimensi individual, keluarga, dan sosio-kultural, sehingga dapat memiliki kesiapan untuk berinteraksi dan menafsirkan kenyataan-kenyataan yang dihadapi secara mendasar dan menyeluruh menurut ajaran Islam. Jadi Islam yang telah internalizedmenjadi paradigma untuk memberi struktur dan makna terhadap realitas sosial dan fisik serta menjadi kerangka dasar pemecahan masalah. Oleh karena perubahan sosial atau tranformasi sosial menuju pada arah tertentu, maka dakwah Islam berfungsi memberikan arah dan corak ideal tatanan masyarakat baru yang akan datang. Aktualitas dakwah berarti upaya penataan masyarakat terus menerus di tengah-tengah dinamika perubahan sosial sehingga tidak ada satu sudut kehidupan pun yang lepas dari perhatian dan penggarapannya. Dengan demikian dakwah Islam senantiasa harus bergumul dengan kenyataan baru yang pemunculannya kadangkala sulit diperhitungkan sebelumnya.
Sejalan dengan hal tersebut, agama seharusnya selalu berani tampil dalam setiap keadaan, bukan saja untuk menunjukkan hal-hal yang ma’ruf (positif), tetapi juga hal-hal yang munkar (negatif). Mekanisme kritis dalam agama sangat ditekankan terhadap perubahan. Itu tercermin dalam ajaran tentang perlunya saling mengingatkan dalam kritik yang membangun (wasiat dalam kebenaran) atau dengan istilah lain dalam sosiologi komunikasi adanya interaksi sosial dalam melihat dinamika sosial masyarakat, yang sekaligus  juga  sesuai fungsi kekhalifahan yang diamanatkan Tuhan kepada umat manusia di bumi.[2]
Selain pendekatan dari dalam, pemegang peranan selanjutnya adalah pemimpin kharismatik agama dalam konteks ini adalah Tuan Guru. Prinsip uswah hasanah (suri teladan) merupakan salah satu ujung pangkal keberhasilan dakwah Rasullullah SAW. Kepemimpinan yang kharismatik tidak selalu hanya dipahami melekat dalam tubuh  individu seorang tokoh masyarakat (Tuan Guru), tetapi juga bisa dipahami sebagai  suatu lembaga yang merujuk pada kepemimpinan kolektif.
Tumbuh berkembangnya Islam hendaknya selalu berjalan seiring dengan terselesaikannya segala problematika pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, terutama sektor ekonomi. Dengan demikian, dakwah haruslah berorientasi pada kebutuhan mendasar masyarakat, sehingga sasaran dakwah hendaknya ditujukan kepada masyarakat secara keseluruhan, bukan  individu/anggotanya. Intinya adalah penyebaran Islam lebih dibidikkan pada suatu sistem sosial, baik itu menyangkut nilai dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat maupun tata hubungan organisasi sosial yang ada.
Dalam konteks keberagamaan di Lombok, dapat dikatakan bahwa pulau kecil ini  memiliki beberapa potensi daerah; a) Lombok dengan komposisi masyarakat berpenduduk mayoritas muslim.[3]b) Lombok dengan pondok pesantrennya yang menyebar di seluruh pelosok kota dan desa berjumlah sekitar 290 pondok pesantren dengan berbagai macam tipe.[4]c) Lombok dengan basis masjid dan mushalla[5]yang berdiri megah di setiap kampung, sehingga Lombok lebih dikenal dengan sebutan ”pulau seribu masjid”.[6]d) Lombok dengan basis organisasi Islam seperti organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai organisasi terbesar di NTB yang berpusat di Lombok Timur, NU, Muhamadiyah, Maraqith Ta’limat, dll.[7]e)Lombok dengan sumber daya alam yang melimpah ruah, seperti lahan pertanian, perikanan, dan parawisatanya.[8]
Di samping potensi-potensi tersebut, masih menyisakan berbagai agenda problematika yang belum tuntas dilaksanakan :
Pertama, agenda pengembangan sumber daya manusia( IPM) Masyarakat NTB, khususnya yang berdomisili di pulau Lombok sumber daya manusianya masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan IPM (Indek Pembangunan Manusia) rata-rata nasional.[9]
Kedua, aspek pendidikan masyarakat yang rata-rata tamat sekolah dasar dan sekolah tingkat pertama. Indek ini sangat tidak sebanding dengan tingkat rata-rata pendidikan nasional.[10]
Ketiga, aspek ekonomi masyarakat yang masih tergolong menengah ke bawah, bahkan masih hidup dalam kehidupan prasejahtra.[11]
Keempat, aspek kesehatan. Aspek ini mencakup banyak hal antara lain, angka kematian bayi tinggi, kematian ibu melahirkan, angka harapan hidup pendek.[12]
Kelima, konflik sosial. Fenomena di kalangan masyarakat Lombok tentang masalah konflik sangat memprihatinkan, konflik antar pemeluk agama, seperti konflik antara warga penganut salafi dengan non-salafi, konflik penganut warga Ahmadiyah, konflik antar kampung yang disebabkan faktor sepele, dan lain-lain.[13]
Memperhatikan berbagai kenyataan obyektif kehidupan umat sebagai mayoritas penduduk Indonesia, kegiatan dakwah perlu diarahkan untuk mendorong berkembangnya suatu tatanan kehidupan sosial yang mandiri, berkualitas dan sejahtera. Dakwah, dengan demikian merupakan kegiatan bertahap dan sistemik mengembangkan kualitas hidup dalam rangka menghampiri keredhaan Allah.[14]
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, penulis akan mencoba memotret kembali sepak terjang sosok Tuan Guru sebagai tokoh agama dan panutan masyarakat sejauh mana kreadibilitas dan efektivitas dakwah yang dilakukan di tengah-tengah masyarakat dengan mengedepankan paradigma dakwah transformatif  perpektif komunikasi relasional sebagai barometer keberhasilan dalam upaya mewujudkan perubahan sosial di Lombok dengan mengemukakan persoalan utama:
Bagaimana dakwah transformatif  Tuan Guru  perspektif  komunikasi relasional?
  1. TEORI KOMUNIKASI RELASIONAL SEBAGAI LANDASAN OPERASIONAL DAKWAH TRANSFORMATIF.
Pengakuan bahwa relasi (hubungan) merupakan suatu yang penting dalam komunikasi sudah ada paling tidak sejak tahun 1950-an. Meskipun penelitian tentang hubungan telah dari berbagai sudut pandang. Kebanyakan dari apa yang dirujuk sebagai ”komunikasi relasional” didasarkan pada inti dari asumsi-asumsi umum.
Asumsi Pertama, hubungan selalu dihubungkan dengan komunikasi dan tidak dapat dipisahkan. Asumsi Kedua, sifat hubungan didefinisikan oleh komunikasi dengan para anggotanya. Asumsi Ketiga, hubungan biasanya didefinisikan lebih secara implisit ketimbang eksplisit. Asumsi Keempat, hubungan-hubungan berkembang sepanjang waktu melalui sebuah negosiasi di antara mereka yang terlibat.[15]
Konsep sistem ala group Palo Alto:
Teori sistem adalah seperangkat hal-hal yang berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu keseluruhan. Pada bagian ini dapat dilihat pada dua jalur awal teori yang merupakan benih dari studi komunikasi tentang hubungan, mulai dengan karya klasik dari kelompok Palo Alto.[16]
Lima Aksioma Dasar Tentang Komunikasi Menurut Kelompok Palo Alto
a)      Aksioma Pertama, orang tidak bisa tidak berkomunikasi.
b)     Aksioma Kedua, setiap percakapan -betapapun singkatnya- meliputi dua pesan- yaitu pesan isi dan sebuah pesan hubungan-metakomunikasi (non-verbal).
c)      Aksioma Ketiga, bahwa orang menggunakan kode-kode digital dan analog. Digital komunikasi memiliki kekuatan penuh dan dapat dipahami melalui syintac bahasa yang baik dan juga dapat disetujui. Contoh On-Of diungkap maupun tidak dapat dipahami maksudnya sebagai kode untuk menghidupkan atau untuk mematikan sesuatu. Analog; tidak memiliki kejelasan (non-verbal) tapi bisa dikomunikasikan dengan makna yang banyak tentang hubungan itu. contoh gerakan tubuh (non-verbal) tapi bisa dimaknai untuk mengexspresikan kesetujuan atau keikutsertaan atau emosional.
d)     Aksioma Keempat, pengelompokan, artinya tahapan-tahapan interaksi seperti kata, kalimat, tidak bisa dipahami sebagai rangkaian elemen-elemen yang terpisah, supaya bisa diterima ia harus dikelompokkan dan pengelompokan ini umumnya merupakan masalah persepsi pribadi.
e)      Aksioma Kelima, komunikasi berhubungan dengan kecocokan atau pengaitan pesan-pesan di dalam suatu interaksi, baik secara simetris (dua komunikator dalam suatu hubungan yang berperilaku sama dan perbedaan-perbedaan diupayakan untuk diminimalkan) maupun secara komplementer (perbedaan respon komunikator dimaksimalkan).[17]
a.      Klasifikasi Teori Dialektik Relasional
Komunikasi relasional jika dilahat dari konsep operasionalnya dapat dijabarkan sebagai komunikasi syiclic, dualistic, dualism dantotality.[18] Dari penjabaran ini dapat diklasifikasikan secara lebih mendetail menjadi dua bagian penting ; dialektik internal dan eksternal.
            a.i. Dialektik Internal
Berbicara tentang dialektik internal ada beberapa komponen teori yang termasuk dalam bagian ini antara lain :
  • Dependency-indepedensi-Openness-privacy:Ketergantungan-kemandirian-Keterbukaan-kerahasiaan.
  • Certainly-uncertainly dialectic : Dialektik pasti-tidak pasti ; level awal interaksi antara orang yang sudah diketahui dan orang lain dapat mengarahkan keinginannya untuk mereduksi yang tidak pasti/ jelas terhadap satu sama lainnya.
  • Oppenness-closedness dialectic/expression-non-expression dialectic: Mengungkapkan perasaan secara terbuka-tertutup, dalam banyak hal ini merupakan sebuah ketegangan antara spontanitas dan strategi dan respon yang muncul terhadap dialektik ini adalah berusaha mencapai keduanya sekaligus, berlaku jujur tapi hati-hati dalam mengungkapkan kejujuran itu.
  • Affection-intrumentality dialectic: Dialektik kesenangan-instrumentalitas; suatu dialiktik persahabatan seringkali terjadi antara menghargai teman sebagai teman versus memamfaatkan teman untuk tujuan lain.[19]
b.     Dialektik Eksternal
Dialektik eksternal memiliki teori tersendiri yang meliputi :
  • Inclution-Seclution Dialectic: Pencakupan-pengasingan dialektik; tekanan dalam hubungan harus menegosiasi ketegangan antara melakukan sesuatu secara kelompok kecil (couple) atau melakukan sesuatu dalam kelompok yang lebih luas.
  • Convensional Unique Dialectic: Sugestinya bahwa relasi adalah ditandai dengan adanya usaha/perjuangan untuk mereka komfirmasikan/ menyesuaikan terhadap ekspektasi (keinginan) dan kepercayaan kepada yang lain di dalam dunia sosial.
  • Revalation-Concealment Dialectic: banyak pandangan yang terjadi dalam konteks ini dimana jika ingin menjaga sifat, atau eksistensi diri masing-masing hubungan yang disembunyikan atau dirahasiakan dari yang lain dan sifat dari hubungan ini dibuat sangat umum, seperti dalam acara perkawinan yang membutuhkan komitmen bersama, karena diantara masing-masing ada yang disembunyikan dari yang lainnya.[20]
  1. TUAN GURU DAN DAKWAH TRANSFORMATIF PERSPEKTIF KOMUNIKASI RELASIONAL 
1.      Dakwah Sebagai Konsep Sistem Ala Alto Paolo.
Komunikasi insani merupakan gejala yang hampir selalu melibatkan manusia. Sebagai aktor komunikasi, baik perannya sebagai komunikator maupun komunikan, manusia merupakan sosok yang sarat dengan muatan nilai. Sesuatu nilai yang dianut manusia dapat bersumber dari budaya, tradisi, norma sosial yang berlaku dalam masyarakat, atau bahkan agama dan kepercayaan. Latar belakang nilai inilah yang kemudian ikut mempengaruhi faktor persepsi ketika seseorang memaknai simbol yang diterima sekaligus merumuskan pesan yang akan disampaikan. Karena itu, pesan dalam komunikasi selalu sarat nilai dan memerlukan suatu sistem yang sistematis. [21]
Dakwah seharusnya dipahami sebagai suatu sistem yang melibatkan proses Tahawwul wa taghayyur (transformasi dan perubahan), yang berarti sangat terkait dengan upaya taghyirul ijtima’iyyah (rekayasa sosial). Sasaran utama dakwah adalah terciptanya suatu tatanan sosial yang di dalamnya hidup sekelompok manusia dengan penuh kedamaian, keadilan, keharmonisan di antara keragaman yang ada, yang mencerminkan sisi Islam sebagai Rahmatan lilalamin.[22]
Dakwah transformatif bisa dilihat dari kandungan ayat al-Qur’an (Q.S. AL-A’raf : 157, Q. S. Ali Imran : 164), dengan formasi dakwah dalam empat dimensi.
لقد من الله على المؤمنين اذ بعث فيهم رسولا من انفسهم يتلوا عليهم اياته ويزكيهم و يعلمهم الكتاب و الحكمة وان كانوا من قبل لفى ضلال مبين –( سورة ال عمران-164)
  • Dimensi Tilawah ; membacakan ayat-ayat Allah atau Oral Communication, komunikasi lansung dengan publik.
  • Dimensi tazkiyah ; yaitu sugesti untuk melembagakan kebenaran dan keadilan sosial (amar ma’ruf) dan mendistorsi kejahatan dan kesenjangan sosial (nahi munkar).
  • Dimensi ta’lim ; mentransformasi pengetahuan kognitif kepada masyarakat, sehingga tercipta masyarakat yang  berpendidikan (educated people).
  • Dimensi Ishlah ; upaya untuk perbaikan dan pembaharuan dalam konteks keberagamaan yang lebih luas.
Dari empat formasi dakwah ini akan diharapkan dapat membawa pencerahan yanga memiliki semangat transformatif dan dapat dijadikan landasan untuk mewujudkan trilogi dakwah; pembentukan, restorasi dan pemeliharaan dan perubahan masyarakat islami.[23]
Dakwah transformatif adalah suatu model pendekatan dan metode dakwah yang tidak hanya mengandalkan dakwah verbal (konvensional) untuk memberikan materi-materi keagamaan kepada masyarakat, yang memposisikan da’i sebagai penyebar pesan-pesan keagamaan, tetapi juga menginternalisasikan pesan-pesan keagamaan ke dalam kehidupan riil masyarakat dengan cara melakukan pendampingan masyarakat secara langsung. Dengan demikian dakwah tidak hanya untuk memperkuat aspek religiusitas masyarakat melainkan juga memperkokoh basis sosial untuk mewujudkan transformasi sosial.[24]
Selain dakwah transformatif, dikenal juga istilah dakwah struktural. Dakwah struktural adalah segenap kegiatan yang dilakukan negara (pemerintah) dengan berbagai perangkatnya untuk mengkonstruksikan tatanan masyarakat sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya serta tidak terlepas dari lingkaran amar ma’ruf  (menyeru kepada kebaikan) dan nahy munkar(mencegah kemungkaran). Dengan demikian aktivitas dakwah mencakup seluruh segi dan aspek kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, sosial, ekonomi, politik dan aspek lainnya. Sehingga proses dakwah tidak terbatas pada dakwah di mimbar (bil lisan) saja, tetapi mencakup dakwah bil hal (yaitu dengan tindakan), bil hikmah (pendekatan keilmuan). Nabi menerangkan pentingnya dakwah struktural tersebut, beliau bersabda:
من راء منكم منكرا فليغيره بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطع فبقلبه فذلك اضعف الايمان- رواه البخارى و مسلم
 Artinya, barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran hendaklah ia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah dengan lisannya, jika tidak mampu juga hendaklah ia merubah dengan hatinya, yang demikian itu merupakan selemah-lemah iman.[25]
Perubahan dengan tangan maksudnya adalah dengan struktural, dimana negara dengan perangkatnya sangat mungkin untuk berperan sebagai pelaku dakwah (da’i), sedangkan dengan lisan maksudnya adalah dengan kultural, dan dengan hati maksudnya adalah perubahan dan mobilitas sosial.[26]
2.      Dakwah Mengedepankan Dialektik Internal Dan Eksternal.
Perubahan sosial yang diakibatkan oleh aktivitas komunikasi rasional atau dakwah Tuan Guru dalam berbagai aspek, mulai dari aktivitas lembaga pesantren yang dipimpinnya, sampai kepada metode, sistem, dan pendekatan dakwah yang dilakukannya kepada masyarakat, karena Tuan Guru dalam hal ini bisa dikategorikan sebagai pelopor perubahan sosial (agents of Change). Pelopor  perubahan penulis maksudkan, tuan guru yang dipercayai oleh masyarakat sebagai pemimpin dalam salah satu lembaga atau beberapa lembaga sosial. Orang seperti ini (tuan guru) mempelopori jalan meninggalkan masa lampau menuju zaman baru, yakni menetapkan kaidah  sistem baru atau yang diperbaharui yang diikuti oleh para anggota masyarakat lainnya berdasarkan otoritas sang pemimpin yang diakui.
Akses dari dakwah tuan guru dalam perubahan sosial titik tekannya pada keseimbangan sosial, yaitu syarat yang harus dipenuhi agar suatu masyarakat bisa berfungsi sebagaimana mestinya, dalam pengertian bahwa keseimbangan sosial atau ekuilibrum sosial, merupakan suatu situasi di mana segenap lembaga sosial utama berfungsi dan saling menunjang.[27]Dalam keadaan seperti ini tiap warga masyarakatbisa memperoleh ketentraman bathin karena tidak  ada konflik norma dan nilai dalam masyarakat.
Dakwah transformatif  dilakukan dalam dua metode, yaitu metode refleksi dan aksi. Daur refleksi dan aksi ini meniscayakan bahwa dakwah transformatif bukan sekedar dalam level verbal seperti pengajian, majlis taklim, ceramah dialog di radio dan televisi melainkan seorang da’i harus menyentuh persoalan-persoalan riil yang menjadi problema masyarakat, dimana tujuan esensi dari komunikasi itu tidak hanya pada perubahan sikap (attitude change), perubahan pendapat (opinion change), perubahan perilaku (behavioral change), tapi yang utama adalah terjadinya perubahan sosial dalam segala aspek (social change).[28]
Dalam upaya penerapan komunikasi relasional dialektik dapat diimplementasikan dalam aspek-aspek berikut ini :
Pertama: Dependency-indepedensi-Openness-privacy: Ketergantungan-kemandirian-Keterbukaan-kerahasiaan.
Tuan Guru dalam menjalankan misi dakwah harus mampu memiliki sifat ketergantungan kepada mad’uyang menjadi sasaran dakwah, sebab tanpa memiliki sifat ini dikhawatirkan Tuan Guru hanya sebatas memberikan materi dakwah yang bersifat konvensional. Dengan demikian dilektik komunikasi keterbukaan dan kemandirian akan mengarah kepada perubahan pada aspek materi dakwah, dari aspek materi yang disampaikan harus ada perubahan, yaitu dari materi ‘ubudiyah atau ukhrawi ke materi dakwah yang bersifat sosial.
 Dalam konteks ini, da’i dituntut untuk memperluas masalah isu-isu sosial yang terjadi dimasyarakat dan menjadi patologi sosial seperti korupsi, kolusi, nepotisme, penindasan, pelanggaran HAM dan lainnya. Perubahan yang lainnya adalah materi dakwah eksklusif ke materi dakwah inklusif, dimana da’i dituntut untuk menghilangkan sifat memojokkan atau memusuhi non-muslim, karena kecendrungan selama ini, da’i sering menyampaikan dakwah yang bernada permusuhan dengan agama lain. [29]
Kedua, Certainly-uncertainly dialectic : Dialektik pasti-tidak pasti ; level awal interaksi antara orang yang sudah diketahui dan orang lain dapat mengarahkan keinginannya untuk mereduksi yang tidak pasti/ jelas terhadap satu sama lainnya.
Teori dialektik ini menekankan pada aspek  metodologi, harus dilakukan perubahan dari monolog ke dialog.  Sebab interaksi ini tidak akan berjalan oftimal tanpa diawali dengan mengarahkan visi dari yang diajak bicara. Esensi dari teori ini adalah menformat dialog antara komunikan dan komunikator sehingga ada kejelasan visi dan isi dari kedua belah pihak.
Teori tersebut jika diterapkan kepada aspek dakwah, maka dakwah dengan monolog sering melakukan indoktrinisasi kepada jama’ah, padahal Islam juga menganjurkan dialog yang mampu memberikan pencerahan dengan komunikasi langsung dengan jama’ah sehingga da’i tahu masalah ummat yang sebenarnya. Dakwah dengan pendekatan dialog akan memancing keaktifan jama’ah untuk berpartisipasi dalam perubahan sosial yang berdimensi religius. Jika hanya mengandalkan pendekatan monolog, maka dakwah hanya mampu menghilangkan dahaga spiritual, bukan melakukan perubahan pemahaman, sikap dan prilaku sosial.
Ketiga, Affection-intrumentality dialectic: Dialektik kesenangan-instrumentalitas ; suatu dialiktik persahabatan seringkali terjadi antara menghargai teman sebagai teman versus memamfaatkan teman untuk tujuan lain.
Teori ini menekankan pada efektifitas komunikasi dalam membujuk komunikan untuk bekerja sama dalam kesepakatan.
Relevansinya dengan berdakwah adalah menggunakan institusi yang bisa diajak bersama dalam aksi. Dalam dakwah transformatif, institusi merupakan indikator penting untuk memuluskan jalan perubahan. Kekuatan dakwah transformatif bukan saja pada diri sang da’i, tetapi juga basis institusional yang dimilikinya, sehingga para da’i mempunyai bargaining position (posisi tawar) yang tinggi terhadap negara dan masyarakat.
Keempat, Convensional Unique Dialectic: Sugestinya bahwa relasi adalah ditandai dengan adanya usaha/perjuangan untuk mereka komfirmasikan/ menyesuaikan terhadap ekspektasi (keinginan) dan kepercayaan kepada yang lain di dalam dunia sosial.
Aplikasi teori ini dalam aspek dakwah Tuan Guru adalah ada wujud keberpihakan pada kaum mustad’afin (kaum lemah dan tertindas). Para da’i, harus melakukan usaha-usaha sosial untuk kepentingan kaum tertindas di daerahnya, seperti kasus penggusuran tanah, pencemaran lingkungan, nasib nelayan dan petani atau kasus lainnya.
Da’i melakukan pembimbingan dan pendampingan bahkan melakukan advokasi dan pengorganisasian masyarakat terhadap kasus-kasus dan problema sosial masyarakat.[30]
Dakwah sangat terkait dengan perubahan sosial. Upaya dakwah seharusnya diartikan sebagai suatu akitivitas yang membawa konsekuensi perubahan sosial yang terencana, bukannya perubahan sosial yang terjadi begitu saja. Seorang da’i oleh karenanya haruslah tahu apa yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial serta dampak-dampaknya.[31]
Kelima, Revalation-Concealment Dialectic: banyak pandangan yang terjadi dalam konteks ini dimana jika ingin menjaga sifat, atau eksistensi diri masing-masing hubungan yang disembunyikan atau dirahasiakan dari yang lain dan sifat dari hubungan ini dibuat sangat umum.[32]
Teori ini dapat diterapkan dalam dimensi saling keterikatan antara komunikan dan komunikator pada aspek perubahan sosial yang diinginkan bersama. Titik tekannya terlihat pada konsekwensi dari komunikasi yang dilakukan, baik komunikasi yang mengarah pada eksistensi diri maupun kepada masyarakat secara umum. 
Proses perubahan sosial yang dilakukan secara berencana dengan sasaran yang jelas akan membawa perubahan yang intensif dan ekstensif serta menyentuh nilai-nilai yang paling fundamental bagi umat Islam. Dakwah dalam hal ini dihadapkan dengan serangkaian permasalahan yang harus dijawab secara simultan dalam kerangka yang jelas. Di satu pihak dakwah Islam dipanggil untuk memberi rasa aman kepada pemeluknya atas gejala keterasingan, goncangan psikologis, kepastian hukum, ketidakmenentuan partisipasi politik, semakin hilangnya peran sejarah, lingkungan, hidup semakin sumpek untuk bernafas, serta dihantui oleh situasi internasional yang semakin tidak menentu dan mandulnya ilmu pengetahuan dalam mendatangkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur, di lain pihak dakwah Islam dihadapkan dengan permasalahan untuk mencari solusi  dari struktur yang semakin mencekam.
Perubahan sosial merupakan segala perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-sehari, acapkali tidak mudah untuk menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dengan kebudayaan. Hal itu disebabkan karena tidak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam masyarakat. Hal itu mengakibatkan bahwa garis pemisah di dalam kenyataan hidup antara perubahan sosial dan kebudayaan lebih sukar lagi untuk ditegaskan, tapi biasanya antara ke dua gejala itu, dapat diketemukan hubungan timbal balik sebagai sebab akibat.[33]
Raimond  Firth mengatakan perubahan dalam masyarakat dapat terjadi karena adanya penggerak-penggerak tertentu. Daya penggerak untuk proses-proses perubahan sosial itu dalam masyarakat datang dari dua sumber dari dalam dan dari luar. Sesuatu yang datang dari dalam adalah gerak yang berupa pendapatan-pendapatan baru di lapangan teknik, perjuangan-perjuangan perseorangan untuk memperoleh tanah dan kekuasaan, perumusan baru dari paham-paham orang-orang kritis yang dianugrahi bakat-nbakat istimewa. Sedangakan yang datang dari luar untuk sebagian terletak dalam lingkungan pergaulan itu sendiri dan untuk sebgaian lagi terletak dalam kekuatan ekspansinya  peradaban.[34]
Alvin. L. Bertrand berpendapat bahwa awal dari perubahan itu adalah komunikasi, yaitu proses dengan mana informasi disampaikan dari individu-individu yang satu ke individu yang lain. Maka yang dikomunikasikan itu tidakada lain adalah gagasan-gagasan, ide-ide atau keyakinan-keyakinan maupun hasil budaya yang berupa fisik  itu. [35] 
Perubahan sosial dapat dilaksanakan jika memiliki kekuatan pendorong (motivational force) di mana kekuatan pendorong itu dapat merubah masyarakat. Diantara kekuatan itu adalah: ketidak puasan terhadap situasi yang ada karena itu ada keinginan untuk situasi yang lain, adanya pengetahuan tentang perbedaan antara yan ada dengan yang seharusnya bisa ada, adanya tekanan dari luar untuk menyesuaikan diri dan lain-lain, kebutuhan dari dalam untuk mencapai efesiensi dan peningkatan, misalnya produkitifitas, dan lain-lain.[36]
Dengan pendekatan komunikasi relasional, diharapkan da’i mempunyai peran ganda yaitu melakukan aktivitas penyebaran materi keagamaan dan melakukan pendampingan masyarakat untuk isu-isu sosial seperti korupsi, kolusi, perusakan lingkungan hidup, dan menjadi advokasi terhadap pelanggaran hak rakyat oleh negara seperti kasus penggusuran, hak-hak perempuan, konflik antar agama, dan problem kemanusiaan lainnya. Oleh sebab itu, maka da’i disamping sebagai ahli agama juga harus mampu menjadi agen perubahan sosial.[37]
D.    PENUTUP
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa dakwah transformatif Tun Guru  berusaha melakukan misinya untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, lahir dan bathin. Upaya peningkatan kualitas kehidupan masyarakat ini dilakukan dengan membawa mereka kepada kehidupan yang islami, dengan meningkatkan  iman dan taqwa serta kemampuan dalam penguasaan ilmu teknologi. Dengan keunggulan jasmani dan ruhani ini, cita-cita menuju masyarakat adil dan makmur serta sejahtera lahir dan bathin dapat tercapai. Upaya dakwah transformatif ini, dengan begitu sesuai dengan misi penyebaran Islam, yakni untuk membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi dunia global (rahmatan lil alamin).[38]
Dalam konteks seperti itu, dakwah transformatif sangat berpeluang dan harus mengambil tanggung jawab dengan memegang peranan aktif. Dengan peran aktif Tuan Guru dalam pengembangan dakwah, maka pembangunan manusia Indonesia akan mendapatkan jaminan moralitas dan etika keagamaan sebagai landasannya. Jaminan moralitas dan etika keagamaan ini akan memberikan arahan pembangunan manusia Indonesia untuk melahirkan manusia yang unggul secara material dan spiritual. Sebaliknya, tanpa peran aktif aktor dakwah dalam hal ini Tuan Guru atau yang seprofesi dengannya, akan mengulangi pengalaman pahit dengan banyaknya penduduk, namun memiliki kualitas yang sangat rendah dalam kedua aspek tersebut.


[1]Istilah Tuan Guru dalam perspektif masyarakat Islam di pulau Lombok merupakan gelar atau title keagamaan yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang yang memiliki kapasitas keilmuan dalam bidang Agama secara mendalam, dan penamaan gelar ini tumbuh dari kalangan masyarakat itu sendiri  karna faktor-faktor spesifik yang dimiliki oleh sosok tokoh tersebut dan secara umum bahwa sosok yang disebut tuan guru memiliki pesantren dan basis masyarakat tertentu.
[2]Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigama dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, (Jakarta : Kencana, 2007), Cet. 2.h. 31. Lihat  juga penjelasannya pada buku,  Ketherine Miller, Communication Theories Perspective, Processes, and Contexts,(New York : McGraw Hill International Edition, 2005), second edition. h. 84. Lihat  juga, Stepehen W. Litteljohn & Karen A. Foss, Theories of Human Communication, (Belmots : Thomson Wadsworth, 2005), eight edition. h.154. Lihat juga, Wardi Bachtiar, Sosiologi Klasik Dari Comte Hingga Parsons, (Bandung : Rosda, 2006), cet.1, h. 239.
[3] Lombok Barat Jumlah penduduk muslimnya, 743.484 jiwa, Lombok Tengah : 793.440 jiwa, Lombok Timur: 1.033.669 jiwa, kota Mataram: 356.748. jiwa sehingga total penduduk muslim yang tinggal di pulau Lombok  berjumlah  2.897.331  jiwa. Sementara jumlah masyarakat muslim untuk pulau  Sumbawa berjumlah 1.245.951, Sumber : Survey Sosial Ekonomi Nasional, 2005.
[4]Sumber Data Emis Departemen Agama NTB, 2005 Kota Mataram 22 Ponpes Kab. Lombok Barat 72 Ponpes Kab. Lombok Tengah 87 Ponpes Kab. Lombok Timur 115 Ponpes Kab. Sumbawa 16 Ponpes Kab. Dompu 22 Ponpes Kab. Bima 26 Ponpes.
[5] Dalam data 2005 Kanwil Depag NTB, Lombok Barat dengan jumlah masjid 829, Lombok Tengah  1.229 masjid,  Lombok Timur, 1.574 masjid, kota Mataram 225 masjid.
[6] John Ryan Bartholomen mengatakan bahwa bila Lombok dicap sebagai ”sebuah pulau dengan 1000 masjid”  yang  mungkin  meremehkan  keberadaan sejumlah masjid kecil di pulau tersebut, pesannya jelas, Lombok sangat terkenal di Indonesia sebagai sebuah tempat Islam diterima secara serius dan tipe Islam yang dipraktekkan di sana pada umumnya agak kaku dan bentuknya ortodoks bila dibandingkan dengan kebanyakan daerah lain di negara ini. Lengkapnya baca, John Ryan Bartholomen,  Alif Lam Mim : Reconciling Islam, Modernity and Tradition in an Indonesian Kampung, 1999, cet.1. dalam edisi bahasa Indonesianya; Alif Lam Mim : Kearifan Masyarakat Sasak, (Yogyakarta : PT Tiara Wacana, 2001), cet. 1, h. 86.  
[7]Organisasi Islam yang paling dominan di NTB adalah organisasi Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikan  oleh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid  pada tahun 1952, yang dimana cikal bakal berdirinya organisasi ini berawal dari didirikannya Pondok pesantren Darul Mujahidin 1932 M pada zaman kolonial Belanda, tapi dalam perkembangan berikutnya, pesantren ini berubah menjadi Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) madrasah khusus untuk kaum pria, didirikan pada tahun 1935, dalam  selanjutnya didirikan madrasah khusus untuk kaum wanita yang disebut sebagai madrasah pertama di NTB  yang mendirikan lembaga pendidikan khusus untuk kaum wanita yang disebut Madrasah Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) pada tahun 1942 M. Dari dua madrasah induk ini menyebar cabang-cabangnya ke seluruh pelosok Lombok, sehingga perlu dibentuk suatu wadah yang mengorganisir madrasah-madrasah cabang di daerah-daerah, terbentuklah organisasi Nahdlatul Wathan (NW) sebagai lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, sosial dan dakwah islamiyah. (lihat, Moh. Noer, dkk, Visi Kebangsaan Religius TGKH M.Zainiddin Abdul Majid, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2005, cet. 1. h. 35, lihat juga, Abdul Hayyi Nu’man & Sahafari As’ary, Organisasi Nahdlatul Wathan Di Bidang Pendidikan, Sosial dan Dakwah Islamiyah, (Pancor : Toko Buku Kita)1984, cet.1.h.12.
[8] Keterangan lengkap tentang potensi SDA dijelaskan secara rinci pada Katalog BPS : 2108 : 52, Tentang Statistik Potensi Desa Provinsi NTB, 2005
[9] Zaini Arroni dalam Statistik Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora NTB) 2005
[10] Sumber Kanwil Dikpora NTB, 2005
[11] Sumber Badan Pemberdayaan Masyarakat NTB, 2006
[12] Sumber Kakanwil Departemen Kesehatan, 2006
                     [13] Penelusuran terhadap beberapa peristiwa konflik yang pernah terjadi di NTB, khususnya di Pulau Lombok berdasarkan pengalaman (insight). Penelusuran peristiwa tersebut menggunakan metode survei terhadap kasus-kasus yang pernah terjadi dan dilengkapi dengan literatur dan riset yang pernah dilakukan. Lokasi riset dilakukan di sekitar Kabupaten-kabupaten yang ada di pulau Lombok. Lokasi-lokasi yang mewakili daerah konflik adalah: 1. Konflik pernah terjadi dan berulang ; Karang Tapen (Sasak/Islam), Karang Lede (Bali/Hindu), Kampung Petemon (Sasak/Islam),  Karang Genteng (Sasak/Islam). 2. Konflik pernah terjadi tapi tidak muncul lagi; Desa Kediri (Sasak/Islam),  Desa Jagerage (Bali/Hindu).3. Harmoni; Desa Lembuak, Narmada (Sasak/Islam-Bali/Hindu), Kampung Jawa, Praya, Lombok Tengah dan sekitarnya (Sasak, Jawa dan ٍSٍٍumbawa/Islam–Bali/Hindu-Tionghoa/Kristen dan Kong Hu Cu).
[14]Kenyataan perubahan sosial yang terjadi dewasa ini lain sekali sifatnya dengan perubahan yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Kelainan ini telah menempatkan sistem dakwah dipengaruhi oleh perubahan sosio-kultural. Ciri yang menonjol bahwa perubahan yang terjadi dewasa ini adalah diawali oleh discovery, invention dan innovation dalam bidang ilmu dan teknologi. Penerapan ilmu dan teknologi ini menjadi penggerak perubahan yang dilatarbelakangi oleh keinginan kebutuhan material. Dalam kerangka ini secara filosofis nilai penggerak perubahan  adalah filsafat materialism  yang begitu jauh mewarnai indikator kemajuan mayarakat yang sedang berkembang yang melaksanakan perubahan melalui pembangunan. Jargon kemiskinan-kemakmuran, keterbelakangan-kemajuan dipahami dalam ukuran material belaka. Aspek spiritual dan religius tidak menjadi ukuran untuk menentukan pembangunan suatu bangsa. Sehingga pertumbuhan ekonomi nyaris menjadi ideologi  yang menentukan semua perilaku masyarakat. (Baca:Abdul Munir Mulkan, Runtuhnya. ibid. h. 245).
[15] Ketherine  Miller, Communication Theories Perspective, Processes, and Contexts, (New York : McGraw Hill International Edition, 2005 ), Second Edition, h. 187.
[16] Kebanyakan teoritisasi hubungan mengakui pentingnya hasil karya Gregory Bateson, Paul Watziawick, dan kolega-kolega mereka pada tahun-tahun awal dari studi komunikasi interpersonal. Para pengikut awal Bateson dikenal dengan kelompok Palo Alto, karena mereka mendirikan dan bekerja di Mental Research Instituteyang berpangkal di Palo Alto, California. Pemikiran- pemikiran mereka paling jelas diuraikan dalam Pragmatics of Human Communication. Dalam buku itu, Paul Watslawick, Janet Beavin, dan Don Jackson mengemukakan sebuah analisis yang terkenal tentang komunikasi yang didasarkan pada prinsip-prinsip Sistem.Sistem ada enam hal : Objek, Atribut, Interaksi, Lingkungan, Equifinality, Cybernetic. (lihat Miller, Communication,   h. 187 )
[17]Katherine Miller, Communication. h. 194.
[18] Syiclic ; Perkembangan hubungan yang bergerak dalam lingkaran bolak balik. Dialictic ; Ketegangan antara dua orang atau lebih dalam elemen yang bertentangan dari suatu sistem yang menuntut setidaknya suatu penyelesaian sementara. Analisis Dealictic; melihat cara-cara sistem berkembang atau berubah, bagaimana ia bergerak, dalam menanggapi kontradiksi dan bagaimana ia melihat tindakan-tindakan strategis yang diambil oleh sistem untuk menyelesaikan kontradiksi. Dualism ;Ketegangan (oposisi)dari dua hubungan kutub yang tidak bisa eksis bersama. Totality ; Konsep totalitas; kembali kepada dugaan, perkiraan bahwa ketegangan/kontradiksi dalam hubungan merupakan bagian yang menyatu dalam keseluruhan dan tidak bisa dipahami jika dipisah-pisahkan. Implikasinya adalah dapat disepakati dengan cepat atau tidak bisa dipisahkan dari  yang lain. (Lihat Miller, Communication…h.198)
[19] Lihat Miller, Communication, h.198.
[20] Katherine Miller, Communication. h.199. untuk pola penerapan dialiktik komunikasi relasional dapat dijabarkan sebagai; Danial: Kelaim bahwa ketegangan itu tidak ada, Pasangan suami-istri yang selalu senang dan selalu ingin bersama. Disorientation; Mengadopsi kebiasaan yang fatal dalam ketegangan adalah diakui sebagai suatu yang tidak dapat dihindarkan. Spiraling Invension (tekanan): Pola kontradiksi ini dominan pada berbagai permintaan setiap saat, dan ada pasang surut antara dua pola dialektik. Segmentation: Masing-masing pola kontradiksi itu dominan tergantung pada sifat tofik  atau wilayah kegiatan. Balance :Masing-masing pola diligitimasi dalam kompromi guna mencairkan pola ketegangan yang terjadi. Integration: Bagian relasional dapat diterima secara penuh terhadap opposan dalam satu waktu tanpa diawali dengan kompromi atau pencairan suasana. Recalibration : Pola dialektik ditransformasi dalam situasi yang khusus sehingga mereka tidak terlalu lama diakui/disadari sebagai perlawanan. Reaffirmation:Ketegangan atau perlawanan pola dialektik dapat dijadikan dalam memperkokoh dan menambah kekayaan dalam menjalin hubungan. ( Miller, Ibid.h.135).
[21] Santoso S. Hamijoyo, Komunikasi Partisipatoris : Pemikiran dan Implementasi Komunikasi dalam Pengembangan Masyarakat, ( Bandung : Humaniora, 200) cet. 1. h. 1.
[22]Moh. Ali Aziz, Rr. Suhartini, A. Halim (editors), Dakwah Pemberdayaan Masyarakat: Paradigma Aksi Metodologi,( Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), cet. 1, h. 26.
[23] Pembacaan seperti ini penulis sadur dari berbagai macam refrensi tentang dakwah.seperti dalam buku, Jum’ah Amin Abdul Aziz, Al-da’wah Qawaid Wa Ushul, (Mesir : Dar al-Mishriyah) ttp. h.123. yang menjabarkan tiga hal yang dicakup dalam dakwah ; pertama ; membangun masyarakat islami (ta’sis al-mujtma’ al-islamy).  Kedua, melakukan restorasi pada masyarakat Islam (al-ishlah fi mujtama’al-muslimah). Ketiga, kesinambungan dakwah pada masyarakat Islam (istimrar al-da’wah fi al-mujtmi’at al-qoimah bi al-haq). 
[24]Mustafa Hamdi (editor), Dakwah Tranformatif, (Jakarta: PP Lakpesdam NU, 2006), h. 4.
[25] Lihat Shahih Buhkari Muslim.
[26] M. Jakfar Puteh, Dakwah Tekstual dan Kontekstual; Peran dan Fungsinya Dalam Pemberdayaan Ekonomi Ummat (Jogjakarta: AK. Group, 2006). h. 145.
[27]Selo Seomardjan,  Perubahan Sosial di Yogyakarta, (Yogyakarta : UGM Press), 1986, cet. 2, h. 306.  Lihat  juga redaksi aslinya, Selo Seomardjan,  Social Changes in Jogjakarta,  (Itacha New York : Cornell University Press, 1962), h. 379.
[28]Jumroni & Suhaimi,  Metode-metode Penelitian Komunikasi,  (Jakarta : UIN Press), 2006 cet.1, h.6
[29] Mustafa Hamdi (editor), Dakwah Transformatif , (Jakarta : Lakpesdam NU), 2006, cet.1.
[30]Mustafa Hamdi (editor), ibid., h.12. Dalam konteks inilah, Hasan al-Banna mengilustrasikan bahwa seorang da’i ibarat gardu listrik yang menyebarkan aliran listrik untuk menerangi seluruh pelesok dan sudut kota. Oleh sebab itu tugas dan tanggung jawab da’i adalah menyampaikan sinar dan cahaya Islam tersebut ke segenap lapisan masyarakat. Lihat, Suf Kasman, ibid., h. 127.   
[31]Perubahan sosial dapat dibayangkan sebagai perubahan yang terjadi di dalam atau mencakup sistem sosial, lebih tepatnya terdapat perbedaan antara sistem tertentu dalam jangka waktu berlainan. Lebih lanjut, berbicara tentang perubahan kita membayangkan suatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu, kita berurusan dengan perbedaan keadaan sistem dalam jangka waktu tertentu. Untuk dapat menyatakan perbedaannya ciri-ciri awal unit analisis harus diketahui dengan cermat, meski terus berubah, sehingga perubahan sosial adalah setiap perubahan yang tak terulang lagi sistem sosial sebagai satu kesatuan.  Lihat, Piotr Sztompa, Sosiologi Perubahan Sosial, (Jakarta: Prenada, 2007), Cet. 3.h. 3
[32]Katherine Miller, Communication. h.135. untuk pola penerapan dialiktik komunikasi relasional dapat dijabarkan sebagai: Danial: Kelaim bahwa ketegangan itu tidak ada, Pasangan suami-istri yang selalu senang dan selalu ingin bersama. Disorientation; Mengadopsi kebiasaan yang fatal dalam ketegangan adalah diakui sebagai suatu yang tidak dapat dihindarkan. Spiraling Invension (tekanan): Pola kontradiksi ini dominan pada berbagai permintaan setiap saat, dan ada pasang surut antara dua pola dialektik. Segmentation:Masing-masing pola kontradiksi itu dominan tergantung pada sifat tofik  atau wilayah kegiatan. Balance:Masing-masing pola diligitimasi dalam kompromi guna mencairkan pola ketegangan yang terjadi. Integration: Bagian relasional dapat diterima secara penuh terhadap opposan dalam satu waktu tanpa diawali dengan kompromi atau pencairan suasana. Recalibration : Pola dialektik ditransformasi dalam situasi yang khusus sehingga mereka tidak terlalu lama diakui/disadari sebagai perlawanan. Reaffirmation:Ketegangan atau perlawanan pola dialektik dapat dijadikan dalam memperkokoh dan menambah kekayaan dalam menjalin hubungan. ( Miller, Ibid.h.135).
[33]Soerjono Seokanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta : PT. Raja Grafindo, 1999), edisi Baru ke-4, cet.27 h. 388.
[34] Raymin Firth, at all, Ciri-Ciri dan Alam Hidup Manusia : Suatu Pengantar Antropologi Budaya, (Bandung : Sumur Bandung, 1960), cet.1, h.143.
[35]Alvin. L. Bertrand, Sosiologi, alih bahasa Sanapiah S. Faisal, (Surabaya : PT Bina Ilmu, 1980), h.161. Lihat juga, Soloman B Taneko, Struktur dan Proses SosiaL : Suatu Pengantar Sosiologi Pembanguan, (Jakarta : CV Rajawali, 1984),  cet.1. h. 135.
[36] Alvin. L. Bertrand, Sosiologi, h. 137.
[37]Dalam konteks inilah seorang da’i harus berperan sebagai kekuatan perantara (intermediary forces) bagi permasalahan sosial ummat, di samping tugasnya sebagai apa yang disebut oleh Clifford Geertz sebagai peran makelar budaya (cultural broker) yang harus menyeleksi dan mengarahkan nilai-nilai budaya yang akan memberdayakan masyarakat. Lebih lengkapnya tentang peran da’i sebagai kekuatan perantara, baca hasil penelitian Hiroko Horikoshi di Garut, Kyai dan Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M, 1987) 
[38] Q.S. al-Anbiya’ :  107

Share this post

2 thoughts on “DAKWAH TRANSFORMATIF TUAN GURU DI LOMBOK ( STUDI KOMUNIKASI RELATIONAL)